Tulisan Anggota

Belajar dari Lapangan: Ketika Pengorganisasian Perempuan Tidak Berhenti pada Output

Fammindonesia ¡¤ 17 October 2026
Belajar dari Lapangan: Ketika Pengorganisasian Perempuan Tidak Berhenti pada Output
Oleh: Olvy Tumbelaka

Perjalanan ke Ternate, Sagea, dan Lelilef pada akhir Agustus hingga awal September 2026 bagi saya bukan sekadar perjalanan untuk menjalankan agenda program. Ia menjadi ruang belajar tentang bagaimana sebuah program bekerja ketika berhadapan langsung dengan kehidupan sehari-hari perempuan dan komunitas—dengan segala dinamika, keterbatasan, risiko, dan kejutan yang tidak selalu bisa diprediksi dari meja kerja.

Saya semakin melihat bahwa kerja-kerja pengorganisasian perempuan tidak pernah sesederhana menyelesaikan agenda, memenuhi jumlah peserta, menghabiskan anggaran, lalu menuliskan laporan. Di lapangan, yang jauh lebih penting justru adalah apa yang terjadi selama proses: apakah perempuan merasa aman untuk berbicara, apakah mereka dapat menyampaikan pengalaman dengan bahasa mereka sendiri, apakah ruang yang dibangun benar-benar memberi mereka kesempatan untuk mengenali persoalan, dan apakah proses tersebut membuka kemungkinan bagi kerja bersama setelah kegiatan selesai.

Belajar mendengarkan dengan cara yang berbeda
Salah satu pengalaman yang paling berkesan bagi saya adalah ketika kami bertemu dengan perempuan di Boki Maruru, Sagea. Kegiatan yang awalnya direncanakan mulai pukul 09.00 harus mundur hingga sekitar pukul 12.00. Bukan karena peserta tidak menghargai agenda atau karena kegiatan tidak dipersiapkan, tetapi karena para ibu masih harus menjalankan tanggung jawab sehari-hari: menunggu anak mereka pulang sekolah.

Bagi saya, ini adalah pengingat sederhana tetapi penting. Ketika kita datang membawa sebuah program, kita sering kali membawa jadwal, target, dan batas waktu kita sendiri. Sementara bagi komunitas, kehidupan tidak berhenti hanya karena ada agenda program.

Karena itu, kerja pengorganisasian membutuhkan kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan ritme kehidupan komunitas.

Di Boki Maruru, kami bertemu dengan 14 perempuan. Sekitar 75 persen peserta aktif mengikuti proses. Kami menggunakan metode sederhana: peserta menuliskan jawaban atas pertanyaan yang diberikan, kemudian jawaban tersebut digali kembali.

Ketika ada peserta yang tidak menjawab, kami tidak langsung menganggap bahwa ia tidak memiliki pendapat. Kami mencoba bertanya mengapa. Ketika beberapa peserta memberikan jawaban yang sama, kami juga tidak langsung menyimpulkan bahwa mereka hanya mengikuti jawaban orang lain.

Kami bertanya lagi. Dan ternyata, mereka mampu menjelaskan dengan bahasa mereka sendiri mengapa memiliki jawaban yang sama.

Bagi saya, proses seperti ini sangat penting. Partisipasi bukan hanya tentang berapa orang yang hadir atau berapa banyak orang yang mengangkat tangan. Partisipasi adalah ketika seseorang merasa cukup aman untuk menyampaikan pikirannya, bahkan ketika jawabannya sama dengan orang lain.

Disitulah saya melihat bahwa metode fasilitasi FAMM Indonesia bekerja bukan sebagai sebuah formula yang kaku, tetapi sebagai cara untuk membuka ruang.

Bahkan lagu dan gerakan yang digunakan untuk mencairkan suasana menjadi bagian dari proses membangun kepercayaan. Sesuatu yang mungkin terlihat sederhana, tetapi ternyata membantu perempuan yang baru pertama kali bertemu dengan kami merasa lebih nyaman.

Dari ruang diskusi menuju suara perempuan
Yang juga menarik bagi saya adalah bagaimana tuntutan dan keinginan perempuan mulai muncul setelah ruang kepercayaan terbentuk.

Dengan waktu yang relatif terbatas, perempuan dapat mulai berbicara tentang pengalaman dan kebutuhan mereka. Wawancara mendalam bahkan dapat dilakukan sambil proses kegiatan berlangsung.

Saya belajar bahwa kita tidak selalu membutuhkan sesi wawancara formal yang panjang untuk mendapatkan cerita yang bermakna. Ketika ruangnya tepat dan orang merasa didengarkan, cerita bisa muncul di sela-sela percakapan.

Ini yang menurut saya menjadi kekuatan pendekatan FPAR dan pengorganisasian perempuan. Kita tidak datang hanya untuk mengambil data. Kita datang untuk mendengar, memahami, dan bersama-sama membaca pengalaman.

Karena itu, saya semakin percaya bahwa output program tidak seharusnya hanya dilihat sebagai checklist. Angka 14 peserta, 75 persen partisipasi, jumlah wawancara, jumlah kegiatan, atau jumlah dokumen memang penting untuk akuntabilitas.

Tetapi angka-angka itu tidak cukup untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

Yang perlu kita tanyakan adalah: apa yang berubah? Apa yang mulai disadari? Apakah perempuan menjadi lebih percaya diri untuk berbicara? Apakah mereka mulai mengenali persoalan yang sebelumnya dianggap sebagai sesuatu yang biasa? Apakah mereka melihat kemungkinan untuk bergerak bersama?

Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang menurut saya seharusnya menjadi bagian dari ukuran keberhasilan program.

Membaca dampak industri dari kehidupan sehari-hari perempuan
Perjalanan ini juga membawa saya pada pemahaman bahwa membaca dampak industri tidak bisa berhenti pada angka ekonomi, perubahan bentang alam, atau kerusakan ekologis.

Dalam proses wawancara dan pertemuan dengan berbagai pihak, muncul informasi awal mengenai persoalan prostitusi, HIV dan AIDS, serta kekerasan dalam rumah tangga.

Informasi ini tentu belum dapat dianggap sebagai kesimpulan. Masih diperlukan pendalaman dan verifikasi. Tetapi bagi saya, kemunculan isu-isu tersebut penting untuk dicatat karena menunjukkan bahwa perubahan ekonomi dan sosial di wilayah industri dapat membawa konsekuensi yang lebih luas terhadap kehidupan perempuan dan keluarga.

Perubahan sebuah wilayah tidak hanya terlihat dari jalan yang semakin ramai, bertambahnya pekerja, atau berkembangnya aktivitas ekonomi.
Ia juga dapat masuk ke dalam rumah.

Masuk ke dalam relasi antara suami dan istri.
Masuk ke dalam kehidupan anak.
Masuk ke dalam tubuh dan keamanan perempuan.
Karena itu, ketika kita berbicara tentang dampak industri nikel, kita perlu bertanya lebih jauh: siapa yang mendapatkan keuntungan, siapa yang menanggung risikonya, dan bagaimana perubahan tersebut mengubah relasi sosial di dalam komunitas?

Bagi saya, perspektif perempuan menjadi penting justru karena banyak perubahan sosial yang tidak terlihat apabila kita hanya menggunakan indikator ekonomi dan lingkungan.

Keselamatan anggota juga bagian dari kerja gerakan
Ada satu hal lain yang sangat kuat saya rasakan dalam perjalanan ini: persoalan keselamatan anggota FAMM Indonesia ketika bekerja di lapangan.
Perjalanan menuju wilayah kegiatan bukan perjalanan yang sederhana. Kami menggunakan speed boat dari Ternate menuju Loleo dalam kondisi laut yang cukup berat. Ombak besar, dan mesin speed boat beberapa kali mati.

Bagi masyarakat setempat, kondisi seperti itu mungkin sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Tetapi bagi saya, pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa risiko yang dianggap biasa oleh masyarakat tetap merupakan risiko yang perlu diperhitungkan oleh sebuah program.

Terlebih ketika anggota FAMM menjalankan kegiatan yang tidak secara langsung berada di bawah lembaga tempat mereka bekerja.
Siapa yang bertanggung jawab ketika terjadi kecelakaan?
Bagaimana jika terjadi kekerasan?
Bagaimana jika terjadi kekerasan seksual?
Apakah ada asuransi perjalanan?
Bagaimana mekanisme pertolongan dan rujukannya?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak boleh baru muncul setelah sesuatu terjadi.

Saya melihat bahwa perlindungan anggota seharusnya menjadi bagian dari desain program sejak awal. Dan keselamatan itu tidak hanya soal fisik, tetapi juga mencakup keamanan psikososial, keamanan digital, serta rasa aman dalam menjalankan kerja.

Kerja gerakan sering kali menuntut kita untuk hadir di wilayah yang jauh, dengan kondisi geografis yang tidak mudah dan situasi sosial yang dinamis. Karena itu, keselamatan bukan persoalan administratif semata. Keselamatan adalah bagian dari keberlanjutan gerakan.

Program bukan sekadar dana yang terserap dan laporan yang selesai
Pengalaman di Ternate, Sagea, dan Lelilef membuat saya kembali mempertanyakan cara kita mendefinisikan keberhasilan program.
Dalam kerja organisasi, kita tentu membutuhkan anggaran, target, indikator, laporan, dan output. Semua itu penting.

Tetapi saya tidak ingin kerja program berhenti di sana. Bagi saya, program yang berhasil adalah program yang meninggalkan kapasitas, pengetahuan, keberanian, relasi, dan kemungkinan untuk bergerak lebih jauh.
Program yang baik bukan hanya program yang selesai tepat waktu.
Ia adalah program yang membuat perempuan merasa bahwa suara mereka penting.

Program yang membuat komunitas mampu membaca perubahan yang terjadi di sekitarnya.

Program yang membuka hubungan baru dengan jaringan perlindungan dan layanan.

Program yang membuat fasilitator belajar membaca konteks dan menyesuaikan metode.

Dan program yang juga memastikan bahwa orang-orang yang menjalankannya tidak dikorbankan dalam prosesnya.

Perjalanan ini membuat saya semakin percaya bahwa kerja pengorganisasian perempuan adalah proses yang panjang. Kita tidak selalu bisa melihat hasilnya dalam satu kegiatan, satu laporan, atau satu periode pendanaan.
Kadang hasilnya justru muncul dalam satu percakapan.

Dalam seorang perempuan yang akhirnya berani bicara.
Dalam sebuah komunitas yang mulai mampu menyebutkan tuntutannya sendiri.

Atau dalam kesadaran bahwa persoalan yang selama ini dianggap sebagai masalah pribadi ternyata memiliki hubungan dengan perubahan sosial yang lebih besar.

Bagi saya, di situlah makna kerja gerakan.
Bukan sekadar menyelesaikan kegiatan.

Tetapi membuka ruang agar perempuan dan komunitas dapat membaca pengalaman mereka sendiri, menemukan kekuatan bersama, dan menentukan arah perubahan yang ingin mereka perjuangkan.

Dan untuk memastikan proses itu terus berjalan, kita juga harus belajar menjaga orang-orang yang melakukan kerja tersebut.

Karena gerakan yang ingin memperjuangkan kehidupan yang lebih aman dan adil bagi komunitas juga harus dimulai dengan memastikan bahwa orang-orang di dalam gerakan itu sendiri aman.

0 Komentar

U

Belum ada tanggapan. Jadilah yang pertama membagikan pendapat Anda!