Buku Prisma: Refleksi Pengorganisasian

Pada tahun 2011, FAMM Indonesia dengan dukungan HIVOS menerbitkan sebuah buku berjudul “Prisma: Refleksi Pengorganisasian Aktivis Perempuan Komunitas JASS” berisi kumpulan tulisan alumni MBI dari angkatan pertama dan kedua.

cover Prisma RED

Pengantar

Menuju Matahari : Bunga Rampai Kerja Pengorganisasian
oleh Aktivis Perempuan Muda Komunitas JASS.

Seperti sedang menyaksikan panggung kehidupan, begitulah rasanya ketika satu demi satu kubaca tulisan kawan-kawan perempuan muda yang tergabung dalam komunitas JASS Indonesia ini. Awalnya tampak hanya seperti lakon sederhana, mereka berkisah tentang seorang atau beberapa orang perempuan yang mereka dampingi dalam keseharian kerja pengorganisasian basis mereka. Fokus kisah dan asal wilayah penulis memiliki variasi yang cukup luas sehingga menarik minatku untuk terus mendalami kisah yang tersurat maupun tersirat dalam tulisan ini. Dan memang ketika kumasuki secara lebih dalam kisah-kisah ini, aku merasa berada pada pusaran pertarungan perempuan dalam mempertahankan kehidupan dan martabatnya.

Meskipun disatu sisi sebagian cerita membuat miris hati dan mengguratkan kepedihan yang mendalam, namun tetap dapat ditangkap asa yang disampaikan oleh penulisnya. Misalnya cerita Yelian seorang pembantu remaja yang mengalami kekerasan oleh majikannya namun sulit mendapatkan keadilan karena sang majikan adalah pejabat negara, buatku tetap memberikan harapan karena Maspa sang penulis juga menggambarkan kegigihan mereka sebagai pendamping tak tergoyahkan dalam menghadapi hal ini. Persoalan kekerasan terhadap perempuan dan kekerasan berbasis gender lainnya memang tidak mudah diurai. Berdasarkan pengalamannya mendampingi korban kekerasan di Samitra Abaya, Surabaya, Nur Lailiyah memberikan analisa bahwa budaya patriarki, pengabaian sejarah panjang kekerasan, pemaknaan substansi hukum yang berbeda, dan langkanya kearifan dalam keadilan merupakan penyebab sulitnya menghapuskan kekerasan berbasis gender.

Dan yang menarik, cerita Melania dari Papua, tentang pendekatan Anyam Noken dalam pendampingan korban kekerasan oleh Jaringan Kerja HAM Papua, tampaknya dapat dijadikan inspirasi untuk mengatasi hambatan yang diurai oleh Laily tadi. Empat aspek dalam Anyam Noken; cari kawan, pegang tangan, kumpul cerita, bersuara dan merubah dunia, kemungkinan dapat diterapkan di banyak tempat di Indonesia terutama yang memiliki potensi kekerasan terhadap perempuan dalam rumah tangga seperti di NTT misalnya. Dalam tulisannya, Theresa, dari Rumah Perempuan Kupang, menggambarkan tentang keberadaan adat belis di NTT yang telah luntur dari nilai sesungguhnya sebagai penghargaan pada perempuan menjadi “pembelian” terhadap perempuan, dapat menjadi sumber berbagai bentuk kekerasan terhadap perempuan dalam rumah tangga disana.

Pengalaman lapangan para penulis ini juga menunjukkan bahwa kekerasan berbasis gender dapat teraplikasi dalam berbagai bentuk. Dalam cerita Wanti Maulidar dari Aceh, paska musibah Tsunami di wilayah ini cukup banyak perempuan yang harus berjuang keras mendapatkan hak waris atas harta suaminya, dan tidak selalu berhasil. Diterapkannya Syari’at Islam dalam pengaturan waris dari cerita Wanti memberikan hasil yang tidak adil jika dilihat dari sudut pandang perempuan dan anak. Tapi perempuan yang telah diorganisir melalui berbagai kegiatan pemberdayaan yang dilakukan oleh kelompok perempuan, biasanya tidak akan menyerah. Paling tidak cerita tentang Imas, seorang kader dari kelompok perempuan kepala keluarga dampingan PEKKA di Cianjur, yang dituliskan secara apik oleh Indah Wilujeng dalam buku ini memberikan gambaran itu. Imas yang tadinya adalah korban, membalik nasibnya menjadi “pejuang” keadilan dengan memfasilitasi kelompok dan masyarakatnya untuk mendapatkan akses keadilan dalam kasus keluarga dan perkawinan melalui sidang keliling.

Pengorganisasian di lapangan memberikan pengetahuan dan wawasan yang terbuka luas bagi perempuan di akar rumput yang pada akhirnya dapat menjadi kekuatan mereka dalam memperjuangkan hidupnya. Oleh karena itu, Alif, melalui lembaganya Fahmina Institut, mengembangkan pendidikan kritis tentang hak dan kesehatan reproduksi bagi santri-santri di pondok pesantren. Mitos terkait hak seksualitas dan kesehatan reproduksi perempuan memang harus dilawan dengan pengetahuan dan kesadaran kritis dan cerita Alif tentang bagaimana mereka mempergunakan argumentasi dari ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadist terkait hal ini sangatlah efektif. Terampasnya hak dan kesehatan reproduksi perempuan kerap berakibat fatal, salah satunya adalah kematian ibu melahirkan. Di wilayah Merangin, Jambi, Sutiyem dan kawan-kawan dari Aliansi Perempuan Merangin, menginisiasi pengembangan klinik kesehatan reproduksi esensial sebagai pusat layanan kesehatan reproduksi bagi perempuan miskin untuk mengatasi kelangkaan pelayanan kesehatan yang memadai di wilayah ini. Dan dalam ceritanya Sutiyem menggambarkan betapa tidak mudahnya mendapatkan tenaga profesional seperti dokter, bidan dan perawat yang mau berkomitmen membantu mereka. Membicarakan kesehatan reproduksi dalam masyarakat secara perlahan sudha bisa diterima dan dimengerti oleh orang awam. Namun tidak demikian halnya dengan persoalan seksualitas yang masih dianggap tabu dan “dosa” bahkan hanya untuk sekedar dibicarakan. Maria, dalam tulisannya mengupas dengan kritis tentang ketidakadilan yang harus dihadapi oleh perempuan dan laki-laki yang memiliki orientasi homoseksual akibat kepicikan fikiran manusia selama ini. Bercermin dari pengalaman pribadinya sendiri yang pada awalnya melakukan penolakan terhadap homoseksual, Maria membagi cerita bagaimana akhirnya dia “berdamai” dengan dirinya dan sampai akhirnya justru menjadi pendamping dan pejuang bagi persamaan hak dan keadilan bagi kaum homoseksual.

Perempuan memang menjadi korban utama dan pertama dalam setiap ketidakadilan yang berkembang baik karena kebijakan maupun tatanan nilai sosial masyarakat. Kemandirian secara ekonomi masih diyakini dapat menjadi langkah penting dalam upaya pemberdayaan perempuan yang lebih luas. Oleh karena itu memberdayakan perempuan melalui akses sumberdaya ekonomi, menjadi pilihan banyak lembaga perempuan dalam bekerja di lapangan. Siti Harsun dari Jawa Tengah, Midha dan Hartaty dari Sulawesi Tenggara membagi kisah mereka mengorganisir perempuan melalui pengembangan simpan pinjam dan usaha kecil mikro. Dalam ceritanya, ketiga penulis ini juga menekankan bahwa kegiatan pemberdayaan ekonomi juga harus diikuti dengan kegiatan pemberdayaan lainnya dan kegiatan ekonomi dapat menjadi wadah pengembangan diri dalam cerita yang dituliskan Midha. Sementara itu, cerita Isty tentang kelompok tani di Dusun Nawit, Bekasi yang memperjuangkan nasibnya dalam carut marut pelaksanaan sistem agraria di negara ini, juga menyiratkan hal serupa. Di lain sisi, Cholidjah yang mengorganisir buruh di Batam, melihat pengalaman berorganisasi juga menjadi penting bagi perempuan untuk mengatasi berbagai persoalan yang dihadapi dan menguatkan diri, serta meningkatkan posisi tawarnya, terutama dalam kehidupan masyarakat perkotaan yang tergilas oleh kehidupan moderen saat ini.

Pengembangan diri perempuan adalah salah satu hal strategis yang harus dilakukan. Selain berpengetahuan, mandiri secara ekonomi, perempuan juga harus mampu mengambil keputusan bagi dirinya dan terlibat secara aktif dalam proses pengambilan keputusan dalam masyarakat. Untuk sampai pada tahapan ini, tentu saja tidak mudah. Perempuan harus mampu menaklukan berbagai dimensi kekuasaan yang melingkupinya termasuk keyakinan masyarakat dan perempuan sendiri yang menganggap pemimpin dan pengambil keputusan adalah laki-laki. Cerita Muli, yang bekerja di FIK KSM Takalar, Sulawesi Selatan, mengkonfirmasi hal ini. Melalui upaya pemberdayaan perempuan untuk terlibat dalam perencanaan desa, Muli dan kawan-kawannya harus bekerja keras meyakinkan masyarakat bahwa keterlibatan laki-laki dan perempuan secara berimbang dalam perencanaan pembangunan dapat memenuhi kepentingan yang berbeda antara laki-laki dan perempuan. Cerita ini dikuatkan pula oleh pengalaman Koalisi Perempuan Indonesia Sultra yang dituliskan oleh Mega dalam memperjuangkan anggaran yang responsif gender di wilayah tersebut. Mereka melakukan pelatihan penyadaran dan memantau secara aktif bagaimana anggaran di implementasikan di lapangan.

Pada hakekatnya, berbagai upaya yang diuraikan diatas adalah upaya mengembalikan hak perempuan yang tercipta sebagai pemimpin di muka bumi ini. Konstruksi sosial budaya yang mengatakan secara terbalik tentang hal ini, tidaklah mudah untuk di patahkan tentunya. Kadang kebijakan pemerintah melemahkan posisi perempuan yang di beberapa tradisi cukup kuat sebagai bagian dari pemimpin dan pengambilan keputusan dalam masyarakat. Vivi Marantika dari lembaga Humanum, di Maluku, mengisahkan dengan menarik bagaimana mereka mencoba merevitalisasi aturan adat yang ramah perempuan yang telah tersingkirkan oleh sistem negara yang menyeragamkan model pemerintahan lokal selama ini.

Pengalaman di lapangan selama ini menunjukkan bahwa hal terberat yang harus dihadapi dalam pemberdayaan perempuan adalah menaklukan “penjajah” yang tak terlihat, yang menguasai fikiran dan perasaan perempuan yang dalam bahasa awam disbeut “tatanan nilai”. Banyak perempuan tak mampu keluar dari tatanan nilai yang membelenggunya sehingga menghambat banyak upaya pemberdayaan yang dilakukan. Rasa bersalah dan kecenderungan menghukum diri dengan nilai yang diberlakukan padanya, telah membuat banyak perempuan menjadi manusia yang tidak merdeka. Niken dari JASS, menceritakan dengan baik pengelamannya bertemu dengan seorang ibu yang terkuras hidupnya dari tekanan dan tuntutan “kodrat” yang selama ini difahaminya. Saya tergelitik untuk menyelami makna kalimat yang ditulis Niken dalam ceritanya itu tentang kekuasaan. “Jika saya memberi begitu besar kuasa pada pihak yang lain yang kemudian justru digunakannya untuk mengontrol saya, maka saya dapat menarik dukungan itu”. Kalimat ini buat ku adalah sikap politik yang kuat, yang dipilih Niken untuk menempatkan relasi suami-istri dalam rumah tangga adalah setara, dan pembagian peran serta tanggung jawab adalah kesepakatan. Dan kita bebas untuk menentukan apakah kita mau di kontrol oleh kekuasaan yang sesungguhnya kita amanatkan pada seseorang yang bernama “suami”.

Perempuan bercerita pastilah sudah biasa. Namun, dokumentasi cerita perjuangan panjang perempuan masih sangat jarang. Apalagi cerita kerja kawan-kawan perempuan muda yang mengorganisir perempuan di basis dan tersebar luas di Indonesia ini hampir tidak terdengar. Begitu banyak yang sudah mereka lakukan di lapangan dengan penuh dedikasi, komitmen, dan keteguhan hati. Namun keterbatasan akses informasi dan sumberdaya menyebabkan kisah mereka hanya menjadi cerita yang mereka simpan sendiri. Sayang sekali, pengalaman dan pembelajaran mereka tidak bisa diangkat menjadi pengetahuan berbasis komunitas yang pastinya berguna bagi pemberdayaan perempuan khususnya dan gerakan perempuan Indonesia pada umumnya.

Menyadari secara penuh tantangan yang dihadapi para aktivis perempuan muda ini untuk menuangkan kisahnya dalam bentuk tulisan yang mudah dibaca dan dicerna, maka JASS-SEA dengan dukungan HIVOS, telah mengadakan serangkaian kegiatan peningkatan penulisan bagi aktivis perempuan muda yang menjadi anggota komunitas JASS-SEA di Indonesia. Upaya ini kemudian diawali dengan latihan menulis melalui “internet” pada tahun 2009 yang lalu. Dengan dimoderatori oleh Indah Wilujeng juga dari kalangan perempuan muda komunitas JASS-SEA, beberapa anggota komunitas JASS-SEA telah mencoba menulis dan tulisan tersebut telah pula di upload ke blog yang dibuat Niken. Melalui blog ini diharapkan anggota komunitas lainnya dapat memberikan kritik dan masukan membangun. Upaya ini berhasil cukup baik, paling tidak sembilan (9) tulisan berhasil dibuat dan dikumpulkan. Namun demikian, berdasarkan masukan dari berbagai fihak, kumpulan tulisan tersebut belum layak untuk diterbitkan menjadi sebuah buku karena belum memiliki bentuk dan tema yang jelas serta tata bahasa yang masih harus disempurnakan.

Tidak ingin menyerah, JASS-SEA kemudian menggagas workshop penulisan atau biasa disebut “writeshops” yang kemudian diikuti oleh 14 orang peserta. Adalah Yendi Amalia dan Hera Diani yang memfasilitasi proses ini dengan menghadirkan pula beberapa penulis yang sudah cukup punya nama sebagai nara sumber seperti Muninggar Sri Saraswati mantan wartawan The Jakarta Post & JakartaGlobe yang sekarang menjadi penulis lepas dan dosen di UMN, Ignatius Haryanto Direktur Lembaga Studi Pers dan Pembangunan, dan Leila S. Chudori. Diakhir writeshops, sebagian peserta memang mampu menghasilkan draft awal tulisan yang akan diterbitkan menjadi buku nantinya. Namun, sebagian peserta lainnya masih harus meneruskan prosesnya di tempat masing-masing. Kualitas tulisan sudah jauh lebih bagus dari tahap awal melalui internet tersebut. Disepakati untuk membuat tulisan dalam bentuk “features” dengan fokus pengalaman pengorganisasian masing-masing. Terkumpul 18 tulisan yang sangat bervariasi. Tulisan-tulisan ini kemudian di edit oleh Yendi untuk kemudian diterbitkan dalam bentuk bunga rampai tulisan aktivis perempuan muda komunitas JASS-SEA.

Tentu sudah sepantasnya para penulis buku ini mendapatkan apresiasi yang tinggi bukan hanya karena mereka mampu menuliskan kisahnya, namun lebih dalam lagi karena dedikasi dan komitmen mereka dalam kerja pengorganisasian di basis yang sebagian kecil kisahnya terekam dalam cerita yang mereka buat. Sebagai generasi muda dalam gerakan perempuan, kisah mereka kerap terpinggirkan bukan hanya karena ketakmampuan mereka menceritakannya secara menarik, namun juga karena kesenjangan generasi yang tercipta. Memang sebagian kisah yang ada merupakan hal yang berulang dari dekade sebelumnya. Bagiku, hal ini justru harusnya menjadi refleksi yang mendalam mengapa setelah sekian lama aktivis perempuan membangun gerakannya, persoalan yang dihadapi terus berulang? Cerita mereka juga menyiratkan betapa pekerjaan rumah itu tak pernah selesai. Kesetaraan dan keadilan gender masih merupana mimpi indah yang teramat jauh dari jangkauan.

Pada bagian akhir pengantar ini, perkenankan saya menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada Yendi selaku editor yang telah mengedit semua tulisan yang masuk sehingga menjadi selaras, ringan dan enak untuk dibaca. Kepada HIVOS khususnya rekan Tunggal Pawestri dan Maesy Angelina yang telah memberikan dukungan sepenuhnya pada upaya ini, dan telah menjadikan JASS-SEA partner setara dalam perjuangan keadilan bagi perempuan. Kepada Siti Masriyah (imey), Niken, Dyah dan Elin, staf di sekretariat JASS-SEA yang telah bekerja keras menyelesaikan semua urusan terkait proses ini dan Dina Lumbantobing yang menemani dalam perjalanan ini. Dan terakhir kepada sahabat-sahabat di Tanda Baca yang menjadi kawan dalam penerbitan buku ini.

Tertulis ataupun tidak, pengorganisasian perempuan di basis merupakan bagian sejarah yang tak dapat diabaikan dalam gerakan perempuan di Indonesia. Dan buku yang berisi kumpulan tulisan dari lapangan ini meneguhkannya. Terimalah ini sebagai kontribusi kami untuk ikut mencatatkan sejarah perjuangan perempuan Indonesia dalam menegakkan hak dan martabatnya.

Jakarta, 1 Maret 2011
Nani Zulminarni
Koordinator JASS-SEA

Introduction in English version.

Towards the Sun:
Anthology of Young Women’s Activists Work

Like watching a stage of life, so it seemed when I read one article after another made by young women’s friends who are members of JASS community in Indonesia. The focus of the story and the origin of the authors has a wide variation so it is interesting to continue to explore my interest in the story. Indeed when you entered more in these stories, you will feel at the vortex of women’s in struggle in sustaining their (family) life.

JASS-SEA initiated the writing workshops or so-called “writeshops” which is then followed by 14 participants. They developed the writing into 18 titles in the form of “features” focussing on the experience and reflection in each organization.

Although some stories make sad to read, but still can be caught up submitted by the author. For example the story of a maid Yelian teenager abused by her employer but hard to get justice because the employer is a state official, still gives me hope because Maspa the authors also describe their persistence as a companion unwavering in the face of this. The issue of violence against women and other gender-based violence is not easy to disentangle. Based on her experience assisting victims of violence in Samitra Abaya, Surabaya, Nur Lailiyah provide analysis that the culture of patriarchy, the neglect long history of violence, meaning of different legal substance, and the scarcity of justice is wisdom become cause of the difficulty to eliminating gender-based violence.

Melania story of Papua, about Noken Plaits approach in assisting victims of violence by the Network of Papuan human rights, can apparently be used as inspiration to overcome the barriers broken down by Laily. Four aspects of the Plaits Noken; looking for a friend, hold hands, gathering stories and voices, and change the world, the possibility can be applied in many places in Indonesia, especially those that have the potential for violence against women in such households in NTT for example. In her writings, Theresa, of the House Women Kupang, describing the existence of customary belis NTT, which has faded from the true value as a tribute to the women to “purchase” of women, can be a source of various forms of violence against women within the household there.

Field experience these authors also showed that gender-based violence can be applied in various forms. Wanti Maulidar in Aceh witnessed many women fight hard to get inheritance rights over their husband’s property after the Tsunami era, and it’s not always successful. In other story of Imas, a cadre of female-headed households (PEKKA) in Cianjur, nicely written by Wilujeng in this book, gives different picture. Imas was a victim, flipping her fate to be “warrior” of justice by facilitating groups and communities to gain access to justice in cases of family and marriage through the trial round.

The book provides knowledge and insights about the struggle of women at the grass roots that can ultimately be their strength in fighting for their basic rights. Therefore, Alif, through the institution Fahmina Institute, is developing critical education about reproductive health and rights for students at muslim boarding school. Myths related to sexuality and reproductive health rights of women was resisted with the knowledge and critical awareness of verses of the Quran and Hadith. It is proved to be very effective. In the region of Merangin, Jambi, Sutiyem and friends of the Alliance of Women Merangin, initiating the development of essential reproductive health clinics as centers of reproductive health services for poor women to overcome the scarcity of adequate health services in the region.

The issue of sexuality is still considered taboo. Maria is critically wrote about the injustices faced by homosexual women and men. Reflecting on her own personal experience about the denial of homosexuality, Maria shares the story of how she finally “make peace” with herself and eventually became an activist for homosexuals rights.

Economic independence is still believed to be an important step in the empowerment of women is more widespread. Siti Harsun of Central Java, Midha and Southeast Sulawesi Hartaty of organizing women to share their stories through the development of small savings and loan and micro-businesses. In the story, the three authors also stressed that economic activities can become a place of self-development. Meanwhile, Isty also implies something similar in her story about farmers in the hamlet Nawit, Bekasi, fighting for their rights in the bawdy chaotic implementation of the agrarian system. On the other hand, Cholidjah who organized factory workers in Batam, highlight the organizational experience which also important for women to overcome the various problems and to improve their bargaining position, especially in urban public life.

Women self-development is one of the strategic thing to do. In addition to knowledge and economic independence, women should also be able to make decisions for themselves and be actively involved in decision-making processes in society. It is not easy to arrive at this stage. Women are trying hard to conquer the various dimensions of power that surrounded their life. Their stories were corroborated also by the experience of Indonesian Women’s Coalition Sultra written by Mega in the fight for gender responsive budgeting in the region.

They conduct self-awareness training and are actively monitoring how budgets are implemented in the field. In essence, the efforts described above is an attempt to restore the rights of women as a leader. Sometimes government policies undermine women’s position as part of leaders and decision-making in society. Vivi Marantika from Humanum in Maluku told interesting story of how they try to revitalize the traditional rules of a woman who had been eliminated by the state system of local governance.

Women’s story has become familiar in media. However, the documentation of women’s organizing stories are still very rare. Moreover story of working young woman who organized the women in the base and is widespread in Indonesia. There is so much that they’ve done in the field with full dedication, commitment and perseverance. However, limited access to information and resources led to their stories unheard and unknown. While their experience and learning as community organizer are certainly useful for women’s empowerment in particular and women’s movement in Indonesia in general.

Certainly it is appropriate to praise and highly appreciate the authors of this book, not just because they are able to write their story, but mainly because of their dedication and commitment in organizing work at the grass root level, away from limelight. As younger generations in the women’s movement, their story often marginalized not only because of their inability to write it, but also because of the generation gap that is created. Their story also suggests our homework in the future. The book has confirmed that organizing grass root women are part of the women’s movement in Indonesia that can not be ignored.

Jakarta, March 1, 2011

from Zulminarni’s introduction of the book

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *