Ulasan Buku Studi Kasus FAMM Indonesia “Solidaritas, Keamanan dan Kekuatan”

Oleh Apriyanti Marwah

“Solidaritas, Keamanan dan Kekuatan”

Buku ini ditulis oleh Jethro Pettit, Editor : Alexa Bradley & Annie Holmes, kontribusi utama oleh : JASS Asia Tenggara, Anggota FAMM, Dina Lumbantobing, Nani Zulminarani, Marusia Lopez dan Carrie Wilson.

Buku ini hadir berdasarkan pada refleksi  yang luas, kesaksian, dan input yang tertulis dari anggota FAMM dan pendukung lainnya. Melalui wawancara, lokakarya, sebuah proyek riset, blog, dan dokumen seperti proposal dan laporan. Kutipan dalam laporan ini berasal dari dokumen yang tertera pada buku, dan dari wawancara riset dengan anggota keluarga.

Forum Aktivis Perempuan Muda Indonesia (Forum Aktivis Perempuan Muda Indonesia atau FAMM)- jaringan lebih dari 350 wanita muda dari 31 provinsi di seluruh Indonesia, FAMM menyatukan aktivis pedesaan, perkotaan, masyarakat adat, Muslim, Kristen, dan LBTI. Anggota FAMM mengatasi masalah yang berisiko dan sensitif seperti mempertahkankan lahan dan air terhadap inisiatif ‘pembangunan’ yang merusak lingkungan, hak untuk perempuan dan komunitas LGBTI, dan keamanan pribadi dan kolektif dari kekerasan domestik dan politik.

Awalnya bernama ‘JASS Indonesia,’ kemudian berganti nama menjadi FAMM pada tahun 2012, kelompok ini berevolusi dari proses-proses gerakan feminis yang difasilitasi oleh JASS Asia Tenggara, ditemani oleh organisator dan mentor Indonesia yang berpengalaman, Nani Zulminarni dan Dina Lumbantobing sejak 2007. Melalui fasilitasi refleksi kritis – menggabungkan pengalaman dan pembelajaran analitis – menghasilkan proses pengembangan kepemimpinan gerakan yang bersifat transformatif baik secara individual maupun kolektif. Kesadaran politik, solidaritas, dan dukungan yang dihasilkan bersama di antara anggota FAMM berfungsi sebagai dasar untuk kekuatan dan keamanan kolektif yang lebih besar.

Buku ini menelusuri alur perjalanan FAMM dan menguraikan metodologi utama di balik pertumbuhannya sebagai upaya berbagi pelajaran berharga. Bagi sebuah jaringan pengorganisasian dan hak asasi manusia seperti FAMM yang muncul di konteks terkini dengan semakin tertutupnya ruang sipil, meningkatnya fundamentalisme agama dan kekerasan maka hal ini bukanlah prestasi kecil. Selain dari ketidaksetaraan kelas dan gender yang terjadi sejak lama, perempuan Indonesia menghadapi peningkatan diskriminasi dan pembatasan karena kebijakan neoliberal mengikis hak-hak buruh dan perlindungan terhadap lingkungan, pemerintah berkolusi dengan kekuatan perusahaan untuk merebut tanah, dan fundamentalisme membentuk norma dan kebijakan. Secara khusus para aktivis yang bekerja di  pedesaan, masyarakat adat, generasi muda, dan /atau LGBTI yang – meskipun Indonesia kaya dengan sejarah gerakan hak-hak perempuan –  dipinggirkan, dikriminalisasi, dan distigmatisasi dalam penindasan yang saat ini terjadi lebih ketat.

Point penting dalam buku tersebut merangkum pelbagai nilai dan prestasi FAMM Indonesia yakni, keanggotaan inklusif dan solidaritas, suara dan kepemimpinan, memfasilitasi dan memberikan bimbingan, pengetahuan dan impian serta kekuatan dan keamanan kolektif.

“Kita tidak punya uang untuk mengirim orang dan menyewa pengacara, tapi kita bisa menghubungkan anggota ke sumber, kita bisa mendengarkan, dan kita bisa menulis cerita mereka agar publik tahu. Kami menulis surat untuk keluarga mereka. Kami mengundang mereka ke bengkel kerja kami agar mereka merasa lebih percaya diri dan tidak terlalu kesepian. Kami berusaha memberikan dukungan moral, harapan, dan kehangatan bagi sanatorium mereka.” (Niken)

Ini merupakan salah satu kutipan yang menginspirasi dalam buku tersebut.

Kapasitas FAMM untuk merawat organisasi akar rumput, solidaritas lintas gerakan, dan aksi dan keamanan kolektif dapat dilihat sebagai buah dari sebuah investasi jangka panjang dalam kepemimpinan aktivis, dan sebagai batu loncatan untuk melakukan aksi publik dan politik. Dampak sebagai anggota FAMM terlihat pada saat mereka kembali ke organisasi, komunitas, dan gerakan masing-masing untuk berbagi pendekatan dan metodologi transformatif yang telah mereka pelajari bersama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *