FAMM in Action; Respon Covid-19

 

Pandemi Covid-19 telah berdampak di segala aspek kehidupan khususnya dari sisi kesehatan dan ekonomi. Selain belum menunjukan kurva penurunan kasus yang terdampak, pandemi ini juga mengakibatkan masyarakat kehilangan akses ke perlengkapan kesehatan seperti  hand-sanitizer (cairan pencuci tangan) dan masker. Pemberlakuan kebijakan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) di banyak kabupaten/kota mengakibatkan warga kehilangan sumber pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup selama pandemi. Hal ini menjadi perhatian anggota FAMM Indonesia yang melakukan pendampingan di tingkat desa.
 
Mengingat besarnya jumlah masyarakat yang terdampak pandemi, FAMM Indonesia atas dukungan JASS Southeast Asia berinisiatif untuk melakukan aksi bersama secara cepat untuk jangka waktu pendek. Inisiatif ini dimulai oleh anggota FAMM Indonesia dalam skala kecil. Sebagai contoh, anggota kami melibatkan anggota masyarakat untuk memproduksi atau membeli masker dan cairan pembersih tangan untuk dibagikan. Di tempat lain, anggota FAMM Indonesia mengumpulkan uang dan bahan makanan untuk dibagikan ke warga yang lebih membutuhkan. Di Lampung, anggota kami bekerja sama dengan petugas kesehatan memproduksi dan menyiarkan langkah-langkah pencegahan Covid-19.

Ada berbagai komunitas dampingan yang menerima bantuan ini. Misalnya Puskesmas di Ketapang dan Pontianak, keduanya di Kalimantan Selatan. Anggota FAMM Indonesia di Ketapang yaitu Mariamah Achmad dari Yayasan Palung membagikan masker ke pedagan kecil, pemulung, dan warga miskin yang harus keluar rumah untuk bekerja. Di Pontianak, Reny dari PPSW Borneo mengorganisasi perempuan dampingan membuat masker untuk anak-anak. Hal ini dilakukan karena sedikit sekali anak-anak yang menggunakan masker.

Di Papua, FAMM Indonesia berkolaborasi dengan OPSI membagikan bantuan kepada perempuan pekerja informal, termasuk transpuan dan pekerja seks. Selain itu, bantuan juga didistribusikan kepada perempuan dengan HIV dan perempuan korban kekerasan. Kebijakan PSBB yang diberlakukan ikut membatasi ruang gerak anggota kami di lapangan. Misalnya Hiswita di Jayapura yang bekerja sebagai organisator komuntias tidak dapat mengunjungi dan memberikan obat-obatan HIV kepada perempuan yang membutuhkan. Beberapa layanan kesehatan juga ditutup dan tidak lagi menerima kunjungan dari pasien.

Bantuan lainnya diberikan kepada perempuan miskin dan keluarga dari penyandang disabilitas dan perempuan kepala rumah tangga. Bantuan tersebut digunakan untuk pembuatan masker, cairan pembersih tangan, bahan makanan, obat-obatan, dan biaya komunikasi. Biaya komunikasi diberikan mengingat banyak anggota FAMM Indonesia yang juga bekerja dari rumah dan bergantung pada koneksi internet berbasis seluler. Organisasi yang terlibat dalam kegiatan ini diantaranya: Humanum di Maluku, Alpen sultra di Sulawesi Tenggara, DAMAR di Lampung, SAPDA di Yogyakarta dan SB Simatupang di Jakarta dan Depok.