Mantap menjadi organisator bersama FAMM-I

Mungkin tidak banyak orang yang mengetahui tentang penyakit kaki gajah atau filariasis. Penyakit ini umumnya terjadi di wilayah tropis. Provinsi Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Tengah merupakan daerah endemik filariasis. Penyakit ini disebabkan oleh cacing Filaria yang ditularkan melalui beberapa jenis nyamuk.

“Meskipun bukan penyakit yang mematikan, namun bersifat menahun dan penderitanya sering mengalami stigma dan menghambat produktivitas,” ujar Midha yang aktif melakukan pengawasan terhadap pencegahan filariasis. Hasmida Karim, atau Midha biasa dipanggil, adalah anggota FAMM-Indonesia yang bekerja di Alpen Sultra. Sejak tahun 2012, Alpen Sultra bekerjasama dengan RTI Envision melakukan pengawasan pemberian obat untuk mencegah kasus baru filariasis. Alpen mendampingi 2 kabupaten yaitu Donggala (Sulteng) dan Kolaka (Sultra).

Midha-2

Midha berkata, “Seorang penderita penyakit kaki gajah akan menjadi sumber penyebaran cacing Filaria sehingga biasanya akan dikucilkan oleh warga lain. Belum lagi penderita merasa malu bergaul dan tidak bisa bergerak bebas untuk bekerja. Oleh karena itu, Alpen bekerja untuk mencegah terjadinya kasus baru.”

Dalam kegiatannya, Alpen bekerjasama dengan pihak puskesmas, dinas kesehatan daerah, kepala desa, dan pejabat pemerintah termasuk bupati. Alpen memberi edukasi kepada warga yang merasa sehat agar mau mengkonsumsi obat pencegah filariasis. “Salah satunya dengan meminta kesediaan pejabat pemerintah untuk minum obat tersebut di depan warganya.”

Midha berhasil mendapatkan kepercayaan dari puskesmas dan pejabat pemerintah untuk melakukan pendampingan dan pengawasan terkait filariasis. Fasilitasi yang dia berikan dianggap memberi edukasi yang diperlukan bagi warga.

“Aku merasa mantap dan percaya diri untuk berbicara di depan warga dan memotivasi mereka melakukan pencegahan daripada pengobatan kesehatan,” ujar Midha. Proses yang dilaluinya dengan FAMM-Indonesia mendorongnya untuk mengembangkan metode fasilitasi dan bernegoisasi dengan masyarakat, pemerintah, dan lembaga donor.

“Dalam bernegoisasi, aku memberanikan diri untuk bersikap asertif. Seringkali usulan yang aku ajukan mendapat respon positif,” tambahnya. Setelah mendapatkan materi tentang komunikasi asertif dan kepemimpinan feminis di lokalatih MBI (Movement Building Institute), Midha mengasahnya dalam pengorganisasian yang dilakukan, baik untuk isu kesehatan seperti filariasis atau isu lain terkait kebijakan. Alhasil, Midha semakin mantap menjadi organisator dan memotivasi anggota timnya untuk mengembangkan kapasitas agar lebih baik mendampingi masyarakat di Sulawesi Tenggara. (NL)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *