Harus Berani Memulai Usaha

FAMM Indonesia bekerjasama dengan Korps PMII Puteri Jawa Barat mengadakan webinar dengan tema “Berdaya secara Kolektif melalui Kreativitas Usaha – Seputar Inovasi Kelompok dan Individu” melalui Zoom Meeting pada tanggal 11 Juli 2020 dengan peserta 32 orang dan 80% adalah perempuan muda.

Niken Lestari sebagai Koordinator FAMM Indonesia yang memiliki usaha dibidang jasa transkrip dan Seliani sebagai Guru Masyarakat Adat yang menjadi Tim Unit Usaha PEREMPUAN AMAN PHD Lou Bawe dipercaya sebagai narasumber dengan Reni Murniati dari KOPRI Jawa Barat sebagai moderator.

Niken menuturkan bahwa usahanya dibidang jasa transkrip bernama TranscriptDOC. Usaha itu dibangun dekitar tahun 2010. Berawal dari kesenangan mendokumentasikan proses sebagai kekuatan dan bagian dari dinamika perkembangan suatu organisasi. Ia memahami pentingnya mengorganisasikan data, informasi, dan pengetahuan dalam berbagai bentuk.

Motivasi utamanya dalam membangun usaha adalah karena ia pindah domisili (dari Jakarta ke Malang), sehingga ia tidak memiliki penghasilan. Ia merasa usaha dibidang ini tidak memerlukan dana yang besar. Ia memulai usaha dengan modal yang dimiliki berupa peralatan elektronik, akun Gmail dan Website. Kliennya pada saat itu adalah teman kerja dan kuliah. Pada 2013 ia mulai menggunakan aplikasi keuangan berbasis web yaitu Jurnal dan Sleekr. Tahun 2016, TranscriptDOC sudah dapat merekrut Staf Administrasi dengan penghasilan yang lebih baik. Di 2017, TranscriptDOC memiliki tim kerja yang lebih solid dan pengelolaan keuangan lebih baik. Sejak 2019 sampai saat ini, Transcriptdoc mengalami kenaikan laba.

Berbeda dengan Niken dengan usaha pribadinya, Seliani dari Perempuan AMAN PHD Lou Bawe memulai usaha dengan membangun kelompok usaha di komunitas masyarakat adat. Kelompok usaha ini dibangun untuk memenuhi kebutuhan pangan rumah tangga selama perubahan iklim (banjir dan kemarau) dan wabah Covid-19. Kelompok usaha beranggotakan 3 hingga maksimal 5 orang dengan 1 orang bertanggung-jawab sebagai ketua. Ia menyampaikan bahwa proses membangun usaha kelompok itu memiliki proses yang panjang. Dimulai dari pemetaan kebutuhan dengan menelepon atau sms melalui kader-kader yang ada di masing-masing komunitas/kampung.

Hasil pemetaan berupa kondisi terkini, situasi komunitas dan kebutuhan komunitas. Selanjutnya adalah pengorganisasian yang dilakukan melalui kader-kader di setiap kampung dengan membagikan informasi mengenai rencana kelompok usaha dan mendata siapa saja yang ingin berpartisipasi dalam kelompok usaha di komunitas tersebut. Diskusi ini juga membahas tentang proses  membentuk kelompok usaha komunitas dengan swadaya, di mana masing-masing anggota kelompok usaha berbagi sumber daya, berbagi pengetahuan, dan berbagi peran. Selain itu, sistem pertukaran hasil kelompok unit usaha juga dilakukan dengan harapan dapat saling memenuhi kebutuhan rumah tangga anggota yang lain.

Sebagai kesimpulan, narasumber sepakat bahwa modal usaha yang terpenting adalah semangat mandiri secara ekonomi, mau berproses dan ulet. Segala sesuatu harus dimulai dengan aksi, bukan hanya dipikirkan dalam angan-angan. Hal yang perlu dilakukan bagi pemula adalah mulai saja dulu karena setelah berjalan, kita akan tahu hambatan atau rintangannya, dan dalam proses itu kita bisa melakukan perbaikan dan menemukan solusi.