Perempuan Bergerak dan Memimpin; Sebuah Refleksi Hari Perempuan Internasional 2020

Oleh Apriyanti Marwah.
Seorang feminis muda, telah menyelesaikan Program Studi Master of Public Administration dan merupakan Staf Program & Knowledge Managemenf FAMM Indonesia. Tertarik pada literasi media, konten dan kebijakan yang ramah pada perempuan.

Hari Perempuan Internasional diperingati di seluruh dunia dengan beragam bentuk dan beragam cara, disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan setiap individu dan atau kelompok di setiap negara. Bagaimana perasaan kamu ketika mendengar Hari Perempuan Internasional? Senang, sedih, bangga atau merasa biasa saja, dan berpikir itu tidak terlalu penting?

Saya sendiri memaknai peringatan Hari Perempuan Internasional sebagai sebuah refleksi bersama, tidak melulu ditujukan kepada perempuan, tetapi semua gender yang memiliki keterkaitan satu dengan lainnya. Kita tidak bisa abai terhadap persoalan yang terjadi di depan mata, baik yang kita lihat, dengar atau baca. Persoalan kekerasan yang dialami perempuan adalah bagian dari masalah sosial yang terjadi baik di rumah, di sekolah, di kampus, di tempat kerja, maupun di tempat bermain dan ruang publik lainnya.

Sejak kecil saya melihat suasana tidak menyenangkan terkait kekerasan yang dialami perempuan di rumah tangganya. Beranjak remaja, saya melihat kekerasan itu dilakukan oleh teman sebaya dan seorang guru. Sampai di kampus, kondisi tidak menyenangkan bagi perempuan terus terjadi, mulai dari label negatif terhadap perempuan dengan istilah ‘ayam kampus’, pelecehan yang dilakukan kakak tingkat, teman dan dosen, sampai perkosaan pada kesempatan berprestasi dan kepemimpinan perempuan. Sampai kapan ini akan terjadi?

Pertanyaan itu terus muncul di kepala saya, terutama ketika saya membaca berbagai kasus kekerasan yang dialami perempuan. Misalnya berita tentang perkosaan anak oleh ayah kandungnya, pelaporan korban kekerasan seksual oleh tersangka dan banyak kasus lainnya. Hal ini menunjukkan kenaikan jumlah kekerasan dan keragaman bentuk kekerasan terhadap perempuan yang terjadi akibat relasi kekuasaan yang tidak setara di masyarakat.

Atas dasar hal tersebut, saya tidak memiliki alasan untuk tidak tergerak dan bersolidaritas. Saya berusaha membangun kesadaran, kewaspadaan, dan persaudarian dengan sesama perempuan. Hal ini yang mendorong saya untuk terlibat dalam gerakan massa, mengosongkan kelas, turun ke jalan, bersuara, dan melakukan protes. Apakah setelah melakukan kegiatan tadi, persoalan selesai? Tidak, tapi saya tidak diam ketika terjadi kekerasan. Saya melakukan sesuatu untuk perubahan. Saya tahu itu bukan hal yang instan, tapi lebih baik daripada berdiam diri.

Perasaan haru, bangga, marah sekaligus lelah juga saya rasakan pada peringatan Hari Perempuan Internasional 8 Maret lalu. Saya terharu dan bangga karena mendapat kepercayaan  untuk memimpin aksi di Jakarta yang melibatkan sekitar 5.000 massa aksi yang terdiri mahasiswa, buruh, perempuan adat, pegiat HAM, dan lingkungan. Saya merasa aktivis perempuan dari generasi sebelumnya telah memberi ruang bagi saya untuk mengembangkan diri tanpa takut tersaingi. Padahal usia saya paling muda dari teman-teman panitia lain. Saya juga belum mengenal seluruh anggota aliansi dan belum berpengalaman memimpin aksi sebesar itu. Saya terharu ketika saya dapat mengajak teman-teman terdekat untuk terlibat dalam aksi dengan skala besar. Rasa lelah yang saya rasakan tidak sia-sia karena dalam aksi tersebut saya belajar berkomunikasi dengan massa yang besar, mendengarkan berbagai kepentingan antar kelompok, dan memberi kesempatan yang sama kepada seluruh peserta aksi.

 

Saya merasa kecewa dan sangat marah karena dalam aksi tersebut terjadi tindakan pelecehan verbal yang dilakukan oleh oknum dan aparat yang bertugas terhadap peserta aksi. Hal ini semakin menguatkan keyakinan saya bahwa perempuan harus terus bersuara dan bersolidaritas untuk melawan kekerasan!