Relasi Sehat Dimulai dengan Mencintai Diri Sendiri

Mencintai diri atau self-love merupakan proses memberi cinta dan penghargaan terhadap diri sendiri juga proses dimana belajar memaafkan diri sendiri. Mencintai diri menjadi kebutuhan penting bagi perempuan. karena lapisan stigma telah menempatkan perempuan sebagai sub-subjek bahkan objek kehidupan. Oleh karena itu, perempuan biasa dituntut lebih mengutamakan perasaan dan kepentingan orang lain, sebelum dirinya sendiri, sekalipun itu menyakiti dirinya.

Dalam proses memaafkan, perempuan juga dituntut bisa memaafkan orang lain tapi tidak bisa memaafkan dan berkasihan dengan diri sendiri. Karena dalam patriarki, semua kesalahan akan selalu berujung pada kesalahan perempuan sehingga semua orang yang terlibat dalam relasi mulai dari orangtua, pasangan, masyarakat bahkan negara merasa berhak menyalahkan perempuan dan hukum bagi kesalahan tersebut adalah fatal. Padahal, sebagai manusia yang berproses, perempuan bisa salah dan mencoba lagi, bisa bahagia karena memilih untuk bahagia dan mengatakan tidak atas sesuatu yang tidak ia sukai.  

Perempuan di usia tertentu sering ditanya dengan pertanyaan: “kapan menikah?”. Karena menikah dan berpasangan dianggap sebagai keutuhan. Perempuan selalu dianggap membutuhan orang lain untuk melengkapi ketidak-utuhan dirinya, sehingga perempuan yang belum menikah dianggap tidak utuh dan oleh sebab itu dianggap tidak bahagia. Pertanyaan itu mendorong perempuan untuk sibuk dengan sesuatu yang belum dimiliki atau tidak kita ketahui. Kemudian kita lupa untuk mensyukuri apa yang sudah kita miliki. Menikah juga sering dianggap memenuhi checklist dan demi menyenangkan orang lain.

Padahal self-love berkelindan dengan self-worth, dan mempengaruhi bagaimana kita bisa membangun healthy boundaries, terutama dengan orang yang signifikan bagi kita, termasuk pasangan kita. Karena “happiness is not about impressing others but respect ourselves” sehingga, jika perempuan mencari kebahagian dirinya, maka hal itu tidak bisa dikatakan egois dan negatif. Mengedepankan keselamatan dan kebahagiaan diri sendiri adalah bagian dari sikap asertif. Kalaupun ini egois tapi egois tersebut tidak selalu buruk.

Toxic atau abusive relationship adalah hubungan yang tidak sehat. Wujud biasanya adalah mengontrol psikologi dan keuangan, sehingga ada pihak yang dikendalikan dan bergantung. Kadang kita mengetahuinya secara intuisi tapi takut mengambil tindakan. Sehingga perempuan harus yakin bahwa pikiran dan perasannya adalah valid. Perempuan harus memiliki sistem yang mendukung atau sering disebut our tribe untuk mendukung jika ingin keluar dari sebuah hubungan yang merusak diri sendiri.

Terkadang hubungan toxic tidak terlihat sejak awal. Kalau dari awal seseorang menampar kita, kita tidak akan mau berhubungan dengan orang itu. Masalahnya kekerasan muncul dari hal-hal yang dibungkus dengan manis dan setelah dibangun kedekatan emosional baru melakukan kekerasan.

Dwiana Wahyudi (Uwi) seorang praktisi Mindfulness BINUS Business School-Master Program Alumni, telah berbagi pengalamannya dalam webinar A Deep Talk about Self-Love and Healthy Relationships, terperangkap dalam toxic relationship. Mantan pacarnya adalah seorang musisi, sehingga Uwi sering dibuatkan lagu, diberi hadiah pakaian, pacarnya menjemput di kampus dan tempat kerja. Namun romantisma tersebut makin lama menjadi kontrol. Baju yang dipakai Uwi harus hadiah dari pacarnya. Pulang dijemput, tapi harus ke rumah pacarnya dulu dan bertemu orang tuanya. Diberi handphone dengan berisi nomor pacarnya dan jika pacarnya menelepon harus dijawab. Kalau tidak, dianggap selingkuh. Pacar cemburu dengan kakak laki-laki sendiri dan mengancam bunuh diri. Sebagai perempuan, Uwi merasa tidak tega memutuskan hubungan sehingga dia bertahan selama 2 tahun. Ketika hubungan itu selesai, mantan pacar masih melakukan stalking.

Pengalaman tersebut, mewakili sejumlah pengalaman buruk perempuan dalam berelasi yang penuh dengan kekerasan. Kekerasan memiliki spektrum yang luas dan seringkali tidak ada luka fisik tapi menggerus rasa percaya dan menciptakan rasa takut. Adanya perasaan dikecilkan dan self-doubt atau meragukan pertimbangan dan keputusan diri sendiri. Ini juga merupakan salah satu spektrum dari toxic relationship (hubungan beracun) tersebut. Ketika kita ragu, takut, merasa tidak aman dalam suatu hubungan, maka itu pertanda bahwa hubungan itu tidak sehat. Rasa nyaman memang tidak muncul sejak awal hubungan, tapi rasa aman harus disepakati sejak awal. Seringkali kita mencari rasa nyaman sehingga mengorbankan self-love dan self-worth. Semua hubungan adalah perjuangan jangka panjang. Dengan diri sendiri saja kita berjuang untuk merasa nyaman, apalagi dengan orang lain. Tidak justru sebaliknya, bisa membahagiakan orang lain tapi sering jahat pada diri sendiri. Padahal yang seharusnya, rasa nyaman harus dibangun bersama untuk kebahagian bersama bukan salah satu pihak.