Simpul Gerakan Perempuan di Lombok

Oleh: Niken Lestari

Pendaratan pesawat Garuda yang keras membangunkanku dari tidur. Aku mencari-cari petunjuk untuk mengetahui lokasi. Ya, sampai juga di Bandara Internasional Lombok atau disingkat BIL. Beberapa hari kemudian aku baru tahu bahwa ini adalah bandara baru menggantikan Bandara Selaparang.

Ini kunjungan pertamaku ke Lombok dan aku tidak sendiri. Aku membawa rombongan yang terdiri dari 4 orang kawan dari luar negeri, satu orang dari Kanada dan tiga orang dari Belanda. Selama perjalanan aku tidak berhenti berdoa semoga perjalanan dan kunjungan kami berakhir dengan lancar.

Aku baru tahu ada 3 orang dari Belanda pada saat menjemput mereka di hotel. Rupanya temanku sendiri hanya tahu 2 orang saja yang akan datang. Padahal mobil yang menjemput kami adalah Avanza (di Jogja) dan Xenia yang mungil. Kalau orangnya lebih dari cukup, tapi koper mereka yang sangat besar itu memakan tempat.

Jarak antara bandara sampai Hotel Sheraton cukup jauh yaitu 1 jam 15 menit dalam kondisi lancar. Lombok baru saja diguyur hujan lebat ketika kami datang. Menurut Pak Hariri, supir kami, ini kali pertama Lombok diguyur hujan setelah sekian lama mengalami musim kemarau. Dia menyebut kami, tamu yang membawa berkah. Amin.

Salah satu tamu yang paling bersemangat adalah Joke. Dia konsultan dari FemConsult dan terlihat sangat bersemangat mendengar cerita pengorganisasian, tantangan, kehidupan perempuan lokal, dll. Orangnya sangat hangat, senang bertanya dan selalu mencatat apa yang dia lihat atau dengar. Ya mungkin itu memang tugasnya tapi dia melakukannya dengan gembira.

Joella adalah seorang perempuan berusia paruh baya dari Kementerian Luar Negeri Belanda. Dia juga suka bertanya dan sangat penasaran. Orangnya sangat mandiri, disiplin soal waktu dan tidak mau terlalu banyak dilayani. Terakhir adalah Anne Marie yang lebih banyak mengurus administrasi dan keuangan. Jika merasa lelah, dia akan kehilangan minat dan konsentrasi pada diskusi. Carrie dari JASS senang sekali ngobrol dengan dia, sepertinya lebih nyambung.

Carrie adalah kawan dari JASS. Dia senang sekali ngobrol dan sering menggerakkan tangannya ketika berbicara. Dialah yang memecah keheningan dalam mobil ketika kami berangkat ke Desa Gerung. Aku sangat tegang karena tidak punya bayangan seperti apa center PEKKA di sana, apa yang harus dijelaskan, apa istilah dari kata-kata tertentu, dsb. Aku selalu membawa handycam tapi tidak pernah sempat menggunakannya karena fokus dengan peran sebagai penerjemah. Rupanya semua mengalir dimulai dengan pertemuan dengan Riadul, kawanku di FAMM Indonesia dan bekerja sebagai koordinator pendamping lapang. Senangnya bertemu muka yang aku kenal!! Tugasku hanya menerjemahkan apa yang dikatakan Ria. Bukan kebetulan kalau Ria juga orang yang senang sekali bicara sampai aku kewalahan menerjemahkan informasinya. Ketika aku menelepon dia pun, agak susah memotongnya. Berbeda sekali dengan Kak Reny, koordinator wilayah PEKKA di NTB, yang tidak banyak bicara.

Di Kecamatan Gerung, rombongan kami bertemu dan berdialog dengan komunitas dampingan yang sedang belajar aksara fungsional. Di halaman center PEKKA, kami disambut Ria dan pekarangan yang mereka gunakan untuk permakultur. Bangunan center cukup besar, sekitar 12 kali 8 meter. Di dalamnya ada radio komunitas yang dikelola komunitas. Ada dua kelompok yang sedang belajar secara terpisah. Satu kelompok kebanyakan berusia sekitar 50 tahun dan di kelompok satunya sekitar 30-40 tahun. Ada kelompok yang baru belajar membaca, ada kelompok yang sedang memperlancar kemampuan baca. Sebagian perempuan tidak lulus SD atau SMP. Ada sebagian yang dulu bisa membaca kemudian lupa karena jarang mempraktekkannya.

buku-2PEKKA membuat bahan ajar sederhana. Materi yang mereka berikan misalnya belajar mengeja dan membaca kata MEMUKUL, MENENDANG, MENAMPAR, MENJAMBAK sambil menjelaskan bahwa tindakan tersebut adalah bentuk-bentuk kekerasan yang dilakukan terhadap perempuan. Beberapa modul bahan bacaan PEKKA berjudul Mengapa memiliki buku nikah itu penting?, Mengapa akta kelahiran penting?, Apa itu kekerasan dalam rumah tangga?, Bagaimana mengurus perceraian?. Semua buku disertai dengan ilustrasi berwarna-warni sehingga menarik dan dapat dipahami meskipun seseorang tidak bisa membaca tulisan di dalamnya dengan lancar.

Aku mengambil posisi moderator untuk menjelaskan tujuan kami di tengah-tengah mereka, mengenalkan FAMM Indonesia dan setiap tamu. Beberapa ibu berani bertanya dan menjawab pertanyaan dari rombongan. Kami juga dikenalkan dengan beberapa perempuan muda yang menjadi kader dan ada yang sedang kuliah di perguruan tinggi. Pencapaian tersebut hasil dari pengorganisasian bertahun-tahun. Selama di Desa Gerung dan di perjalanan menuju Kecamatan Lingsar, Riadul menceritakan kerja PEKKA dari 2003 sampai sekarang. Rombongan yang aku bawa sepertinya tertarik dengan bagaimana anggota PEKKA membentuk dan mengelola koperasi.

Di Kecamatan Lingsar, kami mengunjungi KLIK PEKKA yaitu Klinik Hukum untuk Keadilan PEKKA. Di Lombok, mereka bekerjasama dengan LBH APIK. Kami sempat berdiskusi dengan dua pengacara dari LBH APIK mengenai proses hukum keluarga di Indonesia. Rombonganku sangat tertarik dan banyak bertanya tentang hukum perkawinan dan keluarga untuk muslim dan non muslim. Mereka terlihat sangat bahagia. Mereka bahagia, aku pun terlebih lagi.

Dari KLIK PEKKA, kami menuju permakultur di desa yang sama. Hujan gerimis sudah turun dan kami hampir saja berbelok, urung ke permakultur tetapi teman-teman di sana sudah bersiap dengan kedatangan kami. Kehadiran kami sudah ditunggu sehingga tidak sopan kalau kami tidak datang. Ria segera menelepon dan berkoordinasi agar Bu Irianti, dampingan pelaku permakultur, menyiapkan payung untuk setiap tamu yang datang.

Oh, Bu Irianti sangat sigap. Ketika kami datang, dia membawa beberapa payung dari pelepah pisang. Prinsip Bu Irianti sangat jelas, alam sudah memberikan segalanya. Rombongan kami pun senang dan ingin difoto menggunakan payung pelepah pisang.

Ibu Irianti membawa kami ke kebun yang dia banggakan. Sama dengan Ria, dia juga senang sekali bicara dan menjelaskan berbagai hal. Untung ada Kak Reny yang bisa mengarahkan. Rombongan kami disuguhi singkong dan ubi rebus serta manggis. Amboi, sedap sekali.

Kebun yang dikelola Bu Irianti milik kakak perempuannya. Dulu kebun itu tanah mati alias tidak bisa ditanami. Kemudian Bu FLOW-4Irianti menggarapnya menggunakan limbah sampah dan rumah tangga sehingga tanah menjadi gembur dan berbagai macam sayuran dan buah bisa tumbuh. Beberapa tahun yang lalu Carrie pernah mengunjungi Bu Irianti yang baru melahirkan. Carrie bertanya dimana anaknya. Bu Irianti menunjukkan anak laki-lakinya yang berusia 3 atau 4 tahun. “Ini ya dulu, babi, babi.” Aku bingung, dimana ada babi? Lalu Kak Reny senyum-senyum dan mencolekku, “Maksud dia baby tapi dibaca babi.” Hahahaha, aku tertawa. Tulisannya memang beda tipis tapi artinya beda jauh.

Selesai dari permakultur, kami berkunjung ke center PEKKA di Kecamatan Lingsar. Di sana sudah disajikan makan siang. Kepalaku cenut-cenut karena telat makan dan capek. Sajian makan siang terdiri dari tahu, tempe, sambal, lalapan, dan ikan lele besaaar yang dimasak ala sate alias ditusuk dari mulut sampai ekor. Rombonganku setengah ilfil dan setengah hati-hati. Tadinya aku pikir ikan bakar, supaya yang tidak suka daging juga mau makan. Cuma Joella yang mau makan lele. Aku tentunya makan dengan lahap karena ada sambal yang pedas.

Setelah makan kami berdiskusi. Rombonganku terlihat sangat lelah. Perjalanan dari Hotel Sheraton ke Kecamatan Gerung cukup jauh. Bunda sudah memberi rekomendasi hotel yang lebih dekat tapi mereka memilih hotel bintang 5. Joke tetap sumringah dan fokus mendengarkan cerita teman-teman. Bahkan ketika Carrie mau menutup diskusi, Joke masih ada pertanyaan. Aku suka semangatnya. Sakit kepalaku juga mulai berkurang karena bertemu Masnim (Jarpuk Rindang) dan Kak Ririn (LPSDM), anggota FAMM Indonesia.

Kami mendiskusikan tentang batas usia menikah, data statistik terkait provinsi NTB mengenai angka kelahiran ibu, angka buta huruf, perkawinan usia dini, bantuan tunai dari pemerintah, dll. Teman-teman FAMM Indonesia melakukan banyak hal di komunitas mereka, termasuk melibatkan aktivis perempuan muda dalam pengorganisasian. Diskusi ini menunjukkan FAMM Indonesia telah menjadi bagian dari simpul relasi dan jaringan yang kuat untuk menjembatan perbedaan sebaran sumber daya informasi, dana, manusia antara satu tempat dengan yang lain.

Kami semangat untuk kembali ke hotel dan melihat matahari yang seakan tenggelam ke dalam laut. Setiap perjalanan selalu membawa cerita dan pertemanan dengan orang-orang baru. Hari yang melelahkan dan melegakan.

Tulisan ini sebagai tanda terima kasih kepada teman-teman yang selalu menyertai FAMM Indonesia.

Foto: Koleksi pribadi Niken dan Joke Manders

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *