SAVE OUR SISTER-Nyalakan Cahaya Yuyun

nyala yyPada tahun 2015 Indonesia dinyatakan darurat kekerasan perempuan oleh Komnas Perempuan sebagai respon dari meningkatnya kekerasan terhadap perempuan sejak 2010. Kekerasan seksual tercatat sebagai bentuk kekerasan terhadap perempuan tertinggi sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, terutama merujuk pada tahun 2015 di mana terjadi 1.657 kasus pemerkosaan. Catatan Komnas Perempuan menunjukkan kekerasan seksual terhadap perempuan terus terjadi di berbagai tempat di Indonesia dan menekankan pentingnya kehadiran negara untuk memberikan perlindungan terhadap perempuan.  selain itu usia korban kekerasan seksual juga semakin muda.

Berita tentang pemerkosaan dan pembunuhan di Bengkulu terhadap seorang siswi SMP yang terjadi pada tanggal 4 April 2016 sangat mengejutkan. Terutama mengetahui pelakunya adalah sekelompok remaja laki-laki, sebagian adalah kawan sekolahnya di Desa Kasie Kasubun, Kecamatan Padang Ulak Tanding, Rejang Lebong Bengkulu. Sepanjang 2015, tercatat 48 kejahatan seksual terjadi di wilayah ini. Pada 2016, bahkan sebelum pertengahan tahun, tercatat 36 kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan di Rejang Lebong. Kejadian ini memicu kemarahan dan kesedihan banyak kawan-kawan aktivis perempuan di Indonesia, rekan remaja, dan para ibu. Kami turut merasakan kepedihan seorang ibu yang kehilangan anak dan kawan-kawannya yang kehilangan seorang sahabat baik. Yuyun adalah kami semua.

Hingga kini penanganan hukum dalam kasus pemerkosaan tidak mampu memberikan rasa keadilan korban dan pemenuhan efek jera terhadap pelaku, karena pemerkosaan sering dikaitkan dengan konsep moral yang timpang dan menyalahkan perempuan. Konsep moral semacam ini masih sering dipakai dalam upaya penegakan hukum, seperti yang disampaikan oleh Menteri Sosial Kofifah Indar Parawansa yang mengusulkan UU kebiri atau hukuman mati bagi pelaku. Usul tersebut justru membenarkan pemikiran bahwa penyelesaian hukum hanya sekedar untuk balas dendam, sehingga penegakan hukum kembali sekedar memenuhi konsep moral mata di balas mata.

Kasus pemerkosaan dan pembunuhan ini merupakan kasus kejahatan serius, karena tidak hanya menghilangkan nyawa namun juga menghilangkan hak untuk merasa aman dan bebas dari penganiayaan serta perlakuan buruk.  Dalam Deklarasi Universal HAM hak hidup dan hak rasa aman adalah hak terpenting yang tidak dapat dikurangi dengan alasan apapun. UU No. 7 tahun 1984 tentang penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan telah menegaskan bahwa pemerintah Indonesia akan mengupayakan cara-cara yang sesuai dan tidak menunda kebijakan untuk menghapus kekerasan terhadap perempuan, terutama kekerasan seksual.

Pernyataan ini dipertegas dengan berlakunya UU No. 35 tahun 2014 tentang perubahan UU Perlindungan Anak yang menyatakan setiap anak berhak memperoleh perlindungan dari kekerasan seksual. Negara dengan tegas menyatakan menjamin kesejahteraan dan perlindungan kepada anak di Indonesia. Kami yakin pemerintah Indonesia bersama Jokowi  memiliki kewajiban untuk memberikan rasa aman warga dan melindungi warga dengan aturan, kebijakan dan peraturan yang sudah ada.

Dengan demikian, kami, komunitas aktivis perempuan yang tergabung dalam FAMM (Forum Aktivis Perempuan Muda) Indonesia meminta:

  1. Kepada Jokowi selaku Presiden RI untuk segera mensahkan RUU Kesetaraan Gender dan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual sebagai dasar dari berbagai aturan daerah yang terkait dengan pemenuhan hak asasi dan perlindungan terhadap perempuan.
  2. Kepada Jokowi selaku Presiden RI untuk membuat regulasi pendidikan dan penyadaran Hak Kesehatan dan Reproduksi (HKSR) di sekolah-sekolah serta instansi pemerintah.
  3. Pemerintah daerah wajib membentuk tim penangan khusus untuk pemulihan psikis dan sosial kepada keluarga korban serta menjamin keamanan keluarga korban, saksi serta pendampingnya.
  4. Pemerintahan Kabupaten/Kota/Provinsi Bengkulu untuk merancang dan menjalankan program pendidikan dan penyadaran Hak Kesehatan dan Reproduksi (HKSR) sebagai program prioritas di Bengkulu.
  5. Mengajak kawan-kawan FAMM serta komunitasnya untuk mengenang Yuyun serta menyalakan lilin tanda duka cita, karena kita semua adalah Yuyun. Pasang di FB dan Twitter #sayayuyun #nyalauntukyuyun #kamiadalahyuyun #sos sebagai bentuk dukungan kepada kawan-kawan aktivis perempuan di Bengkulu serta korban dan keluarganya.

Pendukung Aksi Solidaritas untuk Yuyun
Pribadi:
1. Ajeng Herliyanti
2. Alifatul Arifianti
3. Anatalia Sri Lestari
4. Berliana Purba
5. Citra Sari
6. Erma Wulandari
7. Farid
8. Hasmidha Karim
9. Helga Dyah
10. Herlia Santi
11. Inggrid Loupatty
12. Karolina Pratiwi
13. Keumala Dewi
14. Maria Sucia
15. Maria Mustika
16. Mariamah Achmad
17. Masnim
18. Mittya Ziqroh
19. Nani Zulminarni
20. Niken Lestari
21. Olvy Octavianita T
22. Ranti Naruri
23. Rizki Nurhaini
24. Saras Dewi
25. Susan
26. Titim Fatmawati
27. Turisih Widyowati
28. Vivi Marantika

Lembaga:
1. ALIMAT
2. Alpen Sultra
3. Asosiasi PPSW (Pusat Pengembangan Sumberdaya Wanita)
4. Bayt Alhikmah Cirebon
5. Dian Tama Pontianak
6. Embun Pelangi Batam
7. Fahmina Insititute
8. FAMM Indonesia (Forum Aktivis Perempuan Muda)
9. Gamacca
10. HUMANUM (Himpunan Maluku Untuk Kemanusiaan)
11. Jarpuk Rindang Loteng
12. Jejer Wadon
13. Kojigema Institute
14. Kompak Batam
15. Naladwipa Institute
16. PEREMPUN AMAN (Aliansi Masyarakat Adat Indonesia)
17. PEREMPUAN AMAN Kalimantan Tengah
18. PEKKA (Perempuan Kepala Keluarga)
19. PEKKA NTT
20. PESADA
21. Pusat Studi Nagari
22. Rumah Kluwung
23. Rupari
24. SAPUAN
25. SATUNAMA
26. YPSM Jember
27. Yayasan Walang Perempuan
28. Yayasan Palung
29. Yayasan PKPA (Pusat Kajian Perlindungan Anak)

Disusun oleh Ruang Aman FAMM Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *