Melawan Kekerasan dengan Membangun Ruang Aman

27 September 2015 menjadi momen yang tak terlupakan bagi Wara Aninditari Larascintya Habsari atau yang sering dipanggil Ayash. Dia dihubungi oleh Ketua Mahasiswa Muhammadiyah Jakarta Timur untuk mengisi kelas advokasi berbasis gender. “Aku sempat deg-degan karena dia bilang pelatihan ini untuk memberi landasan pengembangan kajian perempuan oleh kader Muhammadiyah,” ujarnya.

foto-1Acara yang digelar selama 3 hari ini diberi judul “Konstruksi Jati Diri IMMawati: filterisasi terhadap kapitalisme global”. Kegiatan ini berangkat dari kegelisahan IMMawati, sebuah organisasi masyarakat Islam seputar kodrat dan pernikahan. Ada 20 peserta yang mewakili beberapa kampus di Pulau Jawa seperti Surabaya, Malang, Bekasi, Jakarta, dll. Kebanyakan berlatar pendidikan guru berbagai mata pelajaran.

Ayash kebagian sesi di hari terakhir. Justru ini yang seru. Meskipun temanya begitu besar, Ayash berhasil membumikan dalam permasalahan keseharian peserta. Sebagai anggota FAMM-I, dia menggunakan keterampilan yang dipelajarinya di lokalatih MBI (Movement Building Institute). Tidak hanya ideologi seperti komunisme neoliberalisme, kapitalisme yang mengancam gerakan Islam tetapi ketidaktahuan perempuan Muslim mengenai seksualitas juga dapat menimbulkan masalah dalam keluarga dan bagi generasi mendatang.

Ayash mengemas sesinya menggunakan pendidikan orang dewasa (POD) yaitu melalui bermain dan roleplay. Menurutnya, “peserta antusias sekali sampai sesiku molor 3 jam. Mereka banyak bertanya soal seksualitas, termasuk homoseksualitas dan melindungi diri dari kekerasan seksual.”

Meskipun penyelenggara menekankan analisis Islam sebagai landasan, Ayash dapat mengkombinasikannya dengan analisis kekuasaan yang dipelajari di FAMM-Indonesia. “Ketika ada yang mengungkapkan kasus tentang lesbian, itu langsung aku jadikan kasus untuk dibahas bersama. Aku pakai metode analisis citra tubuh yang kita lakukan di workshop FAMM tentang seksualitas dan fundamentalisme. Awalnya mereka malu-malu menyebut kata penis. Kemudian aku mengenalkan tentang identitas seksual, orientasi, masalah, hasrat seksual.”

Peserta banyak menggunakan pendekatan dosa dan pahala sehingga Ayash berhati-hati membuka ruang aman agar mereka percaya dan mau terbuka pada pengalaman orang lain. Dengan begitu, peserta lebih fokus mencari solusi daripada menghakimi seksualitas yang berbeda. Peserta yang sebagian besar adalah perempuan muda tertarik mengetahui cara mencegah pelecehan seksual, mendampingi perempuan yang mengalami kekerasan seksual, serta merencanakan kampanye dengan slogan populer.

Salah satu hambatan mereka adalah cara pandang mengenai adil gender di organisasi dan persoalan senioritas dalam kepemimpinan. Namun, antusiasme peserta sudah cukup membakar semangat Ayash untuk terus berhubungan dengan kawan-kawan muda. Menurutnya, peserta perlu sekali ruang diskusi seperti ini karena merekalah yang akan berhadapan dengan berbagai masalah, terutama anak-anak yang paling rentan sebagai korban kekerasan.

“Aku senang sekali mengikuti kegiatan ini karena semakin banyak yang mengetahui tentang seksualitas secara positif, semakin banyak orang yang akan bergabung dengan gerakan menghapus kekerasan terhadap perempuan.”

Bravo Ayash!

(NL)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *