Mengotak-atik Seksualitas

Bagaimana menuliskan pengalaman seksualitas? Tunggu dulu, mengapa pengalaman seksualitas perlu diceritakan? Bukankah itu pengalaman pribadi yang tidak perlu menjadi konsumsi publik?

Bercerita merupakan bagian dari terapi bagi banyak orang, baik disadari maupun tidak disadari. Bercerita layaknya sebuah kebutuhan karena manusia ingin dipahami oleh orang lain dan juga ingin memahami orang lain. Namun, ada beberapa kisah yang dianggap tidak perlu diceritakan atau cukup bagi kalangan terdekat. Salah satunya adalah cerita pengalaman seksualitas.

Pilihan
Seksualitas dianggap sebagai suatu kodrat yang terberi sehingga tidak perlu “diutak-atik” apalagi berusaha dipahami. Seksualitas dianggap intim sehingga erat dengan hubungan kelamin saja. Jika ada seksualitas yang berbeda, maka orang tersebut dianggap memilih menjadi berbeda dan memahami konsekuensi dari perbedaannya. Tidak heran jika kelompok minoritas seksual tidak mendapat banyak empati dibanding minoritas lain seperti penyandang disabilitas, anak-anak yatim piatu, dan lansia. Minoritas seksual sama seperti minoritas agama yang dianggap dapat memilih menjadi “normal” tetapi mengabaikannya. Begitu juga dengan kelompok perempuan kepala keluarga yang seringkali disindir sebagai perempuan yang memilih merusak keutuhan rumah tangga.

Berbagai pilihan tersebut juga menjadi bahasan di dalam beberapa diskusi berkala yang dilakukan Kojigema Institute. Apa pilihan yang kami miliki? Mengapa hanya itu pilihan yang tersedia?

Proses yang sama telah saya alami di FAMM Indonesia. Pada tahun 2014, saya dan tim melakukan lokalatih seksualitas dan fundamentalisme di Malang. Lokalatih tersebut memberi banyak pengayaan untuk memahami seksualitas.

Menulis seksualitas
Sebagian besar orang dengan mudah bercerita secara lisan, tetapi sangat sulit menuliskannya. Mengapa? Karena setiap kali tangan saya ingin menulis, saya berdialog dengan diri sendiri. Hal itu otomatis terjadi. Jika bercerita secara lisan dapat dilakukan dengan spontan, maka bercerita dengan tulisan selalu dihadang dengan beragam keraguan, pertanyaan, dan keributan batin.

“Kamu yakin mau menuliskan tentang hal itu? Bagaimana kalau keluarga dan teman-temanmu baca? Jangan pakai istilah itu, terlalu vulgar! Pakai metafora atau istilah ambigu seperti sastrawan itu lho, supaya kamu gak dianggap porno! Cerita-cerita ini terlalu dangkal, tidak ada nilai sastra!” Rasanya angin puting-beliung berputar di dalam sanubari. Nulis, tidak, nulis, tidak, nulis?

Kami memberanikan diri untuk menulis. Proses menulis diawali dengan berkumpul dalam suatu diskusi. Masing-masing anggota Kojigema Institute (KI) saling berbagi ide cerita untuk mendapatkan masukan dan dorongan moril untuk menulis. Selain berusaha untuk jujur dengan diri sendiri, kami juga ingin melihat dampak berorganisasi di KI bagi pemahaman seksualitas. Hampir semua dari kami sedang atau sudah lulus perguruan tinggi sehingga minimal memahami dasar-dasar penulisan yang baik. Namun, tidak ada batasan. Menulislah sesuai aliran emosi.

Kami mulai menulis selama satu jam. Setelah itu, setiap orang membacakan tulisan yang berhasil diselesaikan untuk mendapat tanggapan dari anggota lain. Tidak ada prasangka atau penghakiman negatif. Kami bukan penulis dengan selera sastra yang baik sehingga tidak mampu membumbui karya dengan berbagai kiasan. Kesan “kasar” dan vulgar mungkin terlintas di pikiran pembaca karena tulisan kami minim polesan.

Lebih dari 2 tahun tulisan-tulisan ini terpendam sampai akhirnya diterbitkan pada pertengahan 2017. KI mendapatkan dukungan kapasitas dan moril dari FAMM Indonesia. Ajeng, sebagai koordinator nasional FAMM-I ikut membaca versi sebelum cetak dan membagikan kesannya tentang buku ini. Kami bangga dapat menyelesaikan buku yang diberi judul “Seronok: Cinta dan Seksualitas yang Tak Terceritakan”.

Jika tulisan kami menganggu pembaca maka cukuplah itu sebagai pertanda bahwa kami berhasil “mengaduk” air yang tenang. Lagipula pengalaman seksualitas kami tidak seunik yang dibayangkan. Kemungkinan besar pembaca akan menemukan kisah yang sama dengan pengalaman pribadi karena kami tinggal di tengah-tengah pembaca. Tidak ada yang salah atau benar dari pengalaman seksualitas dan tulisan kami. Refleksi tidak selalu nyaman dan enak dibaca. Namun dengan menuliskan dan belajar darinya, kami merasa lebih berdaya.

Bogor, 21 Juli 2017

Niken Lestari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *