Hak Perempuan Adat atas Wilayah dan Kekayaan Alam

Masyarakat adat secara umum menghargai dan menggantungkan hidup dari sumber alam yang ada di gunung dan di sungai. Berbeda dengan masyarakat modern yang memandang alam sebagai hal yang harus ditaklukan dengan berbagai cara, sehingga terciptalah ekspansi yang tidak terkendali.

Posisi perempuan adat memainkan peran kunci di kampung-kampung secara politik, sosial, ekonomi, kesehatan dan budaya. Ruang hidup sekaligus ruang kuasa perempuan adat dimulai dari pengalaman meramu dan pengetahuan tentang tanaman obat serta peran dalam menenun dan membuat kerajinan tangan lainnya. Perempuan adat juga menghasilkan pangan utama dalam komunitas, menjaga ekosistem dan melakukan transfer pengetahuan antar generasi melalui sekolah adat sebagai sekolah kehidupan. Selain itu, perempuan berperan dalam menjaga perdamaian, melestarikan bahasa serta sebagian diberi kesempatan memimpin kampung untuk mempertahankan wilayah adat. Perjuangan tersebut telah dibuktikan oleh Mama Yosefa Alomang, Nae Sinta Sibarani, dan Mama Aleta Baun bahwa perempuan di berbagai belahan dunia merupakan pihak yang berjuang sampai akhir dalam berbagai kasus perampasan wilayah adat.

Meski peran perempuan adat sangat penting, praktik kekerasan dan diskriminasi berlapis terus terjadi. Peminggiran perempuan dalam proses pengambilan keputusan di kampung masih terjadi dan Perempuan adat rentan mengalami kekerasan melalui berbagai praktek budaya, atas nama leluhur dan norma yang berlaku. Salah satunya adalah Perempuan adat mendapat beban kerja ganda karena dituntut mengurus  rumah tangga dan menjaga sumber daya alam.

Globalisasi dan kebijakan pembangunan yang merampas wilayah adat telah mencabut perempuan adat dari ruang kehidupan sekaligus ruang kuasa mereka. Perempuan ditarik jauh, bahkan diceraikan dari alam. Praktik pembangunan telah menarik masyarakat adat keluar dari keintiman relasinya dengan alam dengan tujuan menggantikan kepemilikan atas sumber daya. Implikasinya bagi masyarakat adat adalah shock, kebingungan, amarah karena perubahan hak-hak komunal menjadi individu yang membuat wilayah adat lebih mudah untuk dikuasai. Dalam masyarakat ekonomi modern, kepemilikan atas sumber daya diatur oleh mekanisme pasar. Di dalam masyarakat yang patriarkal, kepemilikan akan diberikan kepada laki-laki secara individu. Dalam catatan sejarah masyarakat adat Moskona – sebuah distrik di Teluk Bintuni, Papua Barat – Indonesia, pihak yang melakukan penjualan hutan itu adalah laki-laki yang menjabat sebagai kepala suku dan kampung.

Studi di UN [kepanjangannya dan tahun berapa] menjelaskan bahwa globalisasi secara langsung menyebabkan tingkat kemiskinan lebih tinggi yang dialami perempuan, peningkatan kekerasan domestik, terjadinya kekerasan seksual dalam konteks perdagangan perempuan dan konflik bersenjata. Peran perempuan dalam komunitas mengalami kemunduran seiring dengan hilangnya wilayah adat dan ruang hidup. Lingkaran setan diskriminasi dan kekerasan terhadap perempuan adat harus dihentikan. Perlu ada pengakuan dan penghormatan terhadap hak-hak perempuan  adat dari negara terkait peran dalam menjaga keseimbangan alam dan penghidupan komunitasnya.