Kata “Tidak” bukan Berati Buruk

Perempuan yang pada 2017 ini menginjak usia 31 tahun bernama lengkap Turisih Widyowati. Asih sudah menjadi kordinator komunitas diskusi remaja dan kesehatan reproduksi di lembaga/pesantren Bayt al-Hikmah, selama kurang lebih 3 tahun. Tugas ini telah membawanya memperoleh banyak pengalaman dalam melakukan pengorganisasian, walaupun tentu saja banyak aral melintang, karena topik kesehatan reproduksi masih dianggap tabu oleh masyarakat . Karena hal terebut, masyarakat sering menyebut Bayt al-Hikmah dengan pesantren/lembaga Bethlehem, dan bahkan ada yang menyingkatnye menjadi JIL, Jaringan Itil Liberal (itil adalah bahasa Jawa untuk klitoris). Asih dan teman-teman hanya tersenyum menanggapi julukan tersebut, “yang penting sedikit demi sedikit, mereka mau mengikuti diskusi yang kami selenggarakan, anggap saja itu sebagai bagian dari apresiasi”, ungkapnya.

 
Asih juga merupakan anggota Forum Aktivis Perempuan (FAMM) Indonesia. Seperti juga anggota FAMM-I lainnya, perempuan yang memiliki tinggi badan 144 cm ini mengawali keikutsertaan dalam FAMM Indonesia melalui sebuah lokalatih yang bernama Movement Building Initiative (MBI) Tahun 2011. FAMM Indonesia yang saat itu masih bernama Just Associate Indonesia mengadakan MBI tingkat sub-nasional untuk Jawa, Bali dan NTB, yang bertempat di Malang. Asih mendapatkan rekomendasi dan lolos seleksi bersama dengan sekitar 29 perempuan lainnya, dengan latar belakang agama, etnis, sosial, serta kerja sosial yang beragam

 
“Saya merasa senang dan bangga mengikuti MBI dan kegiatan-kegiatan penguatan kapasitas yang diadakan oleh FAMM-I, karena saya bisa terus belajar dan menambah pengetahuan dari teman-teman aktivis dengan lintas isu dan mendapatkan ruang aman yang selama ini tidak saya temukan di kegiatan lain”.

 
Selama tergabung dalam FAMM Indonesia, Asih banyak mendapatkan penguatan pengetahuan dan perubahan positif tentang kesadan diri. Misalnya, sikap komunikasi asertif yang dikenalkannya dalam MBI, mengubah caranya berkomunikasi, baik di lingkungan keluarga maupun di lingkungan pekerjaan, “Saya mampu berkata “TIDAK” atas sesuatu yang saya tidak inginkan atau saya tidak sukai”, katanya. Mengatakan “tidak” mungkin bagi sebagian orang hal sepele, tetapi bagi perempuan seperti Asih yang terbiasa bersikap ewuh pakewuh terhadap orang lain. Sikap ini seringkali diajukan terhadap orang yang lebih tua atau orang yang secara struktur organisasi atau pekerjaan lebih tinggi, yang masih sangat sulit menerima penolakan atau kata-kata “tidak”. . Mungkin dengan mengatakan tidak Asih bisa saja dianggap sebagai pembangkang, perempuan liar, tidak tahu sopan santun dan beberapa anggapan negatif lainnya. Sekarang, baginya berani mengatakan “tidak” berati berani menyatakan pendapat, karena kata tidak bukan kata perlawanan. Tentu saja Asih tidak serta merta dapat bersikap asertif kepada orang-orang di sekelilingnya, “Butuh latihan dan keteguhan hati untuk memulainya” imbuhnya. Setelah belajar tentang relasi kuasa dalam MBI, Asih mulai sadar bahwa ada beberapa ketimpangan di tempat kerja, namun ketimpangan ini dipelihara tanpa ada yang mau membongkar kuasa yang terpusat. “Dengan berkata “tidak” perempuan mulai belajar mengungkapkan ketidaknyamannya pada sesuatu, seperti jika hak-haknya diambil” Tambah perempuan ini.

 
Ibu dari perempuan mungil berusia 10 bulan ini, pernah mengikuti writeshop, yaitu workshop penulisan buku dan berhasil menerbitkan buku kumpulan tulisan para anggota FAMM Indonesia dengan judul “PANDORA; Gerak Kepemimpinan Aktivis Muda”, dalam buku ini Asih menceritakan tentang pasang-surut dalam melakukan pengorganisasian di Bayt al-Hikmah, juga aktivitas berorganisasi lainnya yang menempahya menjadi aktivis dan bangga menyebut diri sebagai aktivis perempuan. Asih memang senang menulis, baginya menulis adalah cara mengekspresikan pengetahuan dan mengkomunikasikan perspektifnya terhadap situasi di lingkungannya, terutama isu sosial yang berkaitan dengan remaja dan perempuan”, beberapa tulisannya tentang isu remaja, perempuan, dan kesehatan reproduksi telah dimuat di harian cetak lokal, antara lain “Perjuangan Kartini Belum Selesai”, “Darurat Kekerasan Terhadap Anak; Racun Politik Kampanye”, “Stop Kekerasan Terhadap Perempuan”, dan “Remaja Harus Dilindungi”

 
Semoga dengan menulis, kesadaran publik bisa terbuka. Walaupun kesadaran tersebut hanya sedikit, baginya bukan masalah, karena mengubah kesadaran masyarakat memang butuh waktu yang tidak sedikit. “saya harus komitmen dan konsisten dengan perjuangan ini”, ucapnya dengan senyum.

Alifatul Arifia

One thought on “Kata “Tidak” bukan Berati Buruk

  1. Mantap Mbak Asih. Semoga semakin byk irg yg peduli dgn Kesehatan seksual dan reproduksi perempuan, anak dan kelompok disabilitas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *