Surat Desakan Terbuka Penanganan Kasus Pencabulan dan Pemerkosaan yang dilakukan oleh Oknum Kepolisian Maluku Utara

Kepada Yang Terhormat,
Kepala Kepolisian Daerah Maluku Utara
Di tempat


Dengan Hormat,
Kami adalah FAMM (Forum Aktivis Perempuan Muda) Indonesia, sebuah organisasi yang beranggotakan lebih dari 300 aktivis perempuan multigenerasi yang tersebar di 30 provinsi di Sumatera, Jawa, Bali, NTB, NTT, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua.

Kami sangat prihatin dengan adanya dua kasus kekerasan seksual yang terjadi di Maluku Utara pada bulan Juni 2021. Pada kasus pertama, terjadi pemerkosaan terhadap remaja 16 tahun di Kepolisian Sektor (Polsek) Jailolo Timur, Halmahera Barat yang dilakukan seorang anggota polisi bernama Briptu Nikmal Idwar. Kasus kedua adalah kekerasan seksual yang juga dilakukan oleh anggota kepolisian Resor Halmahera Tengah bernama Brikpol Abdul Gani Ghazali terhadap dua remaja perempuan di Halmahera Utara dengan kronologi sebagai berikut:


Berdasarkan catatan teman-teman aktivis dan pendamping kasus dari Daurmala dan Women’s March Ternate, pelaku bernama Ghazali diduga telah melakukan pencabulan dan perkosaan terhadap dua remaja berinisial JJ (15) dan LL (16). JJ merupakan adik kandung sekaligus anak angkat istri pelaku. LL adalah kakak kandung JJ dan adik kandung istri pelaku. Terhitung sejak 2019, JJ dicabuli oleh pelaku dengan dibantu oleh istrinya berulangulang kali. Sedangkan LL diperkosa dan JJ dicabuli pada waktu bersamaan di pantai wisata yang ada di sekitar kampung kedua korban. Jika menilik lebih jauh kronologi kejadian, kedua korban juga mengalami penyiksaan seksual.

Kasus ini dilaporkan ke Polres Halmahera Utara (Halut) sesuai dengan tempat kejadian perkara. Pemeriksaan telah dilakukan sejak sebulan lalu tetapi sayangnya, sampai hari ini, korban dan pihak keluarga belum mendapatkan informasi terkait proses hukum dari kasus tersebut. Pelaku tidak ditahan dan hingga saat ini masih bebas berkeliaran di dalam kampung. Hal ini menunjukkan tidak adanya jaminan keselamatan dan upaya pemulihan trauma psikologi bagi kedua korban.

Berdasarkan kronologi kasus tersebut, FAMM Indonesia mendukung kerja pendampingan yang dilakukan oleh teman-teman aktivis perempuan di Daurmala, Women’s March Ternate, dan Fron Suara Korban Kekerasan Seksual (FSKKS). Kami juga mendukung pernyataan sikap yang dikeluarkan Women’s March Ternate per 2 Juli 2021.

Mengingat keselamatan fisik dan psikologis korban terancam dan Pelaku sebagai Anggota Kepolisian telah melakukan dugaan tindak pidana, melanggar disiplin dan kode etik profesi polisi, dengan ini kami mendesak:

  1. Kepolisian Daerah (Polda) Maluku Utara bertindak cepat dengan menahan pelaku dan segera memproses hukum tindak pidana kedua pelaku tersebut.
  2. Kepolisian Daerah (Polda) Maluku Utara segera melakukan Sidang Komisi Kode Etik Polri bagi pelaku yang berstatus tersangka.

Demikian Surat Desakan ini dibuat dengan harapan dapat menjadi pertimbangan Bapak/Ibu aparat penegak hukum dalam menangani kasus ini dan menegakkan keadilan bagi masyarakat. Atas perhatian dan kerja sama yang baik, kami ucapkan terima kasih.


Jakarta, 10 Juli 2021
FAMM INDONESIA