Menguatkan Gerakan Perempuan; Mulai Dari Memulihkan Diri

Seringkali, keterbatasan justru mendatangkan peluang. Setidaknya, ini pernah terjadi kepada Ajeng, perempuan kelahiran Jember ini. Awalnya, Rumah Perempuan Jember, tempatnya beraktivitas menjadi relawan, mendapatkan undangan untuk mengirimkan staf sebagai partisipan pada agenda Movement Building Initiative (MBI) yang dilakukan FAMM Indonesia di Malang. Saat itu, semua staf tidak ada yang bisa mewakili, karena memang jumlah staf sangat terbatas,hanya beberapa orang, akhirnya si sukarelawan lah yang mendapatkan ‘apel emas’ itu. Waktu itu tahun 2011, ketika FAMM Indonesia mulai memutuskan melakukan kaderisasi di tingkat subnasional, ada empat subnasional yaitu Sumatera, Jawa, Bali, dan NTB (JALINTB), Kalimantan, dan Sulawesi, Maluku, Papua (Sulmantap). Inilah awal pertemuan Ajeng dengan FAMM Indonesia, Forum Aktivis Perempuan Muda Indonesia.

Sebagai forum yang memiliki visi untuk membangun kesadaran kritis dan kepemimpinan feminis muda, demi terciptanya adil gender, kuat dan mandiri. MBI bukan satu-satunya upaya untuk melakukan kaderisasi aktivis perempuan, tetapi dengan serangkaian peningkatan kapasitas, pendokumentasian pengalaman perempuan sebagai pengetahuan kolektif perempuan, juga menyediakan ruang aman. FAMM berusaha untuk memberikan kesempatan yang sama kepada seluruh anggotanya, untuk mendapatkan pengetahuan baru, pengalaman baru, jejaring.

Dari proses bersama FAMM Indonesia, Ajeng belajar bahwa kebutuhan untuk pemulihan sangat penting bagi perempuan, khususnya perempuan pekerja sosial. Pemulihan memang bukan proses yang mudah dan jalannya tidak lurus dalam satu arah, kadang dalam proses pemulihan tersebut, banyak emosi yang terkuras dan memerlukan waktu dan kesabaran untuk sadar dan tetap berada dalam proses pemulihan.

Ajeng mengatakan “Saya memiliki banyak pengalaman tidak menyenangkan baik ancaman atau serangan secara fisik maupun verbal. Sejak masuk sekolah SD sampai SMA, saya selalu mendapat ancaman fisik dari kelompok laki-laki di sekolah, saya bahkan pernah dipukul oleh 5 laki-laki ketika sejak SD dan ini dilakukan sebagai bagian dari rundungan yang terjadi di kelas”. Kenapa mereka melakukan kekerasan dan perundungan kepada Ajeng?, “Saya sendiri kurang tahu penyebab pasti pemukulan itu mungkin karena ekspresi saya berbeda” ungkapnya.

Mulai satu sampai tiga tahun ke belakang, Ajeng mencoba untuk pulih dari luka-luka di masa kecil dan penolakan dari lingkungan. Tentu saja ini tidak mudah karena selama masa pemulihan, penolakkanpun terus terjadi. Semacam mengobati luka lama sementara beberapa orang mencoba membuat luka baru. Disitulah, Ajeng mulai terlibat dengan laku-laku meditasi dan yoga “untuk mengenali kembali tubuh saya”, begitu Ajeng menyampaikan alasannya.

Selain itu, Ajeng berusaha membuat ruangan yang inklusif untuk semua identitas dalam bekerja maupun dalam kehidupan sehari-hari. Termasuk berusaha menjadi pendengar yang baik dan ruang aman. Dalam Srikandi Lintas Iman (komunitas perempuan lintas iman di Yogyakarta), Ajeng selalu mengkususkan pembicaraan pada ruang aman sebagai ruang untuk istirahat dan merefleksikan gerakan perempuan.

Mencoba membuka ruang yang inklusif menjadi sangat penting karena manusia itu multi-identitas. Selain itu, tidak ada identitas yang dominan dalam tubuh manusia bahkan seiring berjalannya waktu atau berpindah tempat, maka identitas itu memiliki makna dan tafsir yang berbeda di masyarkat yang majemuk. Untuk itu sangat penting untuk membuka diri dan menguatkan setiap individu agar pengalaman mereka diakui dan disadari sebagai pengalaman kolektif perempuan.

Apakah perubahan-perubahan yang Ajeng lakukan, ada pengaruh dari FAMM Indonesia?. ”Perubahan tersebut terjadi karena melihat kekuatan kolektif yang ada di FAMM Indonesia dan juga adanya pemerimaan dari kawan-kawan FAMM atas diri saya. Kawan-kawan di FAMM sangat terbuka dengan diskusi dan dialog untuk mengurai prasangka sehingga ada kesempatan bagi saya dan kawan lain untuk mau bicara dan tidak malu terhadap pengalaman pribadi”.

Sebagai manusia, Ajeng mengakui bahwa kita tidak bisa bebas dari prasangka terhadap manusia atau kelompok namun dengan berusaha untuk terus membuka diri dan mendengarkan cerita-cerita personal serta pengalaman-pengalaman baru dari perempuan-perempuan di FAMM Indonesia, Ajeng percaya bahwa jiwa yang sehat juga akan menyumbang pada pencapaian gerakan perempuan yang semakin menguat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *