Tidak melekat pada luka

Penulis: Maria Mustika

“Tidak ada manusia yang kebal trauma, karena manusia tidak dapat menghindar dari terluka akibat orang lain. Serta manusia tidak dapat DSC_9787-menghindari dirinya dari melukai orang lain, sadar maupun tidak” Kawanku mengatakan dengan tegas. Tidak ada orang yang hidupnya sangat sempurna, sehingga dirinya tidak pernah terluka ataupun menangis. Semua orang pernah mengalami hal tersebut. Tidak ada orang yang kebal disakiti ataupun bertindak tanpa cela sehingga tidak pernah melukai siapapun. Awalnya aku tidak terlalu paham makna kata itu, namun belakangan ini aku menjadi semakin paham maksud kata-katanya.

Berada dalam ruang aman di FAMM-I (Forum Aktivis Perempuan Muda Indonesia) selama 2 tahun ini membuatku merasa ringkih dan kecil. Ada begitu banyak permasalahan yang harus dihadapi semua kawan-kawanku. Permasalahan yang berat untuknya dan terus terbawa dalam hatinya. Rasanya berat dan payah setiap kali mendengar kawanku dilukai, dikhianati, disalahgunakan kepercayaanya..ah banyak sekali kawan-kawanku terluka. Dalam luka itu, mereka terkadang memilih diam, tidak menemukan kawan berbagi duka, sendirian dalam kepedihannya. Menurutku tidak seorang pun seharusnya menanggung sendiri lukanya dan diam menghadapi situasi yang membuatnya terus terluka.

Aku merasa aku harus hadir dalam duka kawan-kawanku, karena bila tidak ada yang menemani duka mereka, aku tidak mampu membayangkan rasa yang harus di bawa setiap hari. Hanya saja, merasakan sedikit saja tekanan yang mereka hadapi, aku ikut merasa terluka. Aku ternyata ikut berdarah dan semakin banyak yang aku dengar semakin berat aku merasakan perasaanku. Ah rasanya seperti terluka lagi dan lagi. Menerima cerita kawan-kawanku terasa berat. Aku selalu merasa tidak seperti ini seharusnya. Ruang aman tersebut, harusnya menjadi ruang yang nyaman bagi kawan-kawanku berserta diriku didalamnya. Lalu kenapa menjadi seperti ini? Pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah terjawab ini membuatku merasa tertekan, keras dan pahit. Semua perasaan ini membuatku tidak yakin, bahwa aku mampu menjadi bagian dalam ruang aman.

Aku mulai berdiskusi dengan kawan-kawan dalam FAMM mengenai situasiku, aku merasa dipahami dan ketegangaku berkurang. Perlahan aku mulai berdiskusi dengan pasanganku dan beberapa kawan-kawan konselor dan akhirnya aku paham dengan situasiku. Aku memasukkan diriku dalam luka semua kawan-kawanku dan aku bertahan dalam luka-luka itu, tanpa berupaya menyembuhkan hatiku dari semuanya yang menyakitkan. Memahami situasi tersebut tidak sepenuhnya membantuku paham dan lepas dari semua itu, pemahamanku hanya separuh dari langkah penyembuhan yang kubutuhkan.

Pertama kali aku bermeditasi, kata pertama yang diberikan adalah relaks. Tidak perlu terikat dengan semua luka dan tidak perlu berupaya membuang semua rasa sakit itu. Sebagaimana rasa sakit selama duduk dalam posisi meditasi, semua perasaan luka melekat pada jiwa dan pengalamanku, juga memberi rasa sakit yang sama. Semakin kita berupaya mengabaikan rasa sakit, maka rasa sakit itu akan menguat dan semua upaya menenangkan diri akan sia-sia. Pertama kali aku merasakan sakit dan mengakui bahwa itu sakit, namun tidak terikat pada rasa sakit, karena rasa itu ada di masa yang berbeda, di waktu yang lain dan bukan milik siapapun ketika berada di masa lalu. Kata ke dua yang aku terima adalah tidak melekat, yang artinya tidak mengikatkan diri pada rasa sakit dari pengalaman masa lalu, kita bisa belajar dari pengalaman, tanpa terjebak tetap di masa lalu.Ketika aku memahami bahwa dengan tidak melekatkan diri ke manapun, kecuali pada saat ini, waktu ini, yang sebenarnya selalu selangkah di depanku, aku mulai memahami bahwa hidup itu memandang dan melangkah ke depan, bukan membungkuk ke masa lalu.

Sampai sekarang pun, aku hanya seorang pengelana dalam kehidupanku. Akan selalu ada kawan yang berjumpa dan berbagi. Baik itu cerita yang indah maupun yang pahit, semua sudah selesai, kita tidak perlu terus terluka oleh pengalaman tersebut. Aku tidak perlu ikut terluka untuk memahami kesedihan dan kemarahan kawan-kawanku. Aku Hanya perlu menerima. Menerima bahwa itu adalah pengalamanku yang akan mewarnai kehidupanku sesuai dengan yang aku putuskan. Kita tidak ditentukan oleh masa lalu, kita menentukan langkah berikut yang kita ambil. Apakah hari ini anda sudah membrikan senyum pada seseorang? Apakah anda sudah mengatakan bahwa anda mencintai pasangan anda? Apakah anda sudah bersyukur hari ini? Langkah-langkah kecil, tindakan-tindakan sederhana. Inilah penyembuhan yang saya rasakan, saya butuhkan. Menerima semua pengalaman, baik menyenangkan maupun tidak,bersyukur atas pengalaman tersebut dan yakin bahwa nanti akan lebih baik. Hal sederhana semacam inilah yang meyembuhkan rasa kebas dan keras yang selama ini saya rasakan. Lalu bagaimana denganmu? Bagaimana harimu? Ceritakan padaku, dan jadikan pengalaman itu kekuatan untuk melangkah ke depan, kekuatan untuk memaafkan, kekuatan untuk menerima dan melangkah bersama-sama.

Lain kali akan aku ceritakan pengalamanku mengikuti retret meditasi selama sembilan hari, tanpa bicara (noble silent), bergerak selambat mungkin dan menemukan kenyamanan menerima diri yang apa adanya. Bersabarlah. Semoga dirimu berbahagia hari ini.

One thought on “Tidak melekat pada luka

Leave a Reply to rizki nurhaini Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *