Tulisan Anggota

Sepering Nasi Perempuan Sadaniang di Tengah Krisis Ekologis dan Ekstraktif

Fammindonesia · 28 August 2026
Sepering Nasi Perempuan Sadaniang di Tengah Krisis Ekologis dan Ekstraktif
FAMM Indonesia didukung oleh Lembaga Gemawan telah melakukan Feminist Participatory Action Research (FPAR) di Kecamatan Sadaniang Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, tepatnya di Desa Sekabuk dan Desa Suak Barangan. Menariknnya FPAR ini merupakan riset yang menempatkan perempuan sebagai subjek pengetahuan, bukan objek penilitian. Riset ini akan memperlihatkan lapisan peran perempuan di Kecamatan Sadaniang dan mengapa krisis ekologis dan ekstraktif menempatkan perempuan sebagai kelompok yang rentan. Keterlibatan perempuan di Kecamatan Sadaniang, tidak hanya bersifat membantu pekerjaan laki-laki, tetapi juga bagian integral dari system nafkah keluarga.

Perempuan umumnya terlibat dalam kegiatan seperti menanam padi di ladang, merawat tanaman pangan, mengelola kebun campuran, mengumpulkan hasil hutan non-kayu, memanen dan mengolah hasil kebun. Pada sisi lainnya, perempuan juga memegang posisi penting dalam pengelolaan ekonomi keluarga seperti pengaturan konsumsi rumah tangga, pengelolaan hasil panen skala keluarga, strategi penghematan pangan, dan penjaga keberlanjutan sosial komunitas.
Meskipun perempuan merupakan bagian penting dalam pengelolaan ekonomi keluarga dan juga merupakan pondasi ekonomi subsisten desa, mereka belum sepenuhnya didukung dengan akses yang setara terhadap kepemilikan sumber daya, pengambilan keputusan desa, dan kontrol ekonomi komoditas.

Selain dari sisi ekonomi, perempuan di Kabupaten Sadaniang ini terlibat aktif dalam struktur kelembagaan desa, utamanya melalui PKK, kelompok simpan pinjam perempuan, kader posyandu, serta kegiatan pendidikan keluarga. Hal ini menunjukkan bahwa perempuan memiliki ruang partisipasi sosial yang relatif kuat pada level komunitas. Namun demikian masih terlihat kesenjangan antara peran sosial perempuan yang kuat dan representasi politik formal yang masih rendah.

Temuan FPAR menunjukkan bahwa perubahan ekologis di Kecamatan Sadaniang merupakan bagian dari transformasi lanskap akibat ekspansi ekonomi ekstraktif seperti eskpansi perkebunan kelapa sawit, pertambangan pasir, pembatasan aksi masyarakat melalui status kawasan hutan (HP, HPL, HL), dan modernisasi pertanian berbasis bahan kimia. Transformasi ini menggeser desa dari ekonomi subsisten berbasis ladang menjadi ekonomi komoditas berbasis pasar.

Selain itu, FPAR juga menemukan satu perubahan yang konsisten pada system produksi pangan di Desa Sekabuk diantaranya tanah yang semakin keras, hasil gabah turun hingga kurang lebih 50%, meningkatnya kebutuhan pupuk kimia, berkurangnya sayur hutan, dan ikan sungai yang semakin sulit ditemukan.

Krisis ekologi pertama kali dapat terlihat di dapur perempuan dari sepiring nasi yang mereka konsumsi setiap harinya. Metode yang paling menarik dalam proses FPAR yang dilakukan di Kecamatan Sadaniang yaitu metode “Sepiring Nasi” berhasil membaca perubahan lanskap secara konkret melalui perubahan konsumsi keluarga dimana isi piring mereka yang dulunya terdapat beras dan ubi, ikan sungai yang segar, sayur yang didapatkan dari hutan, serta buah yang mudah ditemukan di sekitar rumah telah berubah menjadi beras dan sayur yang dibeli di pasar, ikan yang tidak lagi segar karena kondisi air yang tercemar, serta berbagai macam pangan instan seperti mie instan.

FPAR menemukan bahwa ekstraktivisme di Desa Sekabuk dan Desa Suak Barangan, Kecamatan Sadaniang bekerja melalui tiga jalur utama yakni, perubahan lanskap produksi pangan melalui ekspansi (sawit, tambang, dan rencananya PSN), perubahan struktur sosial desa melalui melemahnya solidaritas produksi mandiri, serta perubahan struktur kebijakan agrarian melalui pembatasan akses kelola masyarakat.

Krisis Ekologis dan Ekstraktivisme seringkali berjalan seiringan. Ekspansi ekstraktif menyebabkan krisis ekologis seperti air keruh, air belumpur, pendangkalan sungai, dan pencemaran air. Dampak ini sangat dirasakan oleh perempuan karena mereka yang mendapatkan tanggungjawab secara langsung terhadap pengolahan air untuk produksi pangan dan kesehatan keluarga termasuk juga kesehatan reproduksi perempuan itu sendiri. Artinya, perempuanlah yang menanggung dampak ekologis namun tidak pernah betul-betul mendapatkan perlindungan struktural.

Karena itu, pengalaman dan pengetahuan perempuan perlu ditempatkan sebagai bagian penting dalam membaca sekaligus merespons krisis ekologis. Mendengar cerita dari sepiring nasi berarti juga mendengarkan cerita tentang tanah, hutan, sungai dan masa depan desa. Di tengah tekanan ekstraktivisme yang terus meluas, memperkuat suara, akses, dan kuasa perempuan menjadi langkah penting untuk memastikan bahwa pembangunan tidak mengorbankan sumber kehidupan dan hak masyarakat atas lingkungan yang adil dan bekelanjutan.

Sumber: Laporan FPAR Kalimantan, https://www.suaraborneo.id/2026/03/riset-mengungkap-sepiring-nasi-cerita.html https://pontianakpost.jawapos.com/mempawah/2603250046/menjaga-ramuan-menopang-kehidupan-perempuan-desa-sekabuk-menjaga-alam-dan-tradisi

0 Komentar

U

Belum ada tanggapan. Jadilah yang pertama membagikan pendapat Anda!