Buku Mahina Masohi: Pergerakan Perempuan Muda Mengukir Zaman

Pada tahun 2016 – 2017, FAMM Indonesia dengan dukungan MAVC (Making All Voices Counted) menerbitkan sebuah buku berjudul “MAHINA MASOHI: Pergerakan Perempuan Muda Mengukir Zaman”. Buku ini berisi kumpulan tulisan tim penelitian Mahina Masohi untuk mengukur tingkat partisipasi perempuan muda di desa.

Silahkan download Buku Mahina Masohi


Pengantar

Oleh, Dari, Dan Untuk Perempuan Muda Indonesia

MAHINA MASOHI

Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”

~Soekarno (Bung Karno)~

Bung Karno sangat lah benar, bahwa kehadiran pemuda – dalam hal ini termasuk pemudi, atau “orang muda” merupakan kekuatan dahsyat yang dapat membawa perubahan pada kehidupan. Kehadiran orang muda membawa tanda perubahan zaman, dan dalam kehidupan sosial juga menjadi tanda regenerasi yang berjalan. Jika demikian pemikirannya, dapat dipastikan orang muda memiliki ruang dan kesempatan luas untuk mengaktualisasikan diri menjawab tuntutan zaman nya sendiri.

Namun dalam kehidupan nyata tidaklah demikian. Orang muda, khususnya perempuan muda ternyata tidak selalu mendapatkan keistimewaan sebagai subyek penentu kehidupan masyarakat di pergerakan zaman. Dominasi berbagai dimensi perbedaan termasuk kelas sosial, gender dan usia yang berlaku dalam masyarakat, telah membatasi ruang gerak perempuan muda untuk mengembangkan segala potensi yang dimilikinya. Sebagai akibatnya, berbagai potensi, inisiatif dan kreasi perempuan muda dalam masyarakat belum secara optimal tereksplorasi menjadi bagian dari pergerakan sosial khususnya gerakan perempuan di masyarakat.

FAMM Indonesia sebagai sebuah forum perempuan muda yang kritis, menggali dinamika pergerakan perempuan muda dalam kehidupan sosial melalui riset yang diberi nama Mahina Masohi yang dalam bahasa Maluku berarti “aktivitas tolong menolong yang dilakukan oleh sekelompok perempuan untuk tujuan tertentu”.

Riset dengan pendekatan “peer learning” ini merupakan bagian dari strategi membangun gerakan sosial perempuan muda Indonesia. Membaca hasil riset yang dilakukan oleh tim yang juga terdiri dari perempuan-perempuan muda anggota FAMM Indonesia, saya menemukan beberapa hal menarik yang perlu digaris bawahi.

Pertama; perempuan muda Indonesia berkiprah dalam ranah yang luas dan beragam. Mereka tidak hanya menyoal aspek kehidupan yang secara langsung terkait dirinya seperti isu kekerasan seksual, pernikahan dini, dan ketubuhan perempuan, namun juga pada persoalan rumit dan luas lainnya seperti lingkungan hidup, perilaku masyarakat, dan pembangunan secara keseluruhan. Selain itu, perempuan muda juga berjuang di arena pelestarian alam dan seni budaya yang terancam punah tergerus pembangunan dan globalisasi. Dalam hal ini tidak sedikit dari mereka yang menjadi pelopor dan bekerja secara mandiri dengan sumberdaya yang terbatas.

Kedua; pergerakan perempuan muda Indonesia umumnya diawali dari lingkar kehidupannya sendiri dengan arah pergerakan horizontal. Artinya, mereka lebih bergerak meluas daripada menembus struktur ke atas. Hambatan sosial kultural yang menempatkan orang muda sub-ordinat menjadi salah satu faktor yang membuat mereka cenderung bergerak strategis menjangkau komunitas yang setara dengan mereka dan memiliki toleransi yang cukup tinggi pada “kemudaan” mereka.

Ketiga; perubahan status perempuan muda; dari lajang kemudian menikah, masih menjadi faktor penting dalam menentukan keberlanjutan kiprah mereka dalam masyarakat. Sikap dan dukungan “suami” apakah mendukung apa yang telah mereka lakukan atau tidak, masih menjadi penentu kerja-kerja pengorganisasian yang mereka lakukan. Budaya patriarki yang memberikan otoritas penuh pada suami untuk mengatur kehidupan istri serta tuntutan peran reproduksi dan domestik membatasi pilihan perempuan muda mengembangkan kreasi dan inisiatifnya.

Keempat; sepertinya masih ada kesenjangan generasi serta kesenjangan desa – kota dalam pergerakan perempuan muda Indonesia. Pembelajaran dari generasi terdahulu tidak selalu tersampaikan pada mereka sehingga terjadi pengulangan persoalan dengan strategi merespon yang tidak terlalu beranjak dari sejak dulu. Sebagian besar persoalan dan tantangan yang dihadapi perempuan muda saat ini masih merupakan pengulangan dari generasi sebelumnya dengan respon yang hampir sama pula. Misalnya isu pernikahan anak, pelecehan seksual dan diskriminasi gender.

Kelima; desa merupakan basis strategis untuk melakukan berbagai perubahan khususnya dalam merespon berbagai bentuk kuasa tersembunyi dan tak terlihat yang mengkonstruksi tata nilai kehidupan masyarakat. Pengorganisasian yang dilakukan di tingkat akar rumput di desa, dapat berkontribusi pada proses membangun tata nilai yang lebih adil khususnya pada perempuan.

Keenam; perempuan muda menghadapi multi tantangan karena gender, usia, asal usul dan kelas sosialnya. Dibutuhkan kreativitas dan inovasi untuk menghadapi multi kesenjangan ini agar potensi perempuan muda untuk menjadi penoreh zaman dalam konteks yang terus bergerak dapat optimal dilakukan. Afirmasi bagi perempuan muda Indonesia harus menjadi strategi yang dipilih secara sadar agar regenerasi dapat berjalan sesuai dinamika konteks dan zaman.

Atas selesainya studi kasus dan terbitnya buku ini, saya mengucapkan selamat kepada perempuan muda anggota tim peneliti dan penulis kasus; Ajeng Herliyanti, Alifatul Arifiati, Hasmida Karim, Herlia Santi, Indira Gandi, Maria Mustika (alm), Mariamah Achmad, Mittya Ziqroh, Olvy Octavianita Tumbelaka, Siti Harsun, dan Vivi Marantika. Juga selamat kepada Niken Lestari yang mendedikasikan waktu, tenaga dan pikiran untuk mengkoordinir penelitian dan memproses hasilnya lebih lanjut menjadi buku ini.

Penghargaan dan terima kasih diberikan kepada Shelly Adelina dari Program Studi Pascasarjana Kajian Gender UI yang telah membantu tim menajamkan rancangan penelitian ini, serta Dina Lumbantobing dari PESADA yang telah memfasilitasi workshop penulisan dan analisis serta membantu tim membantu ketajaman analisa tim dalam buku ini. Penghargaan dan terima kasih juga diberikan kepada semua lembaga yang telah bekerjasama dengan FAMM Indonesia dalam melakukan penelitian ini termasuk Rumpun Perempuan dan Anak Riau (RUPARI), Pusat Studi Nagari, Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Kaltim, Fahmina Institute, Yayasan Palung, Aliansi Perempuan Sulawesi Tenggara (ALPEN), Serikat Paguyuban Petani Qaryah Thayyibah (SPPQT), dan Himpunan Maluku untuk Kemanusiaan (Humanum). Kehadiran Making All Voices Count (MAVC) Practitioner Research and Learning Grants sebagai pendukung pelaksanaan penelitian ini tentunya sangat kami hargai.

Buku ini hadir sebagai sebuah produk pengetahuan berbasis komunitas perempuan muda yang dibuat oleh perempuan muda Indonesia dari berbagai pelosok negeri. Nara sumber, peneliti, penulis dan koordinator yang memungkinkan buku ini terbit, semuanya adalah perempuan-perempuan muda luar biasa yang terus berkarya dalam segala batasan dan keterbatasan yang mereka miliki. Secara khusus saya ingin memberikan tribute pada mendiang Maria Mustika, sebagai salah seorang peneliti dan penulis dalam buku ini, yang berpulang kehadapan Tuhan pada tanggal 21 Januari 2017, akibat sakit yang dideritanya. Buku ini menjadi karya terakhir dan abadi Maria Mustika yang akan menyumbang pada kemanusiaan dan keadilan yang ketika hidup terus menerus diperjuangkannya.

Secara pribadi dan mewakili Yayasan PEKKA (Yayasan Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga) yang menjadi “host” aktivitas ini bagi FAMM Indonesia, saya merasa bangga atas karya ini. Semoga buku ini dapat memberikan kontribusi besar pada pengembangan strategi penguatan pada perempuan muda Indonesia khususnya yang berada jauh dari sumber akses. Semoga pula buku ini dapat menginspirasi agar perempuan muda Indonesia dapat “mengguncang dunia” dengan karya dan kiprah hebat mereka.

Jakarta, 8 Februari 2017

Nani Zulminarni

Direktur PEKKA