Maskulinitas Militer dan Maskulinitas Negara

 

Artikel ini merupakan substansi dari hasil diskusi dalam Webinar yang dilakukan UNDP dan UN Women, 28 Mei 2020 tentang sebuah Peluncuran Studi dengan tema Maskulinitas, Feminitas dan Kekerasan oleh Ekstremis di Asia oleh UNDP dan UN Women. Kegiatan ini mempertemukan para akademisi dan praktisi dari LSM lokal dengan para penulis “Identitas Konflik” – sebuah studi bersama antara UNDP dan UN Women, yang didanai oleh Uni Eropa dan Pemerintah Jepang untuk mengeksplorasi bagaimana struktur kekuatan gender yang tidak setara memicu dan membentuk ekstremisme kekerasan di Asia, dan apa yang dapat dilakukan untuk mengatasi tantangan ini dalam praktik. Pemateri dalam webinar ini diantaranya: Katherine E. Brown, David Duriesmith, Farhana Rahman, Jacqui True Selahuddin Y. Hashim, Ruby Kholifah, satu pembicara dari Sri Lanka.

Maskulinitas, feminitas dan kekerasan merupakan hal yang menarik untuk dibicarakan. Maskulinitas dan feminitas merupakan dua kata yang seringkali dihubungkan dengan ciri-ciri, sifat dan karakter dari gender tertentu, maskulin diartikan sebagai bersifat jantan atau jenis laki-kaki, sementara feminine diartikan sebagai bersifat kewanitaan, mengenai atau menyerupai wanita. Yang menarik dari maskulinitas, karena ia bersifat jantan, ia akan lebih dekat dengan kekerasan, dibanding feminitas itu sendiri. Sehingga dalam masyarakat patriarki, maskulinitas dan kekerasan terus hidup dan progressif, apalagi jika diberi ruang dalam struktur militer dan negara. Keduanya saling berhubungan, karena maskulinitas yang dibangun berdasarkan kekuasaan struktural, paksaan dan mempromosikan kekerasaan, kita sering menyebutnya dengan militarized masculinity dan state masculinity (kekerasan militer dan kekerasan negara).

Misalnya, dampak menghadapi pandemi COVID-19, maskulinitas yang hidup dalam Negara adalah digunakannya militer dan semakin intens kasus kekerasan berbasis gender (KBG) terjadi. Ada anggapan bahwa militer dianggap lebih efisien dalam mendisiplinkan masyarakat meskipun tidak ada transparansi. Akan tetapi, hal prioritas seperti KGB dan peran perempuan dalam kesehatan di akar rumput tidak dibicarakan di tingkat Negara, karena Negara lebih banyak membicarakan dampak ekonomi. Hal ini menunjukan bahwa isu perempuan kurang mendapat perhatian bagi masyarakat dan negara maskulin.

Dalam masyarakat patriarki, maskulinitas patriarkal tidak hanya hidup di tingkat individu, akan tetapi juga hidup dalam suatu kelompok dan lebih penting membentuk peran kelompok. Kelompok tersebut membentuk nilai maskulin tertentu, siapa pendukungnya, bagaimana cara kerjanya, bagaimana imej mereka di masyarakat, dan bagaimana imej itu dibangun berdasarkan mitos atau kepercayaan yang terinternalisasi di masyarakat menjadi sebuah narasi maskulinitas negatif (toxic masculinity) sebagai basis untuk memperoleh kepercayaan pengikut dan membuatnya sebagai realitas atau kebenaran. Karena berupa mitos atau kepercayaan tertentu, hal ini merupakan kesadaran palsu yang diciptakan dan bersebrangan dengan fakta ilmiah atau fakta di lapangan.

Dalam hal ini, kelompok fundamentalis-ekstrimis telah menggunakan narasi toxic masculinity sebagai sebuah basis perjuangannya. Mereka membuat hal yang bersifat mitos sebagai sebuah fakta, sehingga masyarakat menganggapnya sebagai suatu yang nyata. Artinya, sebagai sebuah gerakan trans-nasional, yang tidak hanya di satu negara, satu agama, satu etnis, tapi saling berkaitan, kelompok ini dalam konteks kolonisasi telah memengaruhi cara orang membangun narasi agar bisa dipercaya secara luas.

Hal yang tidak terelakan adalah kelompok fundamentalisme memainkan strategi yang berbeda di berbagai negara, termasuk menggunakan isu perempuan sebagai sosok pejuang. Di beberapa tempat, perempuan didorong untuk bertarung dalam perang, digunakan sebagai tenaga untuk merekrut dan memberikan dukungan logistik serta digunakan untuk mempopulerkan simbol ISIS. Kelompok fundamentalis menggunakan budaya populer untuk menyebarkan simbol dan pesan, janji dan harapan dengan menggunakan istilah sisterhood, pemberdayaan, dan melawan ketidakadilan, meskipun mereka masih menggunakan tokoh agama laki-laki sebagai kanon atau referensi.

Hal ini menyebabkan upaya untuk menghentikan rantai maskulinitas negatif (toxic masculinity) merupakan perjuangan yang tidak mudah, karena hal tersebut dilanggengkan antar generasi terutama di komunitas konservatif. Akan tetapi kita dapat memulainya dengan mengangkat suara berbeda yang menantang mitos atau nilai maskulin dominan, membuka beragam fakta tentang maskulinitas yang tidak dimunculkan, membangun maskulinitas baru dengan target anak laki-laki muda yang masih membentuk identitas gender. Cara lainnya adalah memperkuat kapasitas sosok perempuan yang penting dalam kehidupan laki-laki muda, misalnya memperkuat agensi para pemimpin agama (ulama) perempuan, mendorong mereka untuk berbicara dan menunjukkan pengetahuan mereka secara luas sehingga dapat memengaruhi pengambilan keputusan. Perempuan dapat melobi perubahan dalam komunitas dan membangun solidaritas di antara perempuan. Cara ini dianggap dapat mendorong posisi perempuan secara struktural di ruang publik. Masalahnya di Indonesia kelompok Islam progresif sering kekurangan dukungan dari jurnalis dan media populer.

Salah satu cara lain dalam menangani masalah maskulinitas negatif adalah dengan membangun narasi yang adaptif, tidak bisa dengan satu narasi saja. Narasi harus menyesuaikan dengan situasi dan nilai gender yang ada di masyarakat. Misalnya aktivis perempuan di Indonesia tidak menggunakan istilah kesetaraan gender tetapi mengadopsi istilah dari Quran. Hal ini dilakukan untuk membuka ruang yang aman sehingga laki-laki bersedia mendiskusikan subyek yang tabu. Selain itu, cara ini dapat mengurangi ketegangan dalam percakapan. Oleh karena itu, penting untuk menemukan dan mengembangkan lebih banyak narasi alternatif. Narasi alternatif ini dibangun, dibangkitkan dan digerakan dengan pesan positif dan menghilangkan ketakutan, sehingga upaya perdamaian negatif dengan jalan kekerasan dengan pesan “ayo kita habisi (basmi) kelompok ini” tidak dilakukan oleh Gerakan perempuan. Hal ini tentu berbeda dengan peran yang dilakukan Negara dan militer dalam menggunakan kekerasan untuk melawan ekstremis sehingga budaya kekerasan tumbuh di kedua sisi, di sisi negara dan sisi kelompok fundamentalisme.

Dalam upaya membangun narasi alternatif tersebut, aktivis di Indonesia melakukan dialog reflektif dengan kelompok dari berbagai ideologi untuk memperkuat empati di antara orang dari berbagai latar belakang. Sejalan dengan itu, dalam konteks kaum Muslim di Filipina Selatan, Norma maskulin yang baru muncul ketika ada kecenderungan buruh migran perempuan ke luar rumah sehingga peran historis laki-laki sebagai pilar keluarga telah berubah. Laki-laki tidak lagi dapat mendukung keuangan keluarga mereka, beberapa harus memikul peran sebagai suami-rumah tangga dengan lebih sedikit alternatif untuk mendapatkan status ekonomi dan kekayaan di Filipina.

 

Rujukan yang digunakan dalam diskusi ini dapat diunduh di taut ini:
https://asiapacific.unwomen.org/en/digital-library/publications/2020/03/the-nexus-between-masculinities-femininities

https://www.unwomen.org/en/digital-library/publications/2019/09/gender-mainstreaming-principles-dimensions-and-priorities-for-pve

 

– On the practical matters raised, people might find this research and guidance note (self promotion alert). It is long but can easily be taken in a bite size approach. https://www.unwomen.org/en/digital-library/publications/2019/09/gender-mainstreaming-principles-dimensions-and-priorities-for-pve

– Barker, G., Nascimento, M., Segundo, M. and Pulerwitz, J., 2004. How do we know if men have changed? Promoting and measuring attitude change with young men: lessons from Program H in Latin America. Gender Equality and Men: Learning from Practice. Oxfam, Oxford, UK.

– Flood, M., 2015. Work with men to end violence against women: a critical stocktake. Culture, health & sexuality, 17(sup2), pp.159-176.
Website for the Men Engage Alliacne: http://menengage.org/

– Resources on changing men and boys: https://xyonline.net/category/article-content/working-boys-and-men