Sejarah Hari Perempuan Internasional

International Women’s Day yang disingkat IWD atau Hari Perempuan Internasional adalah hari di mana perempuan diakui atas prestasi mereka tanpa memandang adanya konflik, baik secara nasional, etnis, linguistik, budaya, ekonomi maupun politik, sekaligus melihat lebih dalam berbagai permasalahan yang masih dihadapi perempuan.
Perjalanan lahirnya International Women’s Daypun memiliki perjalanan yang cukup panjang. IWD pertama diinisiasi oleh Partai Sosialis Amerika Serikat untuk memperingati hari demonstrasi yang dilakukan oleh pekerja buruh perempuan di New York pada 8 Maret 1908 yang menuntut hak berpendapat dan berpolitik.
Pada tahun 1990, Organisasi Sosialis Internasional berkumpul di Kopenhagen untuk menetapkan Hari Perempuan. Pertemuan tersebut juga bertujuan untuk membangun dukungan dari masyarakat dunia dan mengapresiasi segala gerakan yang memperjuangkan hak-hak perempuan, termasuk agar perempuan mendapatkan hak pilih secara universal. Usulan tersebut mendapat persetujuan 100 perempuan dari 17 negara. Beberapa di antaranya adalah tiga perempuan pertama yang terpilih dalam Parlemen di Finlandia. Tetapi di tahun itu belum keluar tanggal yang pasti untuk memperingati International Women’s Day.
Selanjutnya, Sejumlah negara seperti Austria, Denmark, Jerman, dan Swiss telah menentukan IWD pertama pada 19 Maret 1911, jutaan perempuan dan laki-laki turun ke jalan untuk melakukan demonstrasi. Mereka menuntut hak untuk memilih, memperoleh kesempatan menjadi pejabat publik, menuntut hak perempuan untuk bekerja, mendapat pelatihan kejuruan, dan mengakhiri diskriminasi dalam melakukan pekerjaan.
Pada 1913-1914, Hari Perempuan juga menjadi sebuah bentuk protes terhadap Perang Dunia I. Sebagai bagian dari gerakan damai, perempuan Rusia melaksanakan International Women’s Day pada hari Minggu terakhir di bulan Februari. Di Eropa, para perempuan merayakannya pada sekitar tanggal 8 Maret di tahun yang sama. Mereka melakukan rally untuk memprotes perang atau mengekspresikan solidaritas bersama aktivis lain.
8 Maret 1917, Perempuan Rusia kembali melakukan kegiatan yang dikenal sebagai aksi Bread and Peace pada tanggal 8 Maret 1917. Aksi tersebut bertujuan untuk mengakhiri kelaparan dan peperangan yang terjadi di negara mereka. Mereka membawa papan bertuliskan slogan protes dan suara yang ingin disampaikan. Seruan ‘Bread and Peace’ terdengar menggaung di sepanjang jalan di Rusia. Empat hari setelah aksi tersebut, Tzar (gelar untuk raja Slavia Timur dan Selatan atau penguasa tertinggi di Eropa Timur) turun dari jabatannya dan memberikan perempuan hak untuk memilih. Sehingga pada 1917, PBB mulai secara rutin merayakan International Women’s Day di tanggal 8 Maret.
Sebagai sebuah refleksi, penentuan tanggal yang rumit ini seakan mengisyaratkan bahwa perempuan sejak dulu harus menempuh waktu yang lama untuk bisa didengar. Mereka harus melakukan berbagai aksi dan memberikan dampak perubahan secara nyata baru kemudian mereka mendapat tanggal resmi kapan perempuan di seluruh dunia bisa merayakan hari spesial.
Dikutip dari Indonesia Business Coalition for Women Empowerment (IBCWE), World Economic Forum pada November 2017 menyimpulkan bahwa tidak ada satupun negara di dunia yang berhasil menutup kesenjangan gender ekonomi.
Kesenjangan yang dimaksud meliputi partisipasi dan kesempatan ekonomi perempuan, capaian pendidikan, kesehatan dan kelangsungan hidup, serta pemberdayaan politik. Upaya pencapaian kesetaraan gender di dunia kerja berdasarkan empat kategori tersebut di 106 negara yang masuk dalam survei ini diprediksi membutuhkan waktu hingga 100 tahun.
Dikutip dari Vogue UK, Dr. Shola Mos-Shogbamimu, pendiri dari Women in Leadership, sebuah inisiatif dari Women in Leadership Global Foundation, perusahaan amal di Inggris & Wales, mengatakan jika peringatan secara rutin sangat dibutuhkan untuk mengetahui seberapa besar peran perusahaan, bisnis, dan komunitas dalam memberikan keadilan dan memperlakukan perempuan.
Pada 2011, mantan Presiden AS Barack Obama menetapan Maret sebagai ‘Bulan Sejarah Perempuan’. Sederhananya, aksi tersebut merupakan representasi protes kesetaraan gender yang sampai saat ini masih timpang. Secara global, taraf pendidikan, kesehatan, posisi perempuan masih lebih rendah daripada laki-laki. Sementara, angka kekerasan seksual terhadap perempuan semakin bertambah.
Tahun 2020 merupakan tahun yang penting untuk kesetaraan gender. Salah satunya momentum peringatan ke 25 Deklarasi dan Platform Aski Beijing, lalu tepat 10 tahun berdirinya Perempuan PBB, dan peringatan 20 tahun resolusi Dewan Keamanan PBB 13225 tentang perempuan, perdamaian dan keamanan.
Oleh karena itu, agar perempuan bisa didengar dan memperoleh hak-haknya dibutuhkan usaha dan kekuatan yang besar dari seluruh lapisan masyarakat di dunia. Salah satu caranya adalah dengan mendukung dan merayakan semua kegiatan yang memiliki misi penting bagi perempuan, termasuk International Women’s Day.

Share this post

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on print
Share on email

Leave A Comment

Your Comment
All comments are held for moderation.