Buka dan Bicarakan Mitos!

Oleh: Alifatul Arifiati

”Barangsiapa memegang alat kelaminnya sendiri, niscaya matanya akan minus, konsentrasi hafalan menjadi buyar dan lututnya akan keropos.”

Alif1

Paham ini populer di kalangan pesantren. Akibatnya, banyak santri perempuan merasa malu dan berdosa saat diminta membicarakan alat reproduksi mereka. Konon, ia didasari atas cerita Sayyidina Ali bin Abi Thalib, sahabat nabi, yang memiliki tulisan tangan yang sangat indah. Konon karena beliau tidak pernah memegang alat kelaminnya sendiri.

Aida (bukan nama sebenarnya) panik, takut dan merasa jijik ketika mendapati darah kental kehitaman tercecer di celana dalam dan membekas di rok seragam madrasahnya. Ia bertanya-tanya, ”darah apa itu?”. Tak ada bagian tubuhnya yang terluka dan berdarah.

Aida mendapat haid pertama pada usia 10 tahun. Ketakutan Aida bertambah ketika ingat pesan ayahnya, seorang kiai, mengenai anak gadis yang sudah haid akan menjadi genit kepada laki-laki. Takut dimarahi, seharian Aida mengurung diri di kamar. Ia tidak berani mengadu kepada ibu, apalagi bertatap muka dengan ayahnya.

Aida tidak sendiri. Banyak santri perempuan lain yang tidak tahu tentang alat reproduksi mereka. Dila (bukan nama sebenarnya) berusia 19 tahun. Saat diminta menyebutkan bagian tubuh yang menjadi alat reproduksi perempuan, ia menutup wajah dengan kedua telapak tangan, menahan malu. Saat ditanya berapa jumlah lubang di vaginanya, dia menjawab, ”Ih, kan nggak boleh dipegang. Nggak boleh dilihat!”

Bagaimana perempuan dapat mengenal, memahami dan bangga atas tubuhnya sendiri, jika sejak kecil sudah dibungkam untuk membicarakan tubuh dan seksualitasnya?

Fahmina Institute melakukan upaya penyadaran kritis tentang kesehatan reproduksi. Upaya ini dimulai dengan melakukan pelatihan tentang kesehatan reproduksi dan mengadakan pemutaran film-film inspiratif, seperti ”Pertaruhan” atau ”Perempuan Punya Cerita” untuk menggugah rasa keingintahuan mereka. Fahmina Institute juga melakukan Dawrah Fikih Perempuan bagi para Nyai di pesantren.

Sesuai dengan hasil Konferensi Internasional Kependudukan dan Pembangunan (International Conference on Population and Development/ICPD) tahun 1994, ada 12 hak kesehatan reproduksi yang meliputi antara lain hak mendapatkan informasi kesehatan reproduksi, hak mendapatkan pelayanan reproduksi, dan hak menyampaikan dan didengarkan.

Hak-hak tersebut perlu diikuti dengan sosialisasi dan pendampingan kepada masyarakat mengenai informasi yang benar tentang kesehatan alat reproduksi perempuan. Buka dan bicarakan mitos seputar alat reproduksi! Jangan bungkam mulut dan tubuh perempuan saat mereka ingin bersuara!

Ditulis ulang dari buku Prisma: Refleksi Pengorganisasian Aktivis Perempuan Muda Komunitas JASS.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *