Perjuangan Kartini Belum Usai

Tulisan ini telah dimuat cetak di HU.Fajar Cirebon pada tanggal 21 April 2017.

“Ibu kita Kartini putri sejati/Putri Indonesia harum namanya//Ibu kita Kartini pendekar bangsa/Pendekar kaumnya untuk merdeka//Wahai ibu kita Kartini, putri yang mulia/Sunguh besar cita-citanya, bagi Indonesia.”

LIRIK lagu Ibu Kita Kartini di atas dihapal hampir setiap anak bangsa ini. Hal ini menyiratkan begitu besar perjuangan seorang perempuan bernama Kartini. Lagu ini akan dinyanyikan beramai-ramai di sekolah-sekolah, seperti lagu wajib, pada setiap peringatan Hari Kartini 21 April.
Tak cukup sampai di situ, perayaan berlanjut dengan melakukan aneka perlombaan dan yang tak pernah ketinggalan adalah lomba peragaan busana anak-anak sekolah, PAUD, TK, hingga SD dan SMP. Anak-anak dan murid-murid perempuan didandani busana khas daerah-daerah di Indonesia dan diperlombakan untuk berebut piagam dan piala. Tak jarang, ibu-ibu rela ‘mendandani’ anaknya di salon dengan harapan meraih yang terbaik dalam lomba.
Saban tahun, peringatan ini juga dimeriahkan lembaga pemerintah dan swasta. Para pegawai dan karyawan perempuan berdandan menggunakan kebaya beraneka rupa dan warna. Pegawai SPBU, minimarket dan mall-mall di Cirebon pun tak pernah ketinggalan meramaikan momen setahun sekali ini. Hari Kartini selalu berisi hiruk pikuk perayaan.
Organisasi-organisasi perempuan seperti PKK dan GOW pun tak pernah ketinggalan merayakan hari bersejarah ini. Biasanya kegiatan tak lepas dari lomba yang identik dengan perempuan, seperti lomba memasak, merias, peragaan busana dan sebagainya. Jarang sekali ada lomba di luar tema tersebut.
Semua acara-acara tersebut membuat setiap orang dapat dengan mudah mengingat bahwa pada hari yang riuh rendah dengan aneka lomba perempuan itu adalah Hari Kartini. Sosok Kartini yang luar biasa itu ditandai lewat sebuah perayaan dan lomba. Semoga saja ke depannya, generasi bangsa ini tak mengenal dia sepintas dan memaknainya hanya sebatas perempuan yang suka perayaan, pesta-pesta dan lomba dengan tema keperempuanan.
Saya sendiri sangat senang setiap Hari Kartini tiba tapi cukup sedih saat khawatir bahwa perayaan ini berakhir menjadi seremoni belaka, tapi miskin pengetahuan. Saya takut Kartini dikenal kemudian sebagai kebaya dan blangkon saja. Sementara perjuangannya agar perempuan bangsa ini bisa duduk sejajar dan berdiri sama tinggi dengan laki-laki semakin terlupa, terkikis perlahan-lahan. Apakah kita benar-benar mengenal sosok dan pemikiran Kartini? Atau jangan-jangan yang kita kenal hanya apa yang dikenakan, sebuah busana dan riasan saat perayaan Hari Kartini.
Tumbuhnya Empati
Hari Kartini diperingati setiap 21 April tak lain karena presiden Soekarno mengeluarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964 tertanggal 02 Mei 1964. Dalam surat tersebut, Kartini ditetapkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional dan sekaligus menetapkan hari lahirnya yaitu tanggal 21 April diperingati setiap tahunnya sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini.
Kalau kita baca sejaranya, Kartini lahir dari darah priyayi. Meski demikian, Kartini memiliki perhatian dan pemikiran yang tidak seperti anak-anak priyayi lainnya. Kartini sedari kecil suka berjalan-jalan ke pasar yang kumuh dan melihat langsung keadaan masyarakat di sana. Dari jalan-jalan becek di pasar tradisional itulah empati Kartini tertambat begitu dalam.
Pada perkembangan berikutnya, Kartini menjadi pribadi yang sangat peduli nasib masyarakat di lingkungan sekitarnya, terutama para rakyat jelata. Rasa empatinya itu membuat Kartini menjadi seorang perempuan yang mencari sebab, akar dan solusi sekaligus agar segala kepedihan tersebut sirna dari Nusantara.
Sebagai seorang priyayi, Kartini mendapatkan pendidikan yang layak. Dia bisa berbahasa Belanda, bahasa para penjajah. Kartini banyak belajar bahasa itu secara otodidak di rumahnya sendiri. Berbekal bahasa asing tersebut, Kartini banyak mendapatkan informasi mengenai orang-orang Eropa dari Koran berbahasa Belanda yang ada di Semarang. De Locomotief asuhan Pieter Brooshooft.
Pencarian Kartini seolah mendapatkan separuh jawaban dari bacaannya tersebut. Dia pun rajin menuliskan surat untuk teman-teman korespondensinya yang berada di Belanda, salah satunya adalah Rosa Abedanon. Surat-surat Kartini tidak hanya menuliskan tentang persoalan emansipasi wanita, namun juga persoalan sosial umum lainnya. Kartini melihat perjuangan wanita agar mendapatkan kebebasan, otonomi, dan persamaan hukum sebagai bagian gerakan yang lebih luas.
Namun, oleh orang tuanya, Kartini disuruh menikah dengan bupati Rembang, K.R.M Adpati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, yang sudah bersitri tiga. Kartini menikah pada tanggal 12 November 1903. Beruntung suaminya mengerti keinginnya, Kartini diberi kebebasan dan didukung mendirikan sekolah wanita (Kartini School) pada 1918.
Belum lama mendirikan sekolah wanita ini, Kartini melahirkan anak pertamanya sekaligus terakhirnya, Soessalit Djojojoadhiningrat, lahir pada tanggal 13 September 1904. Beberapa hari setelah melahirkan, Kartini meninggal pada tanggal 17 September 1904 karena pendarahan hebat. Kita pun mengetahui pergolakan pemikiran dan perjuangan Kartini lewat surat-surat yang dia tulis dan dikirim ke Belanda. Surat-surat itu kemudian dibukukan dan dalam bahsa Indonesia menjadi sebuah buku yang sangat menginspirasi: Habis Gelap Terbitlah Terang.
Belum Usai
Kartini adalah satu saja untuk menyebut betapa banyak perempuan hebat bangsa ini yang berjuang untuk kejayaan Indonesia. Tapi momen Hari Kartini mengingatkan pada kita sudah sejauh mana perjuangan kesetaraan gender atau emansipasi wanita terwujud saat sekarang.
Sejak akhir abad ke-19, Kartini telah memperjuangan kebangkitan perempuan. Nyatanya hingga kini, seratus tahun lebih sejak Kartini berjuang mengangkat martabat dan kesetaraan perempuan, kesenjangan antara nasib perempuan dan laki-laki masih menganga begitu lebar.
Perbedaan perlakuan terhadap perempuan dalam kesempatan serta akses terhadap pendidikan, kesehatan, pekerjaan, kekerasan terhadap perempuan dan partisipasi politik ternyata masih banyak terjadi. Mudahnya, kalau kita lihat secara global, skor Indeks Ketimpangan gender Indonesia tahun 2015 menunjukkkan angka 0. 467. Menempati posisi bawah di urutan 105 dari 159 negara di dunia.
Indeks ini menunjukkan persoalan perempuan dalam dimensi pemberdayaan dan status ekonomi masih memprihatinkan. Posisi perempuan Indonesia yang lebih rendah dalam indeks itu menggambarakan sejumlah hal, antara lain tingginya angka kematian ibu melahirkan, angka kelahiran remaja putri, proporsi rendah perempuan di parlemen, dan tingkat partisipasi kerja perempuan.
Data lainnya tak kalah memprihatinkan, Komisis Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan mencatat ada 259.150 kasus kekerasan terhadap perempuan sepanjang tahun kemarin (2016). Berdasarkan data tersebut kekerasan terjadi di ranah personal, komunitas dan negara. Di ranah personal, kekerasan dala rumah tangga masih mendominasi dengan 5.784 kasus dan diikuti kekerasan dalam pacaran dengan 2.171 kasus dan kekerasan terhadap anak yang mencapai 1.799 kasus.
Ketimpangan paling jelas antara perempuan dan laki-laki di negeri ini bisa kita lihat juga dari Indeks Pembangunan Manusia (IPM) tahun kemarin. Laki-laki Indonesia tahun 2016 mencapai skor IPM sebesar 0,712, sedangkan perempuan hanya 0,660. Ketidaksetaraan gender atau ketimpangan antara perempuan dan laki-laki terbukti menjadi penghambat laju pembangunan yang lebih baik.
Maka, pada hari yang saban tahun diperingati dengan meriah ini saya ingin mengingatkan bahwa perjuangan perempuan bangsa ini masih belum usai. Perayaan Hari Kartini harusnya menjadi ruang untuk merefleksikan perjuangan dan pencapaian kesetaraan gender di Indonesia, bukan malah pesta dan lomba.
Selanjutnya, dari ruang refleksi tersebut kita bisa menyusun sebuah langkah dan strategi ke depan agar tujuan Kartini bisa benar-benar tercapai. Perempuan dan laki-laki adalah sama-sama anak manusia, sama-sama anak bangsa yang merdeka, yang punya kesempatan dan kedudukan yang setara. Oleh karenanya, perempuan punya kesempatan yang sama untuk memajukan bangsanya.***

 

Ditulis oleh Asih Widyowati

Staff administrasi ISIF Cirebon dan Anggota FAMM Indonesia wilayah Jawa Barat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *