Tya: Dari Korban menjadi Pendamping Pemberdayaan Perempuan Muda

Ruangan sesaat hening, hanya ada satu suara bercerita tentang pengalaman mendampingi perempuan-perempuan korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Isak tangis lirih terdengar dari kanan dan kiri, saya bisa merasakannya sebagai tangisan empati dan simpati. Saya pun menangis, tangisan lara yang dulu pada saat remaja pernah saya rasakan.

Ingatan saya melayang ke waktu ketika saya berada di kelas dua SMA, menjelang ujian semester kedua, Ayah yang telah lama tidak pulang ke rumah, yang saya nanti-nanti, tiba-tiba datang ke rumah, dan seperti biasa ketika bertemu dengan ibu, bertengkaran terjadi, Ayah akan menikah lagi? Hancur hatiku. Saat itu yang terbayang difikiranku adalah bagaimana dengan sekolahku, tunggakan biaya yang harus dibayar? Sedangkan usaha Ibuku sedang tidak berjalan mulus, tetapi Ayah tidak peduli, dan pergi begitu saja.

Beruntung saya mendapatkan prestasi akademik yang mengantarkanku mendapatkan Tabanas, yang jumlahnya cukup untuk menutupi biaya-biaya sekolah yang sempat tertunggak. Sebelumnya, saya sempat khawatir jika prestasi di sekolah akan turun karena persoalan keluarga, ternyata saya justru bisa meraih juara umum di jurusan ilmu pendidikan sosial (IPS).

Ruangan ini adalah ruangan loka karya Movement Building Initiative (MBI) yang dilakukan pada tahun 2012 untuk wilayah Sumatra. Saya tidak akan lupa momen ini karena dalam loka latih, saya baru sadar ternyata banyak perempuan-perempuan yang memiliki pengalaman kekerasan seperti yang saya juga alami. Saya merasa tidak sendiri, bahkan saya mendapatkan banyak inspirasi untuk melakukan ‘sesuatu’, bagaimana agar angka kekerasan terhadap perempuan dan anak bisa berkurang. Saya sangat semangat menjadi bagian dari perempuan-perempuan muda aktivis di MBI ini.

Pada tahun 2016, Tya menjadi fasilitator MBI dan meneruskan tongkat estafet untuk melakukan regenerasi anggota FAMM-I di Sumatra dalam projek Penelitian Mahina Masohi

Saya menyadari bahwa saya bisa membantu banyak orang dan menjadikan perjalanan kecil hidup saya untuk terus berbagi dan membantu perempuan-perempuan agar bisa mentas dan terhindar dari kekerasan. Hingga saat ini saya terus mencoba melakukan pendidikan gender di komunitas dan kelompok-kelompok kecil. Hari ini saya mengambil bagian pendidikan penyadaran gender yang ditujukan untuk kawan-kawan pelajar. Kerja ini sangat penting karena saya percaya bahwa pelajar atau remaja yang akan menjadi tongkat estafet untuk meneruskan pengorganisasian bagi kelompok mereka masing-masing di masa depan.

Saya dengan teman-teman komunitas terus berfikir dan berusaha mengupayakan peningkatan ekonomi kreatif bagi perempuan pedesaan. Saya menyaksikan bahwa ekonomi dan pendidikan menjadi problematika utama bagi perempuan hari ini. Tidak hanya di desa, tetapi juga perkotaan. Beberapa saudara saya yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga, masalahnya berakar dari masalah ekonomi. Namun mereka juga memiliki keterbatasan dalam pendidikannya. Laki-laki atau suaminya merasa berkuasa atas dirinya. Sementara perempuan tidak memiliki kemampuan dan kecakapan untuk meningkatkan taraf perekonomiannya dan pada akhirnya tidak mandiri.

Jika penyadaran gender dan pemberdayaan terhadap perempuan ini terus menerus dilakukan, walaupun dalam lingkup kecil, maka perubahan sosial akan terjadi demi kehidupan perempuan yang lebih baik. Saya yakin jika kesejahteraan perempuan lebih maju, maka akan menyumbang peningkatan kesejahteraan untuk masyarakat pula.

————-alif————-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *