Ketika Alam dan Perempuan Sama-Sama Diekstraksi Demi Keuntungan Sepihak

Hubungan perempuan dengan sawit nampak seperti akar pada sebuah pohon. Tidak terlihat dan tersembunyi, tapi mengemban peran dan beban yang krusial dalam kaitannya dengan siklus ekonomi dan kehidupan.

Saya bisa melihat hubungan perempuan dengan minyak goreng yang ku jual di warung milik ibu. Pagi sebelum bekerja dan malam selepas kerja, saya menjalani hidup sebagai penjaga warung sembako milik ibu. Dari data ingatan dan penglihatanku, pembeli perempuan adalah pembeli paling banyak yang datang ke warung untuk berbelanja. Mereka tidak hanya berbelanja untuk kebutuhan pangan keluarga, tapi juga untuk berjualan makanan. 

Seringkali perempuan yang bekerja dengan berjualan makanan ini tidak dianggap sebagai suatu pekerjaan. Skill memasak yang menjadi inti berjualan makanan tidak dianggap sebagai skill untuk pekerjaan karena perempuan dianggap sudah seharusnya bisa masak. Padahal tidak hanya mengemban peran domestik, skill memasak bagi  para perempuan juga dapat menjadi skill untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. 

Sebanyak 64% perempuan di Indonesia bekerja di sektor informal. Di mana kebanyakan mereka bekerja di bidang makanan, baik berjualan makanan dengan skala rumahan, kaki lima hingga restoran. 

Selain beras, telor dan gula, sembako lain yang mereka beli adalah minyak goreng. Minyak goreng merupakan sembako yang secara kuantitas cepat sekali habis. Di warung kami, minyak goreng adalah sembako yang tiap hari harus dikulak, baik yang curah, kemasan subsidi maupun kemasan non-subsidi. 

Bagi para perempuan yang berbelanja minyak goreng di warung milik ibuku, minyak goreng bukan hanya bahan untuk menggoreng, menumis dan mengoles makanan. Minyak goreng adalah sarana yang menghubungkan perempuan dengan rantai panjang industri sawit. Dari dapur di rumah hingga ekonomi global yang ditopang oleh kerja dan konsumsi perempuan.  

Mengekstraksi Alam Juga Mengekstraksi Hidup Perempuan

Dalam industri perkebunan sawit, dilansir dari World Rainforest Movement, perempuan yang bekerja di perkebunan sawit sering disebut sebagai hidden workers. Mereka adalah pekerja informal yang sering bekerja dengan upah dan jaminan kesehatan dan keselamatan yang rendah. 

Meskipun hidup dekat dengan area perkebunan sawit bahkan bekerja di dalamnya. Masyarakat sekitar dalam hal ini perempuan tidak lantas mendapat harga lebih terjangkau saat membeli minyak. Mereka juga tidak serta merta mendapat minyak secara gratis. Mereka tetap membeli minyak goreng di pasar dengan harga sesuai pasar. 

Jauh dari kehidupan perkebunan sawit yang berhektar-hektar, perempuan yang berjualan makanan di perkotaan juga memiliki hubungan tersembunyi dengan sawit. Minyak goreng yang setiap hari dibeli adalah minyak goreng yang terbuat dari kelapa sawit. Sebagai pihak yang lebih dominan membeli minyak goreng untuk kebutuhan memasak, perempuan adalah penopang nilai ekonomi sawit. Meskipun tidak secara langsung merasakan manfaatnya.

Secara teknis, minyak goreng sawit bermanfaat dalam proses menghasilkan makanan. Namun ada beberapa hal yang membuat perempuan berperan sebagai penopang nilai ekonomi sawit, tetapi di sisi lain harus menanggung beban ekonominya. 

Walaupun lahan gambut dan hutan berkali-kali dialihfungsikan menjadi perkebunan sawit untuk produksi minyak goreng, harga minyak goreng cenderung fluktuatif alias tidak menentu. 

Bagi negara, minyak goreng adalah bahan ekspor dengan standar harga menyesuaikan pasar internasional. Saat harga minyak dunia naik, maka harga minyak goreng dalam negeri juga naik. 

Padahal pendapatan dan tekanan biaya hidup masyarakat Indonesia berbeda dengan masyarakat di negara lainnya. Di pasaran, perempuan juga tidak mudah menjangkau alternatif minyak goreng lain selain minyak goreng sawit. Belum lagi, perkebunan sawit dan industri pengelolaannya dipegang oleh para oligopoli yang membuat minyak goreng mudah sekali dimonopoli ketersediaannya. 

Hal ini membuat perempuan terjerat dalam siklus industri sawit yang ekstraktif. Di tengah naik turunnya harga dan kelangkaan minyak goreng, perempuan seringkali kelimpungan mencari cara agar minyak goreng tersedia di dapur. Mereka harus berhemat, berhutang hingga berdesak-desakkan.

Sebagai penjual sembako, saya mempercayai tulisan bisa menjadi salah satu cara mengadvokasi isu industri sawit yang ekstraktif. Bagi saya dan perempuan yang hidup di perkotaan bukan berarti dampak ekstraktivisme industri sawit tidak berdampak ke kehidupan. 

Hubungan perempuan dan minyak goreng selama ini hanya dilihat dari satu arah sebatas produsen dan konsumen. Padahal, hubungan perempuan dan minyak goreng berada dalam siklus yang menjerat. 

Di hulu, pekerja perempuan di perkebunan sawit sering dianggap sebagai hidden workers. Pun juga di hilir, walaupun perempuan berperan menjaga nilai ekonomi sawit melalui konsumsi dan aktivitas ekonomi, mereka lah yang paling rentan terdampak inflasi bahan pangan, terutama saat harga minyak goreng naik dan langka. 

Menelusuri hubungan perempuan dan sawit bagi saya bukan hanya menelusuri hubungan ekonomi, tapi juga menelusuri hubungan tidak adil yang tersembunyi yang terletak dari lahan perkebunan hingga dapur. Ekstraktivisme kelapa sawit tidak hanya mengekstraksi alam tapi juga waktu, tenaga, dan daya hidup perempuan. 

Saya mempercayai bahwa advokasi iklim juga berkaitan dengan advokasi keadilan gender. Dengan menempatkan perempuan dalam hubungan dan siklus yang sehat,. dengan mengakui dan melibatkan perempuan dalam kebijakan kelapa sawit dan minyak goreng, kita memastikan mereka tidak lagi disembunyikan perannya atau dijerat oleh sistem yang mengekstraksi hidup perempuan.

Penulis : Anisah Meidayanti

Share this post

Leave A Comment

Your Comment
All comments are held for moderation.