Bully: jangan jadi pelaku, jangan jadi korban

empathy-headerApakah kawan-kawan pernah mendengar kata bullying atau merasak? Bullying merupakan tindakan agresi atau menyerang yang dilakukan secara berulang, baik oleh satu maupun beberapa orang dengan tujuan menciptakan rasa takut, cemas dan merendahkan seseorang ataupun sekelompok. Tujuan utama dari mereka yang melakukan bullying adalah kenikmatan sebagai pihak yang superior atau berkuasa, sebagai orang yang ditakuti dan menimbulkan ketidakberdayaan baik bagi korban maupun sekitarnya. Bullying ini dapat dilakukan secara verbal, tertulis, dalam bentuk tindakan atau aksi, mengajak orang lain untuk berperilaku sama dan bentuk penyerangan lainnya.

Bila dilakukan secara berkelompok bullying seringkali diikuti dengan berbagai pembenaran bari kelompok tersebut, mulai dari ekspresi yang menurut kelompok itu tidak sesuai, sekedar korban merupakan target yang mudah dan tidak melawan, tidak akan ada orang yang membela bila bullying dilakukan hingga kenikmatan melakuakn sesuatu secara berkelompok.

Bullying juga bisa dilakukan di dunia maya atau yang lebih sering disebut sebagai cyber bullying. Cyber bullying merupakan ungkapan yang bertujuan menyakiti seseorang secara terus menerus dengan menggunakan teknologi. Bentuknya bisa sangat beragam mulai dalam bentuk SMS, status di media sosial (FB, Path, Twitter, Instagram, dll), gambar ataupun video pendek yang bertujuan untuk melecehkan dan merendahkan seseorang.

Apakah kawan-kawan pernah mengetahui ini terjadi?

Namun juga perlu dipahami bahwa tidak semua konflik dapat dikatakan bullying. Kunci utama perilaku bullying adalah adanya ketimpangan kuasa yang dimiliki pelaku dengan korban dan penyerangan tersebut dilakukan secara berulang-ulang. Konflik-konflik yang tidak melibatkan ketimpangan kuasa, dan terutama perupakan konflik politik tidak bisa semerta disamakan dengan bullying. Beberapa pelaku bullying tidak sepenuhnya menyadai bahwa tindakannya sangat menyakiti bagi korbannya, jadi kalau kebetulan bertemu dengan pelaku bully jangan langsung dimusuhi ya.

Terutama karena pelaku bullying merasa memiliki pembenaran dari tindakannya. Pembenaran tersebut bisa dalam banyak bentuk, seperti dibenarkan oleh norma sosial, aturan adat, dibenarkan oleh kebanyakan orang maupun dibenarkan oleh keyakinannya. Ketika bullying dibenarkan dengan berbagai alasan, maka dari sekedar bullying berubah menjadi serangkaian kekerasan yang berpotensi merusak dan memecah belah kita semua.

Contoh umum misalnya beramai-ramai dengan warga desa lain menggunjingakn salah satu warga laki-laki yang kemayu atau feminin, secara sengaja mengeraskan suaranya ketika orang itu lewat atau dengan sengaja menghina perempuan yang tidak bisa mengandung secara terang-terangan sekedar untuk melihat reaksi dari perempuan itu. Apakah ada saudaramu yang lebih tua atau orangtuamu mentertawakan pilihanmu sebagai feminis dan aktivis setiap kalian bertemu? Contohnya masih sangat panjang, tempat terjadinya bisa dimanapun, sekolah, rumah, pasar bahkan teleponmu. Bahkan kita semua tidak kebal dari bullying.

Jika ada seseorang mengalami bullying, temani dia dan ingatkan bahwa dia tidak sendirian. Ajaklah kawan-kawanmu untuk menolak tindakan bullying dan membuka dialog dengan kawan-kawan lain bahwa bullying menyakitkan bagi korbannya. Jangan diamkan. Lakukan sesuatu.

Apakah kamu pernah menjadi korban Bullying?

Saya pernah. Ayah saya memiliki tubuh besar dan lebar, ibu saya perempuan tionghoa dengan postur bungkuk sedangkan saya mendapat semua itu, badan besar dan agak bungkuk dengan kepala ke depan. Aku dipanggil kura-kura, sampai sekarang masih oleh kawan sekolahku. Rasanya jengkel, kesal dan tidak berdaya ketika mereka beramai-ramai memanggilku demikian. Keadaan untukku semakin berat karena kultur suroboyoan itu memang selalu melecehkan dan mentertawakan, guyub kata mereka, kalau kamu tidak tahan dengan perilaku itu maka kamu akan mendapat cap pemarah dan orang yang menyebalkan. Rasanya mau pecah sangking jengkelnya dengan situasi ini.

Akan saya lanjutkan cerita bermeditasku. Dalam kegiatan tersebut, ada waktu ceramah. Guru meditasinya seorang Buddhist, praktisi meditasi selama 30 tahun. Dia memulai praktik meditasinya sejak usia 10 tahun, namanya Master Guo Jun Fase. Dalam salah satu ceramahnya (dan nantinya akan terus diulang-ulang dalam ceramah yang berbeda) dia memperkenalkan ide mengenai “ketidakmelekatan”. Dia menjelaskan konsep mengenai tidak melekat dan terus mengingat hal-hal yang mengecewakan dan membuatmu sedih, karena semua itu di masa lalu, jika kamu terus terikat dengan luka masa lalu, maka kamu tidak akan mampu membantu orang lain dengan masalah serupa. Dengan tidak melekat bukan berarti mengabaikan masa lalu, namun lebih dengan mengamati semua pengalaman itu dengan tidak terus menekankan pada “sakit”nya pengalaman tersebut, namun dengan memperhatikan pengalamanmu dengan tenang dan relaks sehingga ada pengalaman baru atau pembelajaran baru yang bisa ditemukan olehmu.

Salah satu cara untuk menemukan ketenangan dan relaks tersebut adalah relaksasi. Bagaimana melakukannya tidak bisa saya jelaskan di sini, sebaiknya bertanya dengan komunitas Master Guo Jun melalui email, atau bergabung dengan FAMM Indonesia. Hehehe. Awalnya saya tidak sepenuhnya paham bagaimana caranya mengenali emosi-emosi yang tidak menyenangkan itu dan kapan sebaiknya melakukan relaksasi. Kemudian dijelaskan bahwa tidak penting kapan emosi itu mulai muncul, yang penting adalah melatih kepekaan pada kondisi fisik ketika emosi-emosi tidak menyenangkan muncul, apakah nafas yang memburu, kepala terasa panas, tubuh menjadi kaku dan kepala pusing? Dengan melatih kepekaan ini, kita dapat mengenali diri kita dalam kondisi tertekan. Setiap hari menjelang tidur, lakukan relaksasi. Menjelang tidur ingat-ingat kembali apa saja yang sudah kamu lakukan, apakah ada kejadian yang baik dan apakah ada kejadian yang disesalkan? Jika ada tindakanmu yang membuatmu menyesal, katakan pada dirimu bahwa besok kamu akan menjadi lebih baik. Kamu akan menjadi pribadi yang lebih baik untuk dirimu sendiri.

Jangan menjadi pelaku bully, karena kamu hanya akan menjadi orang yang menyakitkan bagi orang lain. Jangan terus menjadi korban bullying, beranikan dirimu melihat dirimu sendiri dan rayakan semuanya, yang baik maupun yang tidak memuaskan. Selama kamu mencintai dirimu, kamu bukanlah korban apapun.

(Maria Mustika)
Sumber gambar:

hwww.elkriver.k12.mn.us

enhancethehumanexperience.wordpress.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *