Kepemimpinan Perempuan Pekerja Rumah Tangga

“Sebenarnya, bersentuhan dengan gerakan perempuan adalah hal yang tak pernah terpikirkan akan jadi Alvijalan hidup sebelumnya,” ujar Alvi, 32 tahun. Ia memulai penuturannya tentang awal mula bersinggungan dengan isu perempuan sejak beberapa kali ikut diskusi yang diselenggarakan oleh Institut Pelangi Perempuan di Jakarta sekitar tahun 2006 dan kemudian salah satu cerpennya Ketika Langit Senja masuk sebagai pemenang dalam Kumpulan Cerpen Lesbian Muda yang diterbitkan Institut Pelangi Perempuan tahun 2008.

Alvi menginjakkan kaki di Yogyakarta sekitar akhir 2008 dan beraktivitas di beberapa kegiatan Koalisi Perempuan Indonesia kelompok kepentingan LBT. Namun keterikatannya dengan isu perempuan menguat ketika sejak 2009 bergabung di RTND (Rumpun Tjoet Njak Dien), sebuah lembaga yang fokus pada pendampingan, pendidikan dan advokasi Pekerja Rumah Tangga (PRT) di Yogyakarta, sebagai relawan bidang advokasi. Perlahan, Alvi mulai belajar dan meningkatkan pemahamannya dalam kerja-kerja advokasi dan kampanye serta penanganan kasus. Hingga kini ia menjadi bagian dalam supporting system dalam penyelenggaraan sekolah PRT mingguan yang diselenggarakan RTND dan beberapa LSM di Yogyakarta yang tergabung dalam Jaringan Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (JPPRT) DIY.

“PRT yang bersekolah di Sekolah PRT adalah PRT yang masih aktif bekerja sebagai PRT, baik itu bekerja paruh waktu atau purna waktu. Kebanyakan bekerja paruh waktu dan mendapatkan libur hari Minggu sehingga bisa ikut sekolah PRT dan mengorganisir kawan-kawan PRT lainnya,” ujar Alvi. Jumlah peserta sekolah mencapai 25 orang dan seluruhnya perempuan.

Peserta sekolah PRT adalah pemimpin di komunitas mereka (community leader). Satu orang biasanya mengorganisir beberapa orang. Materi dan pengetahuan yang didapatkan di sekolah akan disampaikan ke komunitas masing-masing.

Setiap minggu, peserta Sekolah PRT diberi materi yang berbeda-beda, diantaranya tentang seks, gender, kepemimpinan, kesehatan reproduksi, dan bahkan sampai materi Bahasa Inggris dan komputer. Pengorganisasian melalui sekolah PRT bertujuan untuk melawan stigma dan diskriminasi melalui pendidikan kritis. Alvi berkata bahwa, “Selama ini PRT masih memiliki konotasi di masyarakat sebagai pembantu, perempuan berpendidikan rendah, bergaji rendah, tidak ada hari libur, dan rentan kekerasan.”

Dia juga menambahkan bahwa sebagian dari PRT yang diperkerjakan masih usia anak-anak. Tidak terpenuhinya hak pekerja perempuan di sektor informal menjadi salah satu perjuangan gerakan perempuan.

Sebagai aktivis perempuan muda, Alvi terdorong untuk mengikuti lokalatih MBI (Movement Building Initiative) yang dilakukan FAMM Indonesia tahun 2014 yang lalu. Pasca MBI, ia berinisiatif mengadopsi materi kepemimpinan feminis yang diperolehnya ke dalam kurikulum Sekolah PRT.

“Kepemimpinan feminis salah satu materi yang berkesan di MBI. Aku memasukkannya ke dalam kurikulum sekolah PRT yang tadinya hanya berjudul kepempimpinan.” Ia juga ikut mengembangkan materi konseling berperspektif feminis untuk menguatkan pendampingan ke komunitas.

Selain pendidikan kritis, Alvi bersama kawan-kawan di JPPRT juga menyuarakan hak PRT melalui kampanye. Salah satu bentuk kampanye yang dilakukan adalah melalui peringatan Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (HAKTP) pada 13-14 Desember 2014 yang lalu dimana JPPRT dan FAMM Indonesia terlibat sebagai tim penyelenggara.

Perjuangan kawan-kawan JPPRT membuahkan beberapa hasil salah satunya perubahan istilah yang digunakan. Alvi mengatakan bahwa “Sejak lama istilah rewang dan babu yang berkonotasi kasar digunakan kepada PRT. Kemudian diperhalus menjadi pembantu rumah tangga dan asisten. Saat ini istilah politis yang dipakai RTND adalah Pekerja Rumah Tangga (PRT) karena advokasi PRT adalah advokasi sebagai pekerja formal.”

Tahun 2010, RTND bersama Jaringan Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (JPPRT) menggolkan Pergub dan Perwal tentang pekerja rumah tangga. Jogja menjadi pelopor untuk pergub tentang PRT karena di daerah/provinsi lain belum ada. Dengan bergabung sebagai anggota Jala PRT (Jaringan Advokasi Nasional PRT), RTND melakukan advokasi Undang-Undang (UU) PRT meski melewati proses sulit dan lebih lama hingga lebih dari 10 tahun.

Pendampingan ke komunitas PRT yang dilakukan RTND sudah berhasil melahirkan 2 organisasi PRT yaitu Serikat PRT Tunas Mulia dan Kongres Operata Yogyakarta yang kini bermitra dengan RTND di JPPRT sebagai organisasi PRT yang mandiri.

FAMM Indonesia ikut belajar dari proses RTND dan berbangga hati terlibat dalam penguatan kapasitas kepemimpinan Alvi untuk berjuang bagi kemajuan gerakan perempuan. Bersama kita bisa!

Sumber foto: www.antarafoto.com dan koleksi FAMM-I

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *