Bina Masadah: Membangun Perdamaian melalui Perempuan Pesisir

Oleh Noni Tuharea

Pulau Seram yang terletak di sebelah utara Pulau Ambon sangat kaya dengan sumber daya alam. Sejak tahun IMG-20150923-WA00012003 pulau seram terbagi menjadi 3 wilayah pemerintahan, Kabupaten Maluku Tengah yang beribukota di Masohi dan 2 Kabupaten Seram bagian Timur (SBT) dan Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB). Nah, di SBB yang memiliki potensi alam yang melimpah inilah aku berada, berkarya dan mengembangkan komunitas perempuan. Awalnya sumber daya alam yang melimpah ini tidak dipedulikan, akibat pengelolaan yang belum tepat. Selain itu wilayah ini terkenal dengan tingginya tingkat kekerasan dan konflik komunal dimasyarakat.

Di Maluku kemiskinan dan rendahnya pendidikan menjadi akar permasalahan. Konflik sering muncul akibat suksesi Kepala Desa (konflik internal desa), mabuk-mabukan, sumber ekonomi yang terbatas dan batas wilayah yang kadang jadi sengketa, situasi ini akan semakin parah pada masa paceklik. Dalam keadaan seperti ini perempuan memiliki peran lebih besar untuk memenuhi kebutuhan keluarga, sementara pilihan perempuan mendapatkan pekerjaan maupun jenis usaha sangatlah terbatas. Perempuan mendapat beban besar dan terjepit oleh keadaan semacam ini sejak lama. Sehingga bagi perempuan, mereka dimiskinkan oleh keadaan.

Desa Nuruwe adalah satu diantara Desa adat yang terjebak dalam situasi ini. Desa yang sangat aku kenal. Kawasan laut di Nuruwe sangat bersih, ombak yang tidak besar, dan pantai yang tidak tercemar menjadikannya lokasi kebun bibit rumput laut. Hal ini memberikan keuntungan tersendiri bagi masyarakat desa yang mendapatkan peluang untuk meningkatkan nilai tambah dari rumput laut kering. Maka masyarakat di Nuruwe membutuhkan ketrampilan teknis, tidak hanya untuk mengolah rumput laut menjadi kering dan juga ketrampilan menajamen usaha untuk menjaga aktivitas ini berdampak terhadap peningkatan pendapatan keluarga. Untuk itu, LPPM melakukan pelatihan vokasional pengolahan rumput laut bagi perempuan pesisir di Desa Nuruwe dengan tujuan untuk meningkatkan kapasitas dan keterampilan pengolahan rumput laut serta manajemen usaha yang dilakukan secara intens selama 5 hari.

Materi yang disajikan secara komprehensif dengan mengkombinasikan kompetensi vokasional pengolahan rumput laut dan manajemen usaha diantaranya pembentukan karakter pengusaha, pemasaran serta pembukuan sederhana. Selama pelatihan peserta didorong untuk berpartisipasi aktif dan mengkomunikasikan setiap ide atau pikiran lainnya baik terhadap proses pelatihan maupun pembentukan kelompok usaha. Pelatihan dilakukan dengan menggalang partisipasi pemerintah desa dan masyarakat desa, khususnya kelompok pembudidaya rumput laut. Sementara kelompok pembudidaya menyediakan bahan baku berupa rumput laut kering kepada kelompok usaha hingga kelompok dapat mendiri.

Pasca pelatihan peserta tergabung dalam sebuah kelompok usaha yang diberi nama Bina Masadah, Bina dalam Bahasa Nuruwe artinya Perempuan. Sedangkan MASADAH merupakan singkatan dari Masih Ada Harapan. Jadi Bina Masadah mencerminkan perjuangan perempuan untuk terus bekerja memajukan diri ditengah budaya yang menomorduakan perempuan. selain itu, kelompok juga mendapat dukungan dari Dinas perindustrian dan Perdagangan Kabupaten SBB untuk menyediakan kemasan dan label produk bagi produk-produk kelompok seperti stik rumput laut, Pudding dan Sirup rumput laut rasa buah.

Saat ini kelompok BINA MASADAH telah mampu membuat rencana usaha dan memproduksi meski belum banyak. Saat ini jumlah produksi minimum untuk stik rumput laut rata-rata mencapai 3000 per bulan. Secara mandiri BINA MASADAH mulai melakukan pengembangan produk serta membentuk badan usaha untuk mendapatkan PIRT (Perijinan Industri Rumah tangga). BINA MASADAH telah mampu menata usaha kelompok mulai dari perencanaan, produksi, pemasaran dan bagaimana mempraktekkan proses produksi yang baik. Pembagian hasil kelompok dihitung secara adil berdasarkan beban kerja dan jumlah produk yang dihasilkan oleh setiap anggota kelompok. Dan yang terpenting adalah upaya yang dilakukan oleh anggota mendapat dukungan penuh dari keluarga. Masyarakat desa Nuruwe yang tidak terlibat langsung dalam kelompok menunjukkan partisipasi dan dukunganya dengan membantu memasarkan produk BINA MASADAH dalam setiap acara yang diikuti baik ditingkat kecamatan, kabupaten maupun provinsi.

Hal yang paling membanggaan dari seluruh proses kerja bersama masyarakat adalah melihat perempuan anggota BINA MASADAH berusaha menjaga komitmen dan motivasinya untuk berpartisipasi aktif selama pelatihan maupun pasca pelatihan dalam menjalankan usaha. Baik anggota kelompok mapun masyarakat di Nuruwe bangga dengan produk yang dihasilkan BINA MASADAH karena akan membantu mengubah stereotype desa Nuruwe yang dikenal sebagai desa terpencil dengan tingkat kejahatan tinggi menjadi desa maju penghasil makanan olahan rumput laut di Maluku.
Tantangan yang dirasakan selama proses pendampingan adalah kerja berkelompok. Karena karakter masyarakat Maluku sangat sulit untuk bekerja dalam kelompok, karena rendahnya kepercayaan antar anggota dan pembagian kerja yang tidak jelas. Karenanya kami mendorong kelompok untuk dapat secara aktif menjalin komunikasi interpersonal antar setiap kelompok dan secara mandiri mampu melakukan evaluasi pencapaian kelompok. Tantangan lain yang dihadapi kelompok ibu ini adalah ketersediaan uang tunai guna peningkatan produksi yang masih sangat terbatas, sehingga BINA MASADAH kelompok usaha kecil dengan omset terbatas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *