Pemilu dan Masa Depan Gerakan Perempuan

Pemilu menjadi kontroversial di kalangan aktivis, khususnya aktivis perempuan dan pembela HAM. Beragam pertanyaan muncul: apakah pemilu berjalan untuk kekuatan rakyat? Apakah itu merupakan cara untuk memobilisasi akar rumput dan memajukan agenda gerakan perempuan? Atau apakah pemilu mengalihkan energi kita? Apakah pemilu merupakan bagian penting dari strategi kita? Tarik menarik antara gerakan dan pemilu adalah pertanyaan: apakah pemilu merupakan cara gerakan perempuan untuk mendapatkan kekuasaan dan melakukan perubahan?

Beragam pertanyaan itu merupakan refleksi dari gerakan perempuan di dunia. Di banyak negara, pemilihan umum berhasil dan gagal diterjemahkan ke dalam perubahan nyata bagi masyarakat. Dalam beberapa konteks, pemilu datang dengan peningkatan reaksi dan represi. Tetap saja, pemilihan umum sangat penting bagi kehidupan perempuan. Meskipun perempuan tidak dapat mengandalkan pemilu semata untuk membawa perubahan nyata, momen tersebut penting bagi komunitas untuk mengatur kembali prioritas bersama dan memobilisasi pendukung.

Just Associate melakukan Dialog kelima yang mengusung tema “Elections: What do they mean for our movements?” pada tanggal 22 September 2020. Dialog tersebut berhasil mempertemukan delapan perempuan aktivis dari berbagai negara untuk berbagi wawasan dan perspektif. Dialog ini menjadi penting di tengah dunia yang berada dalam krisis dan konteks yang berubah cepat. Perubahan yang terjadi membutuhkan pengorganisasian yang kuat, membumi dan cerdas secara strategis. Gerakan perempuan perlu melakukan analisis yang lebih tajam tentang masalah yang dihadapi, celah bagi gerakan, dan upaya yang lebih efektif dan lebih aman untuk mencapai tujuan bersama. Dialog ini memungkinkan mitra JASS untuk belajar dari satu sama lain, sehingga dapat melihat dan menangkap peluang dengan lebih baik serta memperkuat gerakan perempuan secara menyeluruh untuk masa depan yang adil.

Niken Lestari, pemimpin FAMM Indonesia menyampaikan beberapa gagasan penting. Ia memahami bahwa pemilu merupakan bentuk demokrasi konstitusional untuk melegitimasi kekuasaan, maka pemilu ini penting sebagai bagian dari strategi gerakan perempuan. Seringkali hasil pemilu atau proses pemilu itu sendiri berdampak langsung maupun tidak langsung terhadap kehidupan & pergerakan perempuan. Pemilukada juga terjadi di tingkat desa hingga nasional sehingga kita / aktivis dapat memilih tingkat advokasi kita sesuai dengan kemampuan kita. Pemilihan di tingkat desa dan kabupaten sama pentingnya dan esensial bagi gerakan politik akar rumput kita. Pemilihan dapat digunakan untuk menilai sejauh mana komunitas dampingan telah berubah dan ke arah mana.

Niken mengatakan, “Anggota FAMM Indonesia telah melakukan pendidikan politik dan pengorganisasian komunitas untuk menantang konsep kekuasaan dan representasi. Hal ini kami lakukan dengan berdiskusi dan menganalisis kekuatan dalam keluarga, memberikan dukungan kepada anggota masyarakat untuk menjadi pemimpin di tingkat desa, menjadi pemimpin agama perempuan di masyarakat, dan berbagai peran kepemimpinan di tingkat akar rumput yang dapat dihubungkan, berhubungan dekat, dan banyak orang merasakan dampak langsung.”

Niken menambahkan, dengan adanya UU Desa tahun 2014, banyak organisasi perempuan, termasuk PEKKA dan PESADA telah berhasil mendukung perempuan untuk dipilih menjadi pemimpin Badan Permusyawaratan Desa atau sebagai kepala desa untuk mempengaruhi kebijakan desa dan anggaran daerah. Pilkada merupakan wilayah terdekat dan penting untuk mengubah narasi kekuasaan dan kepemimpinan feminis.

Sebagai penutup, Niken menyampaikan bahwa pasca pemilu, banyak komunitas yang dibiarkan rusak dan termakan janji-janji kosong yang dibuat oleh politisi. Pemilu adalah momen di mana para aktivis biasanya bekerja lebih keras untuk menjawab dan melawan berbagai narasi yang berlawanan. Ujung-ujungnya, aktivis perempuan sebagai bagian gerakan mengalami trauma. Dalam kerja pendampingan di akar rumput, aktivis perempuan berupaya memulihkan energi dan semangat untuk berjuang kembali.