Penolakan Terhadap Penyerangan Aksi Transgender Day of Remembrance 2014 di Yogyakarta

PRESS RELEASE
Penolakan Terhadap Penyerangan
Aksi Transgender Day of Remembrance 2014 di Yogyakarta
“Yogyakarta INTOLERAN”

Berbagai organisasi transgender di seluruh dunia, mengenal 20 November sebagai hari mengenang transgender atau Transgender Day of Remembrance (TDOR), hari di mana kita mengenang kawan-kawan pejuang HAM transgender, yang meninggal karena memperjuangkan hak-haknya menentang kekerasan berbasis kebencian (hate crime) terhadap diri dan komunitasnya. Hari mengenang transgender ini di mulai oleh seorang advokat waria, Gwendolyn Ann Smith, untuk memberikan penghargaan tertinggi pada seorang kawan, Rita Hester, yang terbunuh pada tahun 1998. Sejak hari itu, mengingat banyaknya kawan-kawan trasgender di seluruh dunia memiliki pengalaman serupa, dirasakan perlunya mengenang kawan-kawan mereka. Dengan mengenang hari transgender ini, kita pun mengingatkan kepada masyarakat umum, bahwa ada kelompok minoritas yang tertindas oleh stiga dan diabaikan oleh negara yang seharusnya memberikan rasa aman dan menjamin pemenuhan hak-haknya.

Mengingat tingginya kasus kekerasan terhadap LGBT (Lesbian Gay Biseksual Transgender), terutama transgender, Jaringan Perempuan Yogyakarta (JPY), pada hari Kamis, 20 November, bersama-sama jaringan HAM dan komunitas transgender di Yogya berkumpul di wilayah Tugu untuk membagikan bunga dan informasi mengenai transgender, sebagai upaya mengurangi tingkat kekerasan terhadap transgender di Yogyakarta.

Sebelum acara berlangsung, beredar informasi upaya mengumpulkan massa di Masjid Diponegoro, Masjid At-Takim, Masjid Mujahidin, dengan agenda upaya melakukan penyerangan terhadap kawan-kawan yang sedang berada di Tugu. Pada awalnya acara berlangsung aman dan kondusif, namun penyerangan dilakukan justru setelah acara selesai dan peserta kegiatan berpencar untuk pulang. Beberapa peserta dipukuli oleh sekelompok orang yang mengaku-aku polisi, dengan tangan kosong maupun dengan bambu. Salah seorang kawan, dijatuhkan dari sepeda motor serta dipukul dan ditendang. Kehadiran polisi di wilayah tersebut, seolah tidak berguna dan tidak berdaya menjalankan peran pengamanannya. Dalam kejadian tersebut enam kawan gerakan mengalami luka-luka dan memar, akibat serangan tersebut. Menyadari adanya ancaman dan serangan terhadap kawan-kawan kami, polisi bahkan tidak berupaya mengawal dan menjamin keselamatan mereka yang secara terang-terangan diancam.

Penyerangan ini merupakan serangan terhadap hak asasi manusia yang sudah termaktub dalam UUD 1945 pasal 28 yang mengakui HAM sebagai landasan negara dan menjamin kebebasan berpendapat dan berserikat. Penyerangan ini jelas melanggar, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) bab XX pasal 351 yang menegaskan penganiayaan adalah kejahatan pidana. Penyerangan ini merupakan kekerasan terhadap demokrasi, keberagaman, toleransi serta kebhinekaan, sehingga mengancam masyarakat bernegara dan berserikat. Penyerangan semacam ini bukan pertama kali di Yogyakarta dan polisi kembali membuktikan ketidakmampuannya menjamin rasa aman warganya sendiri.

Menyadari hal ini, kami Forum Aktivis Perempuan Muda Indonesia (FAMM-I), forum gabungan gerakan perempuan muda di seluruh Indonesia, menyatakan:

    1. Kami geram dan malu atas kejadian yang melukai anggota kami serta kawan-kawannya, di Negara Kesatuan republik Indonesia (NKRI) yang sudah menjamin kebebasan kami berserikat serta berpendapat dan gagal memenuhi hak-hak warganya.
    2. Kami Menuntut Kapolda Jawa Tengah, Kapolsek Tugu dan jajarannya, untuk mengusut tuntas kasus ini dan menindak pelaku penganiayaan.
    3. Kami menuntut peradilan terbuka dan memberikan rasa adil serta aman kepada korban sebagaimana di jamin dalam KUHP dan KUHAP.
    4. Kami menolak pembiaran dan pengabaian terhadap kasus semacam ini, sebagaimana yang pernah terjadi. Pelaku penyerangan dan penganiayaan ini, menggunakan dalih agama sebagai pembenar tindak kekerasan dan sudah waktunya negara menegakkan hukum dan tidak diam saja dengan dalih norma sosial.
    5. Kami menyuarakan kepada seluruh anggota FAMM-I dan jaringannya untuk menyebarkan press release ini dan mengingatkan kerentanan kawan-kawan LGBT, terutama transgender terus terjadi dan juga terjadi di wilayahnya. Kejadian ini harus berakhir dan menuntut pemerintah daerahnya memberikan perlindungan terhadap kelompok rentan.

Surabaya, 24 November 2014

Foto: www.apiequalitync.org

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *