Buku Pandora – Kepemimpinan

PANDORA FINAL FIX

E-book bisa diunduh di sini.

Menyibak Dinamika Aktivis Perempuan Muda

Meneguhkan Kepemimpinannya

Aku ingin mengawali pengantarku kali ini dengan mengutip pertanyaan kritis Niken Lestari di bagian awal tulisannya yang berjudul Memahami Gerakan Perempuan dari Balik Meja. “Mengapa perempuan perlu belajar kepemimpinan?” dan “Apakah perempuan dipersiapkan untuk menjadi pemimpin di organisasinya?” Buatku dua pertanyaan ini menyiratkan banyak hal tentang kepemimpinan; mulai dari pemaknaan hingga aplikasinya dalam kehidupan. Dan kuharap dengan membaca dua puluh tulisan karya penggiat dan anggota FAMM Indonesia melalui proses Lokatulis atau “writeshop” yang diselenggarakan FAMM-Indonesia, dapat membantuku memahami seberapa penting aktivis perempuan melihat arti pentingnya kepemimpinan perempuan muda dalam gerakan perempuan saat ini.

Kepemimpinan kerap dipahami hanya sebatas posisi dalam kerangka struktur formal. Seseorang disebut pemimpin ketika dia memiliki satu posisi tertentu dalam institusi atau kelembagaan dengan sistem yang tertata. Kepemimpinan sangat sering pula dipahami dari sudut pandang kontrol dan kuasa yang dimiliki oleh seseorang dalam sebuah sistem yang berkesinambungan. Oleh karena itu tidaklah heran jika banyak orang, termasuk aktivis perempuan muda tidak memiliki kepercayaan diri untuk menyebut dirinya sebagai pemimpin. Misalnya, dari 20 perempuan muda yang menulis dalam buku ini, hanya beberapa orang saja yang bercerita menggunakan “prase” pemimpin atau kepemimpinan. Niken Lestari dan Rina Reflianda misalnya, melihat diri mereka sebagai “pemimpin” meskipun tidak secara eksplisit tertangkap dalam tulisan mereka. Niken misalnya tidak secara gamblang mengatakan dirinya adalah pemimpin. Namun demikian, dari pernyataannya “Jika aku percaya bahwa aktivis perempuan muda adalah bagian dari kepemimpinan perempuan dan sejarah gerakan, maka aku perlu ikut terlibat dalam organisasi yang fokus pada penguatan kapasitas mereka”, menunjukkan bahwa sebagai perempuan muda yang sedang dalam proses mengukuhkan identitasnya, Niken percaya bahwa dirinya pun merupakan bagian dari kepemimpinan perempuan dan ingin mengambil bagian dalam proses pengembangannya.

Sementara itu, Rina Reflianda yang mengalami banyak tantangan dalam menjalankan kepemimpinan di organisasinya, hampir merasa kalah untuk memaknai potensi kepemimpinan dirinya. “Kadang aku merasa, apakah aku memang bukan pribadi yang bisa memimpin karena aku yang tidak bisa marah, dan satu kelemahanku kurang asertif dalam berkomunikasi dengan teman-teman lain. Aku lebih memilih menahan dan menyimpan rasa marah dalam hati, serta tidak ekspresif ”. Ketidakberdayaan dalam mengelola konflik yang pasti ada dalam kehidupan organisasi membuat Rina merasa kepemimpinan adalah sesuatu yang tidak mudah. Sementara itu, Hasmida Karim yang secara nyata berada dalam kepemimpinan formal sebuah organisasi, yaitu sebagai Direktur, tidak pula secara tegas menyebut dirinya pemimpin. Midha lebih banyak memfokuskan tulisannya pada proses organisasi dan masih bergerak dalam rentang batas-batas proses pembelajaran formal dan non-formal sebagaimana dituliskannya “Aku harus pandai-pandai meluangkan dan berbagi waktu dengan urusan kuliah yang belum kelar. Perjalanan masih panjang, namun di satu sisi aku juga tidak berkeinginan untuk mengorbankan impian dan cita-citaku meraih gelar pendidikan yang sudah susah payah kujalankan”.

Kepemimpinan merupakan salah satu subyek dan pokok bahasan yang selalu aktual dan berkembang di kehidupan sosial politik suatu peradaban. Kita tidak akan pernah kehabisan rujukan untuk membicarakan tentang kepemimpinan, mau dari sudut pandang apa saja. Lihat saja dalam keseharian kita saat ini, begitu banyak orang mengembangkan konsep kepemimpinan dan menjadikannya arena untuk menarik pengikut melalui kursus kepemimpinan yang mereka selenggarakan. Kadang mereka tidak selalu menggunakan kata kepemimpinan secara tegas, namun jika diikuti sesungguhnya apa yang disampaikan tidak ada lain kecuali “kepemimpinan”, meskipun kerap dibungkus dengan istilah “motivator” misalnya. Berbagai paket pembelajaran tentang kepemimpinan juga marak ditawarkan, yang pada dasarnya membuka kesempatan setiap orang untuk mengenali dan menggali potensi kepemimpinan yang ada dalam dalam dirinya.

Dalam tidak kurang dari 25 tahun kiprahku di kerja pengorganisasian, sesungguhnya terfokus pada upaya mengembangkan potensi kepemimpinan perempuan. Hal ini didasari oleh keprihatinan akan sedikitnya peran perempuan dalam proses pengambilan keputusan di berbagai tingkatan, dan rendahnya martabat perempuan dalam sistem sosial, politik dan budaya yang berkembang. Padahal kita memahami bahwa setiap manusia adalah pemimpin dan tugasnya di muka bumi ini adalah menjadi pemimpin dan akan mempertanggungjawabkan kepemimpinannya. Oleh karena itu, pada dasarnya “kepemimpinan” bukanhanya urusan struktur atau sistem formal, namun lebih daripada itu, kepemimpinan adalah tentang martabat manusia dalam perkembangan peradaban yang dilakoninya. Potensi memimpin perempuan sering tertutupi oleh beban gender yang terkonstruksi dengan kukuh dalam diri perempuan dan masyarakat pada umumnya. Hal inilah yang ingin aku temukan dan bongkar dalam mengorganisir perempuan.

Inisiatif mengembangkan potensi kepemimpinan aktivis perempuan muda di Indonesia melalui semiloka MBI atau Movement Building Institute dibawah pengorganisasian JASS-SEA, juga merupakan salah satu upaya untuk membongkar beban gender yang menghambat dan membuat perempuan -khususnya kelompok muda- kehilangan keyakinan akan kemampuan kepemimpinannya. Sejak dimulai tahun 2007, tidak kurang dari 140-an perempuan muda penggiat kerja-kerja pengorganisasian diberbagai daerah dan fokus berbagai isu, telah ikut dalam proses pengembangan kepemimpinan yang dilakukan melalui upaya JASS-SEA ini. Memang apa yang dilakukan hanyalah sebatas beberapa hari pelatihan dalam kelas (in-class training). Namun demikian, kegiatan tersebut merupakan momentum dan ruang yang diadakan bagi perempuan muda untuk melihat sisi lain potensinya, dan memilih alternatif cara pandang serta alat untuknya mengembangkan seluruh potensi kepemimpinan yang ada. Setelah itu, diharapkan mereka dapat menggunakan proses kehidupan yang dilakoni menjadi arena pembelajaran yang akan mengantarkan mereka menjadi pemimpin-pemimpin yang efektif di berbagai arena kehidupan.

Sesungguhnya kepemimpinan tidak sepenuhnya bisa dilatihkan, artinya setelah pelatihan kepemimpinan, tidak serta merta seseorang lalu menjadi pemimpin yang efektif. Selain itu, tidak ada pula resep jitu untuk menjadi pemimpin yang efektif. Kepemimpinan adalah seni dan proses pembelajaran kehidupan yang terus menerus. Oleh karena itu penting untuk selalu mendokumentasikan dan merefleksikan pengalaman nyata dari proses yang kita jalani. Seperti kali ini, FAMM-Indonesia (organisasi perempuan muda alumni MBI JASS-SEA) mengadakan “lokatulis’ atau writeshop, untuk memberi ruang pada perempuan muda mendokumentasikan kisah kepemimpinan mereka agar dapat menjadi bahan refleksi dan pembelajaran bagi dirinya sendiri serta orang lain umumnya. Melalui karya mereka ini, kita akan dapat memahami lebih jauh arti kepemimpinan -khususnya bagi perempuan muda dalam arena gerakan perempuan-, serta memaknai lebih luas kepemimpinan perempuan.

Sangatlah melegakan mengikuti kisah Mariamah Achmad dari Kalimantan Barat, yang dengan penuh percaya diri memilih kata “kepemimpinan-ku” dalam menceritakan perannya sebagai pendamping lapang pengembangan credit union. Pada umumnya para pendamping lapang yang dalam struktur organisasi LSM kerap berada di tingkat terbawah, tidak akan berani menyebut dirinya “pemimpin”. Mariamahmemiliki kecintaan yang besar pada credit union. Oleh karena berbagai tantangan yang dihadapinya dalam mendampingi credit union di masyarakat yang dikembangkan lembaganya semakin mengeluarkan karakter kepemimpinan yang digambarkanya “keras dan disiplin menerapkan peraturan-peraturan dan mengambil keputusan berdasarkan logika yang benar”. Aku merasa dia cukup berhasil mengembangkan kepemimpinannya karena meskipun dia tidak bertahan di organisasi awalnya, Mariamah konsisten mengembangkan credit union dimana pun dia bekerja.

Potensi kepemimpinan yang terpendam juga dapat muncul karena inspirasi dari berbagai pihak. Misalnya, cerita Elly Anggraeni yang mengaku mendapat inspirasi untuk mengorganisir masyarakat dari memperhatikan seorang perempuan bernama Siti Zahara yang dengan sabar mengajak para pemulung di wilayahnya untuk mau bergabung dalam diskusi regular yang diadakan, yaitu dengan melakukan pendekatan secara persuasif berkunjung ke rumah–rumah para pemulung dan tak segan untuk terjun langsung dengan mengikuti para pemulung bekerja memunguti sampah demi sampah, tapi tanpa menganggu pekerjaan mereka. Tidak muluk-muluk, Elly mengeksplorasi potensi kepemimpinannya dengan mulai mengorganisir warga yang ada di sekitar lingkungannya dengan kemampuan yang dimiliki, dan berbekal pemahaman tentang pengorganisasian yang diperoleh di kampusnya.

Meskipun Elly menganggap inisiatifnya mengorganisir masyarakat sekitar sebagai kegiatan pengisi waktu ketika menganggur, sesungguhnya Elly telah menunjukkan bahwa kepemimpinan itu ada dalam setiapkita, dan dengan momen tertentu akan muncul dengan sendirinya. Kepemimpinan perempuan biasanya unik karena memang perempuan yang hidup dalam sistem yang didominasi oleh ideologi patriarki, secara sadar ataupun tidak, melatih dirinya untuk merespon seluruh sistem yang cenderung “menekannya” dengan caranya sendiri. Berhadapan langsung dengan kenyataan kehidupan perempuan yang berat merupakan hal yang menjadikan pemimpin perempuan memiliki daya juang dan kelenturan yang hebat. Hal ini sangat jelas tertangkap dari cerita yang diungkap oleh sebagian besar perempuan muda yang menulis kali ini. Indriyani Djabir misalnya, mengasah kepekaannya sebagai pemimpin melalui kisah perempuan suku Bajo penambang pasir di Wakatobi yang berjuang keras menafkahi keluarganya dengan pekerjaan yang berat dan beresiko tinggi. “Hanya mendengarkan kisah mereka dengan perasaan kasihan atau pun simpatik tidaklah cukup, mereka tidak butuh dikasihani. Yang mereka butuh aksi dari kita, melihat dan mengembangkan potensi yang ada pada mereka, tidak hanya memberikan solusi dalam segi finansial, tetapi juga merubah kebudayaan kolot warga setempat, sehingga perempuan tidak bisa melakukan perubahan ekonomi keluarganya, dan doktrin suami adalah kepala keluarga sekaligus pencari nafkah dalam keluarga sangat kuat”.

Tumbuh dewasa menyaksikan perilaku tidak adil sang ayah terhadap ibunya dalam perkawinan poligami dan tindak kekerasan dalam rumah tangga, Mittya Ziqroh dari Sumatera Barat, mengukuhkan dirinya menjadi aktivis perempuan yang peduli dengan korban kekerasan dalam rumah tangga. Pemahaman Mittya bahwa salah satu prinsip kepemimpinan adalah dengan membangun pemahaman dan ilmu kolektif terkait satu persoalan seperti kekerasan dalam rumah tangga kepada sebanyak mungkin pihak lain, dia aplikasikan dengan mengorganisir kaum muda. “Perubahan itu juga harus dimulai oleh kelompok muda, agar generasi penerus memiliki perspektif seperti yang aku miliki hari ini. Aku harus melakukan transformasi ilmu kepada generasi muda, aku berusaha ketika berdiskusi kecil dengan teman-temanku membawa isu kekerasan terhadap perempuan dengan pisau analisis gender dan hak-hak konstitusionalnya”.

Keyakinan akan pentingnya menggerakkan anak muda juga diyakini oleh Turisih yang gelisah akan terbatasnya ruang kaum muda untuk berekspresi dan mengembangkan potensinya dengan merdeka dan leluasa di kotanya, Cirebon. Oleh karena itu, Asih menggantungkan cita-cita besarnya untuk memberdayakan anak-anak di kampungnya melalui arena perpustakaan keliling. “Aku ingin mengajak anak-anak kecil mulai belajar membaca dan menuliskan apa yang menjadi mimpinya. Mereka bisa sekolah dimana saja tak harus di bangku dan gedung-gedung besi. Tak banyak anak-anak di kampungku yang melanjutkan sekolah karena keterbatasan ekonomi dan jarak untuk melanjutkan ke jenjang lebih tinggi juga cukup jauh, harus berjalan kaki sejauh 4 kilometer ke desa tetangga, yang ada angkutan untuk ke kota ke tempat sekolah”. Buat Asih memimpin artinya membagi mimpinya pada orang lain untuk berkarya dan membangun bersama.

Sementara itu, Noni Tuharea dari Maluku mentasbihkan dirinya sebagai “Sahabat Sejati Penderita HIV & AIDS” menunjukkan kualitas dirinya sebagai seorang pemimpin yang tekun dan teguh hati. Berbingkai cerita seorang perempuan penderita AIDS bernama Neta, Noni berjuang keras untuk membangun kesadaran banyak pihak akan penyakit yang mematikan ini, sambil menguatkan para penderitanya. Tidak banyak orang seperti Noni yang bertahan secara konsisten menghadapi beratnya tantangan yang harus dihadapi dalam kerja terkait HIV/AIDS. “Perempuan penggiat HIV berjumlah 25 orang, namun kini hanya tersisa 9, orang belum lagi ditambah dengan kapasitas yang terbatas” keluh Noni dalam tulisannya.

Terlahir dan tumbuh sebagai gadis lesbian, membuat kehidupan SA menjadi tidak mudah. Berbagai bentuk diskriminasi dan pelecehan yang dialami oleh perempuan lesbian, memberikan kesadaran pada SA bahwa dia harus melakukan sesuatu, dan akhirnya memilih menghimpun teman-teman lesbiannya untuk membentuk wadah organisasi membangun kekuatan kolektif mereka.

Memimpin memang berarti pula membangun kekuatan kolektif untuk membuat satu perubahan, karena sebuah perubahan tidak bisa dilakukan sendiri sehebat apapun kepemimpinan kita. Hal ini sepenuhnya juga disadari oleh Masnim dari NTB yang percaya bahwa “dalam melakukan kerja-kerja advokasi kita tidak bisa melakukannya dengan sendiri, tetapi kita membutuhkan teman, baik itu secara perorangan maupun secara lembaga. Itu juga bisa menjadi tanda bahwa persoalan tersebut tidak hanya dirasakan oleh segelintir orang, tetapi itu juga menjadi persoalan masyarakat secara umum”.

Kehidupan perempuan tidak hanya spesifik dan unik, namun juga kompleks. Oleh karena itu pola kepemimpinan dan gerakan perempuan memang seharusnya mengikuti dan merespon persoalan aktual yang dihadapi komunitas dimana kepemimpinannya berkembang. Tidak hanya persoalan yang khas perempuan seperti kesehatan reproduksi dan urusan domestik, perempuan juga sesungguhnya berhadapan dengan persoalan yang mendasar dan kompleks seperti ketahanan pangan. Siti Harsun dalam tulisannya berjudul Pangan Lokal sebagai Wujud Kedaulatan Petani, mengkampanyekan pangan lokal untuk mewujudkan kedaulatan bangsa ini agar tidak tergantung pada luar yang akhirnya membuat bangsa ini menjadi rentan. Sebuah pemikiran yang sangat “genuine” dan mendasar, yang menunjukkan kemampuan analisis yang tajam dari seorang pemimpin muda seperti Harsun. “Kalau semua perempuan tersadarkan tidak konsumtif, hanya makan dari apa yang diproduksi atau membeli hanya dari komunitasnya dan meminimalisir asupan dari luar, maka kesejahteraan ekonomi akan terwujud. Idealnya memang perempuan berdaulat atas pangannya. Berdaulat di sini dalam arti, perempuan mampu memilih dan menentukan pangannya sendiri tanpa dipengaruhi oleh pihak lain dan tidak tergantung dari luar”. Tanpa jargon dan bahasa yang sulit, Harsun menunjukkan pentingnya memimpin dengan cara sederhana dan realistis.

Kompleksitas persoalan juga dihadapi Yasahniat Gea yang bekerja dalam konteks masyarakat adat di Pulau Nias yang sangat patriarki. Diskriminasi gender dalam sistem adat Nias, menempatkan perempuan pada posisi yang tidak menyenangkan. “Dalam kehidupan sehari-hari sebagai anak, anak perempuan lebih banyak diarahkan pada hal-hal dan pekerjaan domestik, sementara anak laki-laki lebih diarahkan untuk diasah dan dilatih dalam tanggung jawab yang lebih menantang di luar rumah. Ketika sudah dewasa, kepemilikan aset begitu saja diturunkan kepada anak laki-laki, sementara anak perempuan menggantungkan keberuntungannya kepada keluarga suaminya”. Pasti tidak mudah mengubah adat istiadat yang telah mengakar dalam di masyarakat. Sebagai pemimpin, tentunya Gea harus bekerja dengan taktik dan strategi yang tidak secara gamblang mengancam pihak-pihak tertentu. Dan pilihannya adalah pengembangan credit union, sangat cerdik.

Menarik memang untuk memahami peliknya persoalan gender dalam bingkai cerita laki-laki sebagaimana diceritakan Ani Rufaidah dalam tulisannya “Perspektif Laki-laki dalam Melihat Persoalan Perempuan”. Pemahamannya terhadap relasi kuasa yang timpang antara laki-laki dan perempuan tampak terasah dari mendengarkan cerita dilema seorang laki-laki dalam melakoni “gender”-nya sebagai laki-laki pemimpin yang memiliki banyak keistimewaan. Selain itu, sebagai perempuan yang melakoni proses sosialisasi gender dan nilai, pada akhirnya mengonstruksi “invisible power” dalam cara Ani berpikir dan melihat satu fenomena. Ani berjuang keras membongkar dan menaklukkan sisi negatif yang membelenggu cara pikirnya selama ini. “Meski kadang secara pengetahuan sudah selesai, namun secara afeksi penerimaan itu, ternyata belum ada pada diriku. Dalam perjalanan dan pengalaman yang aku temui, akhirnya semua ini dimengerti melalui perjumpaan. Perjumpaan itu yang membantu membongkar value yang ada di belakang kita”. Dengan cara inilah kemungkinan Ani akan membuka ruang luas bagi tumbuh dan berkembangnya karakter kepemimpinan yang egaliter dalam dirinya.

Tidak ada sekolah yang paling intensif dan efektif bagi perempuan muda untuk mengembangkan kepemimpinannya selain di tengah masyarakat, berhadapan langsung dengan persoalan aktual dan nyata yang dihadapi perempuan. Kesadaran ini tumbuh dalam diri Maria Mustika setelah memahami tentang pengorganisasian dari MBI yang diikutinya. “Aku tidak selalu membutuhkan sebuah lembaga untuk berkarya. Selalu ada banyak hal yang bisa aku lakukan bersama dengan masyarakat”, begitu tulis Maria. Menurut Maria mengorganisir masyarakat menjadi sekolahan untuknya menyoal relasi kuasa yang egaliter agar dapat menumbuhkan rasa keberpihakan pada kelompok rentan yang didampingi. Dan disadari sepenuhnya oleh Maria bahwa kepemimpinan tidak boleh terjebak dalam “penokohan” figure tertentu. Oleh karena itulah mengorganisir menjadi strategi mengembangkan sebanyak mungkin pemimpin yang mengakar di masyarakat.

Pandangan Maria sejalan dengan pemikiran Retno Wulan yang merasa “Belajar pada Kaum Akar Rumput”. Melalui organisasi HAPSARI, Retno Wulan membangun kepemimpinan dirinya dengan cara meningkatkan kemampuan kaum perempuan di akar rumput untuk mengembangkan potensi dirinya. Sederhana saja apa yang dilakukannya, yaitu membuat perempuan di tingkat akar rumput ini berani bicara, percaya diri dan bekerjasama. Dan pengalaman Maria Sucianingsih berinteraksi langsung dengan persoalan ketidakadilan dan kekerasan berbasis gender yang dihadapi kaum perempuan, menjadi pupuk penyubur berkembangnya motivasi dan keperpihakan yang kuat pada korban. Maria Sucianingsih meyakini perempuan korban kerap menjadi korban berlapis karena sistem sosial budaya yang menuntut perempuan untuk menuruti satu ketentuan “norma”, yang dalam tulisannya Maria S menggunakan istilah “nama baik”, yang berlaku. Oleh karena itu anomali pada ketentuan ini akan mengantarkan perempuan pada kondisi menyedihkan.

Salah satu aspek kepemimpinan yang juga cukup banyak dituliskan oleh kawan-kawan muda ini adalah masalah “konflik”, baik yang dihadapi dirinya sendiri, maupun yang terjadi dalam organisasi. Konflik memang tak pernah bisa dilepaskan dari kepemimpinan. Ibarat garam, konflik sesungguhnya dapat berguna bagi pengembangan kepemimpinan, namun jika terlalu intensif dan berat akan menghancurkan kepemimpinan tersebut. Konflik dalam gerakan perempuan juga demikian.

Bukanlah rahasia jika cukup banyak organisasi perempuan dan potensi kepemimpinan perempuan yang hancur karena konflik yang tak mampu dikelola dengan efektif. Hal ini menjadi pengamatan perempuanmuda yang menulis kali ini pula. Seperti yang dituliskan Melania Pasifika Kirihio tentang gerakan perempuan di Papua. “Memasuki tahun 2012 sebenarnya terlihat jelas situasi perempuan, khususnya dalam gerakan perempuan di Papua mulai terpecah belah, nampak seperti kehilangan figur pemimpin, bahkan para aktivis mulai memetakan diri masing-masing”. Tidak berdaya menghadapi hal ini, Melania kemudian mencoba mengembangkan kepemimpinan dirinya melalui berbagai inisiatif lain seperti mengorganisir pekerja seks dan membuat forum belajar lewat dunia maya, sehingga dia tetap secara konsisten mengembangkan kepemimpinan dirinya. Tidak demikian halnya dengan Olvy Octavianita Tumbelaka dari Kalimantan Timur yang bekerja bersama masyarakat adat di sana.

Kasus demi kasus yang dihadapi lembaganya saat ini, membuat Olvy menjadi galau akan pilihannya bergerak dalam arena ini. Normal saja, sebagai anak muda Olvy memang sudah seharusnya terus menerus mencari jati diri dan arena yang paling tepat baginya untuk mengembangkan potensi kepemimpinannya, sebagaimana yang dibagikan ceritanya oleh sebagian besar perempuan muda yang menulis kali ini.

Kadang kita memang bisa memilih arena untuk mengembangkan kepemimpinan kita melalui kerja-kerja tertentu yang sesuai dengan latar belakang pendidikan, pengalaman dan harapan. Namun, tidak jarang pula kita terdampar pada satu kondisi yang membuat jiwa dan kepemimpinan kita bergolak dan tergerak untuk melakukan sesuatu. Sebagian perempuan muda yang bercerita kali ini mengalami hal demikian.

Salah satunya adalah Hiswita Pangau, perempuan muda berdarah Manado yang bekerja di Papua mengorganisir perempuan pekerja hiburan malam di wilayah ini. Menurutnya, bermimpi pun dia tidak pernah untuk terjun di dunia yang tidak mudah ini. Namun sebagai perempuan muda pemimpin, Hiswita tampaknya berhasil untuk melihat arena ini sebagai kesempatannya mengembangkan potensi kepemimpinannya.

Lalu, setelah membaca 20 tulisan perempuan muda ini, apa yang bisa aku rangkaikan untuk pemaknaan kepemimpinan perempuan muda dalam gerakan perempuan? Seperti melihat kotak Pandora, membaca dua puluh cerita ini mengantarkanku pada warna-warni kepemimpinan aktivis perempuan muda, yang akhirnya meneguhkan pemaknaan kepemimpinan yang aku yakini selama ini. Aku ingin kembali mengutip tulisan Niken Lestari tentang arti pemimpin baginya; “kepemimpinan yang kuat ditunjukkan di tengah keterbatasan, konflik dan kesulitan yang memerlukan strategi yang tepat, negosiasi, kecepatan, dan keberanian membuat keputusan”. Sangat jelas disini bahwa kepemimpinan sesungguhnya tidak ada urusannya dengan posisi dan kekuasaan sebagaimana selama ini konsep kepemimpinan dipahami secara “mainstream”. Dan ketika kepemimpinan bermakna struktural yang terkait langsung dengan kekuasaan dan posisi, maka akan sangat besar potensi konflik yang terjadi. Kedua puluh cerita ini mengajarkan pada kita bahwa sesungguhnya kepemimpinan adalah tentang kemampuan diri untuk berarti dan membuat kehidupan menjadi lebih baik, membawa perubahan yang mendasar bagi kepentingan masyarakat, dalam tatanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu, kepemimpinan bukan untuk diperebutkan, karena setiap diri bisa menjadi pemimpin dan harus menjadi pemimpin. Dan pemimpin yang hebat adalah pemimpin yang mampu membuat orang lain menjadi pemimpin pula agarkehidupan semakin mudah dijalani. Hal ini bisa dimulai dari hal sederhana, keseharian dan kecil saja, tak berbiaya besar, dan tidak pula membutuhkan wadah yang mapan, dan bisa dimulai saat ini juga.

Jika hal ini diyakini dan diterapkan dalam gerakan perempuan, rasanya tak perlu ada lagi cerita terpecah belahnya organisasi perempuan karena persoalan kepemimpinan. Begitulah konsep kepemimpinan- yang akan terus menerus kami kembangkan dan sosialisasikan melalui proses pengorganisasian JASS dan FAMM Indonesia.

Terima kasih kepada seluruh penulis yang telah berani, jujur dan bijak serta menginspirasi melalui cerita yang luar biasa ini. Satu kehormatan bagi ku untuk membaca semua kisah dan membuatkan pendahuluan buku ini. Jika berkenan aku memberi judul “PANDORA: Gerak Kepemimpinan Aktivis Muda” Terima kasih kepada tim FAMM-Indonesia dan JASS-SEA; Niken, Maria, Midha, dan Elin yang telah mengurusi dan menekuni upaya ini. Terima kasih kepada Mumu yang sabar dan setia menemani dalam proses ini. Dan tentunya terima kasih kepada HIVOS, JASS dan PEKKA yang telah memberikan dukungan dan sumberdaya sehingga hal ini dapat diwujudkan. Kepada para pembaca, selamat menikmati cerita perempuan muda dan semoga dapat ikut meneguhkan pemaknaan kepemimpinan yang kita dambakan.

 

Provincetown, USA, 5 September 2013

Nani Zulminarni

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *