Suara Perempuan Harus Didengar: Melawan Ekstraktivisme dari Kampung hingga Ruang Digital

Di Indonesia, ekstraktivisme kerap dipahami sebagai perkara tambang, pabrik semen, konsesi hutan, atau perkebunan skala raksasa. Tetapi sebenarnya ini bukan sekadar rangkaian proyek industry, tapi cara melihat dunia. Dalam logika ekstraktivisme, tanah dianggap bahan mentah, laut dilihat sebagai kolam ikan yang tak akan pernah kering, sungai diperlakukan seperti selokan raksasa, sementara udara dianggap sanggup menelan polusi tanpa batas. Pembangunan lalu dipersepsikan sebagai deret angka pertumbuhan ekonomi, bukan sebagai kualitas hidup manusia. Di balik jargon kemajuan, ada retakan yang diam-diam membesar dalam kehidupan masyarakat: hilangnya ruang hidup, terputusnya pengetahuan lokal, dan runtuhnya keseimbangan antara manusia dengan alam.

Kerusakan semacam ini jarang berlangsung dalam bunyi yang meledak. Ia terjadi perlahan, seperti cat tembok yang terkelupas di sudut ruangan. Ketika eksplorasi tambang dimulai, kualitas air turun perlahan. Ketika hutan dibuka, siklus pangan tidak lagi konsisten. Ketika udara dipenuhi debu halus, tubuh manusia mulai melemah tanpa sadar. Perempuan berada di garis depan menghadapi akibatnya. Mereka yang mengurus makanan, air bersih, dan kesehatan keluarga harus menempuh jarak lebih jauh untuk mengambil air, membayar lebih mahal untuk sayur, atau merawat anggota keluarga yang sakit karena infeksi pernapasan. Beban ini tidak pernah masuk dalam laporan keuangan atau rilis media. Mereka memikulnya dalam bentuk waktu yang hilang, tenaga yang habis, dan kecemasan yang tidak pernah tercatat.

Di banyak komunitas pedesaan, perempuan menyimpan pengetahuan ekologis yang lahir dari pengalaman sehari-hari. Mereka memahami kapan hujan datang terlambat, kapan daun jati mulai rontok tak wajar, kapan tanah terasa lebih kering saat diinjak. Pengetahuan itu bukan teori, bukan tabel, dan bukan seminar. Ia berakar dari relasi bertahun-tahun dengan pohon, tanah, dan air. Namun ketika keputusan besar dibuat, ruang diskusi justru didominasi para pemilik modal, pejabat laki-laki, dan “tokoh desa” yang dianggap sah secara administratif. Forum konsultasi publik menjadi ritual yang menyisihkan suara yang paling dekat dengan kenyataan. Padahal perempuan sering menyimpan indikator krisis yang jauh lebih dini daripada grafik atau laporan ilmiah. Ketika suara mereka diabaikan, bencana lingkungan hampir selalu datang terlambat dan terlalu mahal untuk dicegah.

Perlawanan terhadap ekstraktivisme tidak selalu lahir dalam bentuk orasi di depan kantor pemerintah atau gugatan di pengadilan. Di banyak daerah, perempuan membangun ruang alternatif yang lahir dari kebutuhan hidup: kebun organik kecil di halaman rumah, pertukaran bibit antar tetangga, kelompok belajar lingkungan, hingga jaringan dokumentasi kerusakan. Mereka tidak menanam sayur untuk hobi, melainkan untuk memastikan keluarga tetap punya pangan tanpa bergantung pada rantai pasok yang rapuh. Mereka mendirikan bank bibit bukan karena tren, tetapi karena tahu bahwa ketergantungan pada benih korporasi membuat generasi berikutnya kehilangan kendali. Di tangan mereka, perlawanan bukan peristiwa sesaat, melainkan proses panjang yang menjaga martabat hidup.

Di ruang digital, gerakan ini berkembang menjadi ekosistem baru. Media sosial membuka jalan bagi perempuan untuk berbicara tanpa harus menunggu panggilan rapat desa atau izin pihak perusahaan. Mereka mengunggah foto sungai yang keruh, mengarsipkan perubahan warna air, merekam suara mesin tambang pada tengah malam. Setiap unggahan menjadi bukti kecil, tetapi ketika dikumpulkan ia menjelma peta kerusakan yang sulit dibantah. Di sini, pengalaman hidup diterjemahkan menjadi pengetahuan publik. Ruang digital tidak hanya menjadi tempat berkeluh kesah, tetapi menjadi sarana solidaritas, pelaporan, dan pendidikan ekologis. Suara yang pada awalnya dianggap sepele akhirnya mengubah arah percakapan publik.

Perlahan, masyarakat belajar bahwa melawan ekstraktivisme bukan hanya soal membela alam. Ia adalah perjuangan moral untuk membela kehidupan. Pembangunan yang mengabaikan keberlanjutan selalu menyasar kelompok yang paling dekat dengan praktik perawatan: perempuan, anak-anak, lansia. Ketika sungai tercemar, perempuan harus mencari sumber air baru. Ketika udara beracun, mereka menjadi perawat bagi tubuh-tubuh lemah di rumah. Ketika tanah tidak lagi produktif, mereka harus menyusun ulang strategi pangan keluarga. Ekstraktivisme tidak sekadar merusak lingkungan, ia menghapus waktu hidup perempuan.

Ada paradoks yang sering dilewatkan. Ekstraktivisme menjanjikan masa depan cerah dan cepat, tetapi ia merampas masa depan generasi berikutnya. Perempuan justru bekerja dalam ritme waktu yang panjang. Mereka menanam untuk musim depan, menyimpan benih untuk tahun depan, mengajarkan kepada anak tentang hujan dan sungai. Dalam ritme inilah perlawanan menemukan daya: tidak spektakuler, tidak mudah difoto, tetapi kukuh. Mereka membangun kehidupan sedikit demi sedikit, seperti menenun kain yang benangnya tipis. Ketika tenunan itu selesai, ia menjadi struktur kuat yang menantang logika ekstraktivisme.

Melawan ekstraktivisme berarti menata ulang cara memandang bumi. Alih-alih objek produksi, alam dipahami sebagai ruang hidup yang mencipta keseimbangan. Narasi ini bukan sekadar wacana kesetaraan gender. Ia adalah panggilan etis yang menempatkan perempuan sebagai kompas perubahan. Suara mereka bukan dekorasi dalam pidato, tetapi bahan baku pemahaman baru. Di dapur, di sungai, di ladang, di ruang komentar media sosial, perempuan telah sejak lama mencatat perubahan yang jarang diperhitungkan. Mereka bukan data tambahan. Mereka adalah saksi utama yang menyadari kapan bumi mulai sakit. Ketika pengalaman itu dihimpun, ia berubah menjadi arsip perlawanan yang lahir bukan dari teori, melainkan dari kehidupan yang mereka rawat setiap hari.

Penulis : Khairah El Marwiah

Referensi

Aman, Muhammad. Ekologi Politik dan Pembangunan. Jakarta: LP3ES, 2017.

Crutzen, Paul J., dan Will Steffen. “The Anthropocene: Are Humans Now Overwhelming the Great Forces of Nature?” AMBIO 36(8), 2007.

Edelman, Marc. Peasantry, Agrarianism and Global Capitalism. Routledge, 2021.

Federici, Silvia. Re-enchanting the World: Feminism and the Politics of the Commons. PM Press, 2018.

Tsing, Anna Lowenhaupt. The Mushroom at the End of the World. Princeton University Press, 2015.

Zainal, Ihsanuddin. Ekstraktivisme dan Krisis Ruang Hidup di Indonesia. Yogyakarta: INSIST Press, 2020.

Share this post

Leave A Comment

Your Comment
All comments are held for moderation.