Kami Bukan Malaikat, Kami Bukan Penjahat

Oleh: Maria Mustika

Menjadi perempuan yang feminis

Bagaimana kita berbicara mengenai seksualitas kita sebagai perempuan? Tentu saja sulit sekali. Kata seks memiliki konotasi porno nan jorok dan membicarakannya menjadikanmu berpikiran jorok. Dengan alasan itulah perempuan ditabukan membahas (bahkan) seksualitasnya sendiri, dilarang membicarakan kelamin sendiri. Karena perempuan yang suka dengan “seks” adalah perempuan murahan dan tidak bermoral. Minimal, itulah yang dipercaya dalam masyarakat kita, dibisikkan dari bibir ibu kepada anak perempuannya, disampaikan dengan penuh ancaman di sekolah oleh para guru, dicerca dengan ancaman dosa dalam rumah ibadah kita.

Dengan demikian perempuan tidak bisa membahas mengenai tubuhnya, tanpa menjadikan dirinya obyek fantasi, tidak memahami tubuh dan kenikmatannya sendiri, tanpa menjadikannya penuh dengan nafsu yang salah. Disampaikan dari bibir masyarakat bertapa berbahayanya laki-laki yang akan merenggut keperawananmu, bahkan kadang dengan paksa, dan tubuh perempuan tetap menjadi sumber permasalahan dan disalahkan. Dijelaskan bahwa darah menstruasi adalah tanda kedewasaan, dan karenanya perempuan tidak lagi bisa lincah dan eksploratif, karena dapat menarik perhatian yang salah. Ditegaskan bertapa berbahayanya kelamin perempuan yang bernama klitoris, karena itulah sumber kebinalan perempuan dan nanti yang mendorongnya berbuat dosa. Selalu tentang dosa. Tidakkah kita penasaran, kenapa membahas tubuh perempuan seolah tidak dapat berkelit dari dosa? Seolah tubuh perempuan itu berbahaya dan harus dikendalikan.

Pertama kali diperkenalkan adalah sebuah ide pedang bermata dua yang dinamai perempuan baik lawan perempuan buruk (good girl vs bad girl). Saya menterjemahkan dengan kata perempuan, karena saya menolak pemikiran bygot yang meletakkan perempuan seolah tidak akan pernah dewasa dan hanya selalu dianggap seorang gadis (girl). Saya menolak keras pemikiran semacam ini. Saya yakin semua perempuan adalah manusia dewasa yang dapat berbuat berbagai hal, termasuk kesalahan dan berhak tidak direndahkan karena kesalahannya dan dianggap anak kecil selamanya.

Pemikiran dasar dari perempuan baik lawan perempuan buruk ini adalah memisahkan antara perempuan yang dianggap sesuai dengan norma dengan perempuan yang tidak sesuai norma.

Perempuan baik (good girl)

  • Berpakaian tertutup
  • Tidak merokok
  • Feminin
  • Lembut
  • Santun
  • Tidak melawan kata orangtuanya
  • Menikah
  • Memiliki anak
  • Patuh pada suami
  • Rajin berdoa
  • Negatif HIV&AIDS

Perempuan buruk (bad girl)

  • Berpakaian terbuka
  • Merokok
  • Maskulin
  • Kasar
  • Serampangan
  • Melawan kata orang tua
  • Tidak menikah
  • Tidak memiliki anak
  • Menentang suaminya
  • Tidak beribadah
  • Positif HIV&AIDS

dianggap tidak akan melekat pada perempuan buruk dan sebaliknya. Daftarnya bisa ditambahkan sesuka hati, namun pembagian biner ini akan selalu demikian. Pertanyaannya adalah apakah ada perempuan yang memenuhi semua kriteria ini, tanpa mencampur dengan kriteria yang lain? Apakah ada perempuan baik yang tiba-tiba diketahui positif HIV? Apakah perempuan yang tidak bisa memiliki anak adalah perempuan yang buruk? Apakah kepatuhan menjamin seorang perempuan menjadi baik?

Kriteria sikap ini paling jelas dan dilanggengkan dalam sinetron lokal yang membenturkan konsep perempuan baik dan perempuan buruk dalam cerita mereka. Perempuan baik yang teraniaya, namun terselamatkan oleh posisi dia sebagai perempuan baik dan perempuan buruk yang seenaknya akan mendapat ganjaran yang setimpal. Sementara perempuan baik akan mendapat kemenangan diakhir cerita, perempuan buruk akan mendapat kemalangan, karena dia perempuan buruk. Hanya itu saja alasannya. Tidak ada alasan lain, kenapa perempuan buruk harus mendapat hukuman diakhir cerita.

Cerita semacam ini ada dapat setiap sinetron. Perempuan baik lawan perempuan buruk. Seolah dua kubu yang saling bertolak dan tidak ada titik temu. Sekarang pertanyaannya adalah dirimu ada di karakter yang mana? Yakinkah kamu bisa memenuhi semua kriteria yang diharapkan dari salah satu kubu itu? Saya sendiri tidak yakin termasuk dalam kriteria perempuan baik maupun perempuan buruk. Saya sering bertengkar, maskulin dan kasar, namun saya menikah, tidak merokok dan tidak positif HIV. Saya berada di kubu yang mana?

Kebingungan ini bukan milik saya saja, karena saya yakin tidak ada perempuan yang yakin dapat memenuhi karakter sebagaimana yang diharapkan. Bagaimana mungkin memenuhi salah satu kubu saja, kalau diri kita ada di kedua kubu itu. Saya pernah memukul seorang laki-laki, karena dia menjamah payudara saya. Saya tahu itu kasar, namun apakah salah saya melakukan itu? Saya pernah mengumpat kepada seorang ibu yang menghina ibu saya, apakah saya salah?

Beberapa dari kawan perempuan bangga bahwa dirinya memenuhi norma sosial dan diterima sebagai perempuan baik-baik. Mereka merasa kalau sudah demikian mereka harus menghindari perempuan yang tidak memiliki label yang sama dengan mereka, karena kalau mereka berteman dengan perempuan yang buruk, jangan-jangan label baik-baik itu tadi menghilang dan dia menjadi sama buruknya dengan perempuan yang tidak dapat diterima oleh norma sosial. Menurut saya wajar jika seseorang sudah mendapat label perempuan baik tidak ingin kehilangan label itu, karena label perempuan baik itu memberi keuntungan: diterima dengan baik, dipuji, dihargai, dilindungi, tidak ragu menikah. Semua itu karena dia yakin sebagai perempuan baik dia berhak atas semua itu, sementara perempuan buruk tidak berhak atas itu semua. Yang tidak wajar adalah karena label perempuan baik itu tadi, merasa berbeda dengan perempuan lain dan berhak mencaci serta menghindari perempuan yang dianggap buruk oleh masyarakat sekitarnya.

Sementara ada juga perempuan yang justru “terbiasa” dan tidak ragu dengan status perempuan buruk, beberapa bahkan merasa bangga menyematkan status perempuan buruk pada dirinya. Merasa menjadi sosok yang kuat, melawan arus, menjadi diri sendiri, tangguh, perkasa dan mampu melawan ketidakadilan. Saya sering merasa seperti itu dulu. Saya sempat merasa yakin, itu yang benar saya sematkan pada diri sendiri yang menjadi pendamping lapang dan aktivis perempuan. Saya harus kuat untuk ibu-ibu yang saya dampingi, dan kalau saya tidak menjadi kuat untuk ibu-ibu dampingan, mereka juga akan patah semangat dan kalah.

Saya teringat pada pengalaman kursus seksualitas yang dilakukan oleh FAMM di Malang. Salah satu kawan kami, Pipi Supeni, bercerita tentang memberikan rasa terima kasih kita dengan lembut dan tulus kepada pasangan kita. Saya tertawa, banyak dari kami yang tertawa. Pipi heran, dia tidak merasa melucu. Dan dia memang benar, itu bukan sesuatu yang lucu. Itu adalah sesuatu yang perempuan tulus rasakan dan berikan. Itu adalah semangat feminis yang luar biasa.

Kadang sebagai aktivis yang memposisikan diri melawan korporasi, melawan negara, melawan kelompok lain, melawan, melawan, melawan! Itu semua membuat perempuan merasa gagah dan maskulin. Kita secara tidak sadar berpikir dan menilai orang lain dengan otak yang maskulin. Meski kita berpikiran feminis, namun dengan otak maskulin akan menjadi timpang dan tidak toleran. Kita perlahan menjadi mendua dalam menilai dan memahami. Sering saya berpikir, “Saya tahu dia benar, tapi..”, sekarang saya tahu, itu otak maskulin saya yang sedang bekerja. Mencoba berseberangan pemahaman, memaksakan nilai yang saya yakini benar, menghina yang saya anggap tidak sejalan. Saya menjadi aktivis feminis dengan semangat yang frontal dan ingin melabrak, padahal itu bukanlah semangat feminisme. Saya tidak mau lagi menjadi aktivis perempuan dengan perspektif feminis, namun dengan tindakan dan pemikiran yang maskulin.

Pemikiran semacam ini bukan sebuah pencapaian yang besar dan berakhir. Crossing the line yang saya miliki adalah menemukan batas maskulin diri sendiri dan merubahnya menjadi semangat perempuan. Membentuk diri sendiri dengan semangat merangkul, semangat berubah bersama, semangat bergerak bersama. Karena saya bukan maskulin yang perkasa, saya feminin yang menjadi kuat bersama-sama dengan kawan perempuan lainnya.

Menjadi “liyan” atau menjadi satu

Sementara dalam kotak perempuan ada good girl vs bad girl, dalam kotak laki-laki ada laki-laki perkasa lawan laki-laki lembut (tough guy vs sweet guy): perhatikan istilah untuk laki-laki lebih dewasa (guy). Saya sering mendengar perempuan mengagumi keperkasaan laki-laki, kekuatannya, otot tubuh yang mengkal, maskulinitasnya. Kebanyakan perempuan mendambakan laki-laki yang lebih tinggi dan besar dari dirinya agar dapat melindungi dirinya, seperti rumah melindungi mereka. Sehingga dalam pandangan ini, laki-laki yang tidak perkasa, lembek, lembut, diam menjadi tidak menarik. Laki-laki tidak seharusnya tampil seolah feminin dan lembut. Sering ada yang mengatakan dengan bingung, “Kenapa yang bad boy (laki-laki bandel/nakal) selalu kelihatan lebih menarik ya daripada laki-laki rumahan?”. Kembali tanpa sadar, kita sudah tergila-gila pada maskulinitasnya, kegagahannya, berani ambil resiko, tidak takut berbuat nakal. Kita terpesona pada nilai-nilai maskulin, feromon yang merebak dalam fantasi gagah.

Sementara perempuan “dipaksa” menjadi feminin dan memenuhi norma sosial, kita melawan dengan menjadi perkasa dan menolak tunduk. Laki-laki “diwajibkan” menjadi pemimpin dan karenanya dia harus maskulin dan gagah, karena mereka yakin yang gagah yang memimpin. Seolah tidak ada ruang bagi semua peran ini untuk lebur. Sementara perempuan patuh pada kotak-kotak ini dan memenuhi apa yang norma sosial harapkan. Perempuan akan menjadi aman dari cerca masyarakat dan memiliki posisi dihormati dalam masyarakat. Namun hidup ini ternyata tidak bisa sekedar dilebur dalam kotak-kotak sosial yang difantasikan selama ini. Ternyata ada perempuan yang feminin dan dia pintar dan dapat memimpin. Ternyata ada laki-laki yang membutuhkan tuntunan dan arahan. Perempuan bukan sekedar good girl dan bad girl maupun tough guy dan sweet guy.

Kotak-kotak yang sediakan ini dibentuk, dilanggengkan dan dilestarikan hingga sekarang. Perempuan tergila-gila pada maskulinitas laki-laki, karena dianggap punya “dorongan” primitif yang dibentuk melalui cerita, fabel, cerita rakyat pelajaran sekolah, dalam permainan, bahwa menjadi gagah itu keren. Dalam berbagai kisah itu perempuan digambarkan entah sebagai alat kesuksesan laki-alki sekitarnya atau perempuan yang diam menunggu seseorang merubah keadaan. Cerita Calon Arang, perempuan penyihir yang perkasa, adalah simbol kesalahan perempuan yang terlalu kuat dan harus ditundukkan laki-laki dan dijinakkan, kalau tidak berarti dimusnahkan. Perempuan harus menjadi perempuan dan laki-laki wajib menjadi laki-laki.

Sekarang perempuan bisa menulis ulang sejarah perempuan yang selama ini berhenti hanya dalam peran sampingan tanpa nama. Perempuan bisa menuliskan ulang pengalamannya, kekuatannya, kepemimpinannya, sejarahnya, dan gerakannya. Semua tentang perempuan, dengan pemikiran yang khas perempuan dan nilai-nilai yang tidak perlu menjadi maskulin, tidak perlu menjadi perkasa. Karena kekuatan perempuan ada dalam semangat merangkul, semangat merawat, semangat menjaga, semangat yang disebarkan kepada perempuan lain.

Bagaimana kalau perempuan lepas sesaat dari kotak-kotak, dikotomi-dikotomi, pemisahan yang dibuatkan untuk kita, perempuan-perempuan. Lepaskan diri sendiri dari kata good, kata baik, kata bad, kata buruk. Apa yang kita dapatkan? PEREMPUAN. Di luar segala perbedaan yang disematkan pada perempuan, kita semua adalah perempuan. Sebagai perempuan, perbedaan adalah bagian dari kita semua. Perempuan adalah sekumpulan pengalaman-pengalaman. Ceritanya tidak selalu manis, kadang pahit dan berduri, kadang pahit itu masih mengikutinya hingga saat ini. Kadang duri masa lalu itu masih melukai jiwa yang sekarang. Cerita-cerita ini, tidak mengenal apakah kamu yang dianggap baik maupun buruk. Cerita-cerita ini tidak memisahkan perempuan karena cerita ini adalah cerita perempuan. Sebagai perempuan, kita memiliki kesamaan pengalaman. Perempuan bukanlah “liyan” untuk kawan lain.

Sumber gambar: http://nasuki100.deviantart.com/art/Good-girl-422350843

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *