Lokalatih Movement Building Initiative bersama KOPRI Jawa Barat

Lokalatih MBI (Movement Building Initiative) dilakukan bersama KOPRI (Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri) Jawa Barat pada tanggal 1-3 November 2019 lalu di Bandung, Jawa Barat yang difasilitasi oleh Niken Lestari (Koordinator Pelaksana) dan Alifatul Arifiati (Representatif Wilayah FAMM Indonesia).

Lokalatih ini diikuti oleh aktivis perempuan muda dari berbagai daerah dan kampus di Jawa Barat yang sebelumnya telah dibekali pengetahuan mengenai analisis gender dasar, hak-hak perempuan, perbedaan seks dan gender. Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Puteri (KOPRI) Jawa Barat merupakan organisasi kaderisasi mahasiswa ekstra kampus yang fokus pada pembangunan kapasitas dan kepemimpinan perempuan muda melalui berbagai jenjang kaderisasi baik formal, informal maupun non formal. Movement Building Initiative ini merupakan inisitif organisasi dalam penyelenggaraan kaderisasi non formal yang bertujuan dalam pembangunan kesadaran kritis dan penguatan gerakan perempuan serta terciptanya masyarakat yang ilmiah, demokratis dan adil gender. 

Jawa Barat merupakan provinsi dengan jumlah penduduk terbanyak di Indonesia. Berdasarkan proyeksi penduduk Indonesia 2015-2045, populasi di Jawa Barat mencapai 49 juta jiwa atau sekitar 18% dari total penduduk Indonesia yang mencapai 266,91 juta jiwa. Dengan populasi yang tinggi berbagai persoalan di Jawa Barat terutama menyoal ketimpangan mengemuka, baik ketimpangan sosial maupun ekonomi. Perempuan yang dikonstruk masyarakat patriarki memiliki sejumlah persoalan yang jauh lebih berat. Patriarki telah mendomestifikasi perempuan oleh karenanya perempuan mengalami diskriminasi dan berbagai ketidakadilan gender lainnya. Hal tersebut dapat dilihat dari bagaimana perempuan distigma/dilabeling, dimarginalisasi, disubordinasi, mendapatkan beban ganda dan cenderung lebih banyak mengalami kekerasan. Oleh karenanya perempuan lebih sulit mendapatkan akses pendidikan yang setara, akses kesehatan yang memadai dan lain sebagainya.

Hal tersebut juga dirasakan bagi aktivis perempuan muda seperti KOPRI. Sebagai perempuan dan muda, masalah yang dihadapi adalah penyempitan ruang gerak, karena aktivisme lebih banyak didominasi oleh aktivis senior (berpengalaman) dan laki-laki. Selain itu, KOPRI menghadapi realitas sosial yang kompeks yakni sistem pendidikan yang belum ramah terhadap perempuan dan aktivis perempuan, persoalan kekerasan terhadap perempuan yang terus meningkat, minimnya sumberdaya manusia yang secara sadar untuk berorganisasi, masa aktif kepengurusan terbatas karena aktivis perempuan cenderung lebih cepat menikah karena dorongan keluarga dan masyarakat patriarkal tersebut. Ditambah lagi ketika pernikahan dijadikan sebagai tempat pengabdian terakhir bagi perempuan. 

Lokalatih MBI menjadi penting bagi aktivis KOPRI karena kegiatan pembangunan inisiatif gerakan belum pernah dilakukan secara khusus dalam pengkaderan formal. Selain itu metode pelatihan dan ruang aman yang FAMM miliki diharapkan menjadi pengetahuan baru dan dapat diterapkan oleh KOPRI Jawa Barat.

 

 

 ___________________________

Editor : Apriyanti Marwah (Program & Knowledge Management FAMM Indonesia)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *