We are Enough

 

FAMM Indonesia bekerja sama dengan Kojigema Institute melakukan webinar dengan tema Membangun Citra Kecantikan dan Tubuh yang Positif melalui Google Meet pada tanggal 3 Juli 2020. Webinar ini diikuti oleh 30-35 peserta, 80 persennya adalah perempuan.

Rere Agistya, dara kelahiran November 1992, dipercaya sebagai narasumber dengan Niken Lestari sebagai moderator. Rere adalah seorang aktivis hak-hak LGBTIQ yang berkegiatan di Sanggar Swara, dulunya bernama SWARA (Sanggar Waria Remaja). Rere beberapa kali mengikuti berbagai pelatihan dan menjadi fasilitator tentang SOGIE (Sexual Orientation and Gender Identity and Expression).

Rere berbagi pengalamannya membangun citra kecantikan dan tubuh yang positif. Sejak SD, Rere sering menjadi obyek perundungan guru dan teman sekolah karena dia berbeda. Sebagai seorang transpuan, ekspresi gender Rere dianggap sebagai penyimpangan dari tubuh laki-lakinya. Akibatnya sejak kecil sampai dewasa, Rere kerap mengalami body shaming dan perundungan. Dampaknya adalah korban perundungan mengalami gangguan kesehatan seperti bulimia, depresi, dan anoreksia.

Orang yang memiliki citra tubuh buruk selalu tidak percaya diri, merasa minder, mudah emosi karena tidak bisa menerima keadaan dirinya sendiri sehingga menarik diri dari pergaulan. Dampaknya adalah orang dengan citra tubuh negatif menjadi tidak produktif baik di sekolah maupun di dunia kerja.

Berbagai cara dilakukan orang untuk mendapatkan citra tubuh yang ideal. Rere berbagi pengalaman temannya yang kerap memakan gulungan kapas steril agar merasa kenyang kemudian meminum jus orange yang bersifat asam. Tindakan ini tidak sehat bagi lambung.

Membangun citra kecantikan dan tubuh yang positif dimulai dengan penerimaan diri. Konsep ini biasanya dikaitkan dengan istilah coming in dalam komunitas LGBTIQ, tetapi dapat dipakai lebih luas ke individu yang mengalami perubahan fisik drastis. Misalnya seseorang yang terlahir dengan tubuh yang baik kemudian mengalami kecelakaan dan menjadi penyandang disabilitas. Bisa pula seseorang yang mengalami penyakit kanker sehingga mengalami perubahan tubuh drastis secara fisik dan psikis. Dengan kata lain, banyak individu yang harus mengalami dan melalui tahap penerimaan diri. Terutama karena berbagai perubahan secara fisik tersebut memiliki stigma di masyarakat.

Rere menekankan bahwa masih banyak psikolog dan psikiater yang menilai LGBTIQ sebagai kelompok yang mengalami gangguan kejiwaan. Banyak psikolog yang memberikan terapi konversi sehingga kelompok transgender disarankan untuk sholat 5 waktu, diruqyah, atau didoakan oleh pendeta. Hal ini dialami oleh Fikri, seorang transman dan aktivis dari Kojigema Institute. Setelah beberapa lama mengkonsumsi obat penenang dari psikiater, dia beralih dengan cara lain yaitu melakukan olahraga dan menjaga pola makan sehat.

Webinar ini punya makna secara personal yang mendalam bagi penulis yang pernah mengalami pelecehan seksual, membenci tubuh sendiri, merasa depresi, sampai akhirnya dapat menerima diri sendiri. Prosesnya sangat panjang dan penuh dengan tekanan dari berbagai pihak; keluarga, media, dan sistem pendidikan. Rere juga mengingatkan bahwa proses menerima diri sendiri bukan perjalanan singkat dan biasanya menyakitkan. Namun, itu bisa dilalui. Salah satu caranya adalah dengan membekali diri dengan berbagai pengetahuan tentang hak seksual dan reproduksi melalui berbagai pelatihan dan webinar, mengelilingi diri dengan orang-orang yang berpikir terbuka dan positif, dan mengapresiasi diri sendiri setiap hari.

Di akhir webinar, Rere memotivasi seluruh peserta untuk dapat menerima diri sendiri dengan baik. Seperti yang disampaikan oleh seorang peserta bernama Ricky, “Aku mendapatkan apa yang aku inginkan, diriku sendiri.” Tidak ada yang lebih menguatkan sampai kita menyadari bahwa, “We are enough.”