Dampak Ekstraktivisme Terhadap Kehidupan Perempuan

Ekstraktivisme secara sederhana merupakan eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan seperti tambang dan penebangan hutan demi kepentingan sekelompok orang, telah menjadi ancaman nyata bagi perempuan di Indonesia, terutama di daerah pedesaan. Dampak ekstraktivisme sangat mengganggu kehidupan masyarakat, terlebih lagi para perempuan yang sehari-hari bergantung penuh pada alam untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Salah satu dampak paling menyakitkan ialah hilangnya akses perempuan terhadap sumber daya dan penghasilan. Bahkan kami kehilangan air bersih, tanah pertanian, serta hasil hutan yang selama ini menjadi sumber pendapatan dan penghidupan. Perempuan kehilangan separuh dari hak mereka, yang seharusnya menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan mereka. Ketidakadilan ini terus menghantui perempuan di penjuru negeri, seperti bayang-bayang gelap yang tak kunjung pergi, menenggelamkan suara dan hak-hak mereka.

Merusak alam sama saja dengan merusak ruang hidup perempuan. Akan tetapi, suara perempuan seringkali dibungkam dan tidak didengar. Mereka dianggap tak berhak berbicara tentang keadilan yang begitu vital bagi kelangsungan hidup mereka. Lalu, bagaimana nasib perempuan yang memiliki keberanian dan tekad kuat untuk mempertahankan harga diri serta kehidupan mereka? Alam bagi perempuan Indonesia bukan sekadar tanah atau hutan—adalah warisan, identitas, dan hidup mereka.

Saya, Chrisanida, lahir dan besar di Waingapu, Nusa Tenggara Timur, a place yang sering berada di pinggiran perhatian dan kerap diabaikan. Rumah saya dekat pesisir pantai dan muara, tempat yang penuh dengan kehidupan dan harapan. Namun, keresahan telah lama saya pendam. Sebagai perempuan yang tinggal di dekat pesisir, saya merasa suara perempuan seperti saya tak akan ada yang dengar.

Sampah yang dibuang sembarangan di pantai, yang dulu menjadi ladang mencari makan saya dan keluarga, kini telah merusak seluruh tatanan kehidupan kami. Plastik yang menumpuk dimana-mana, begitu mengubah pantai yang dulu memberikan kehidupan menjadi tempat penuh kerusakan mendatangkan bahaya. Tanpa sadar, mereka telah merusak tak hanya ekosistem, tetapi juga kehidupan manusia yang bergantung pada alam tersebut.

Saya tidak bisa tinggal diam. Melalui kreativitas dan tekad saya, saya berusaha melawan kerusakan ini. Saya belajar mencintai sampah, bukan sebagai sesuatu yang menjijikkan, melainkan sebagai sumber kehidupan baru. Memungut sampah di pantai dan mengubahnya menjadi barang bernilai adalah bentuk perlawanan saya terhadap ketidakadilan yang melekat. Plastik yang tidak memiliki harga kini menjadi ruang penghasilan saya untuk melanjutkan kehidupan saya.

Walau suara saya tak pernah terdengar, saya bangga menjadi perempuan Indonesia yang berjuang. Tindakan saya, sekecil apapun, telah menyelamatkan kehidupan orang lain dan menjaga ekosistem alam dari kerusakan lebih lanjut. Kebanggaan itu adalah nafas harapan yang bersinar, bahwa perubahan dimulai dari diri sendiri, dari tindakan nyata, meski di tengah kesunyian dan ketidakpedulian. Di akhir kata saya hanya ingin berkata lewat tulisan ini, saya bicara untuk semua perempuan yang suaranya selalu ditahan serta  harapannya dirampas sama orang-orang yang tak peduli. Kami bukan cuma korban yang diam namun kami penjaga bumi yang terluka, Suara kami ditahan bukan karena takut, tapi karena dunia ini dengan aturan ekstraktivisme yang bodoh, selalu pilih diam daripada adil. Tapi hari ini, lewat kata-kata sederhana ini, saya menegaskan kembali bahwa kami menolak segala jenis kekerasan. Ekstraktivisme sudah merampas bukan cuma alam, tapi juga masa depan anak perempuan seperti saya yang lahir di tengah lingkungan yang tidak baik-baik saja tanpa mimpi selain bertahan hidup. ” Being a woman who remains creative in a world that is far from kind is a form of self-respect. For too long, women have borne the brunt of violence, both visible and hidden. Even environmental destruction is a form of violence that silently befalls women, for when the earth is wounded, women also feel the pain. Yet from the cracks of this shattered world, women rise and turn pain into strength, silence into art, and grief into a voice that speaks not only for themselves, but for all who have been silenced.” 

Sebagai seorang anak mahasiswi saya bertekad untuk menyuarakan suara yang telah tenggelam lama. Dan harapan saya semoga kegiatan ekstraktivisme diberhentikan secepatnya dan ditindaklanjuti karena kegiatan tersebut telah menghambat kehidupan perempuan. Bukan saja menghambat namun telah merusak. Sebagai perempuan kami juga butuh keadilan telah banyak kekerasan yang telah kami dapatkan bukan saja secara fisik namun juga psikis kami. Harapan saya sebagai perempuan, kita berani untuk menyuarakan apa yang menjadi keadilan bagi kita. Jangan lagi diam dan menjadi penerus yang pasif namun bangkit, bersuaralah, dan menjadi penerus yang aktif dan kreatif untuk mewujudkan generasi yang peduli terhadap lingkungan. HENTIKAN EKSTRAKTIVISME YANG MEMBUAT KAMI MENDERITA.!

Penulis : Chrisanida Wendya Ragil Kurnia

Share this post

Leave A Comment

Your Comment
All comments are held for moderation.