Membangun gerakan dengan membuka diri

Penulis: Maria Mustika

Pada awalnya aku memahami proses Personal Stories sebagai sebuah proses dalam MBI FAMM-I dalam MBI-167membangun ruang aman bersama bagi anggota FAMM-I, untuk melepaskan emosi-emosi yang terasa menekan dan mendapatkan penguatan dari sesama aktivis perempuan muda yang bergerak dalam akar rumput. Namun dalam perkembangannya, aku semakin memahami personal stories tidak sekedar wadah untuk saling belajar, belajar mentoleransi kawan, membangun kebersamaan, meningkatkan kepekaan terhadap perbedaan serta toleransi dan mengembangkan semangat sisterhood, ternyata lebih dalam daripada itu. Dalam personal stories kita belajar mengenai pengorganisasian, kepemimpinan perempuan, sikap dan nilai dari feminisme serta dari pengalaman pribadi dari peserta MBI. Lebih jauh dari mempelajari hal-hal semacam itu, personal stories merupakan proses melekatkan relasi antar saudari perempuan, sebuah upaya menerima dan bertoleransi atas sebuah keadaan yang sulit bagi perempuan.

Banyak kawan-kawan perempuan yang telah ikut MBI perlahan semakin menyadari peranan diri sebagai perempuan dalam gerakan, tidak sekedar menjalankan program dalam organisasinya namun mengembangkan perempuan dalam tindakkannya dengan berpikir out of the box, berani mengambil keputusan yang sulit serta mengembangkan social enterpreneurship. Bahkan ketika di dera sakit berkepanjangan selama 5 bulan, dia tidak menyerah dan terus memupuk semangat kembali pada gerakan di wilayahnya. Hal tersebut dapat terjadi, karena dia paham bahwa sebagai bagian dari gerakan, dirinya selalu dibutuhkan dan sebagai perempuan, dia memiliki kawan yang akan selalu menemani dirinya. Tidak ada perempuan yang sendirian.

FAMM-I tidak sekedar menjadi wadah untuk menguatkan semangat yang mulai patah, namun sekaligus ruang bertemu dan bekerja sama dengan kawan-kawan dari organisasi yang berbeda. Semangat membangun gerakan sebagaimana sebuah tenun yang saing menjalin, mengingatkan bahwa kita memang tidak bekerja sendiri namun justru saling menopang dan mengait dengan kawan-kawan yang lain. Kita tidak perlu malu dengan kekurangan dan membangun gerakan dengan semangat saling berbagi.

Aktivis perempuan muda memiliki pergulatannya sendiri, baik sebagai perempuan, anak, pasangan maupun sebagai aktivis dalam lembaganya. Tidak semua keluarga menerima pilihan hidup seseorang untuk menjadi aktivis, lingkungan dan masyarakat tidak mudah menerima perempuan yang memimpin komunitas, berbagai norma dan aturan dilewati hanya karenanya. Pilihan politik sebagai pasangan, ibu maupun melajang menjadi tidak mudah ketika menjadi aktivis, tuntutan sosial dan keluarga agar memenuhi peran perempuan baik-baik menjadi tantangan bagi aktivis perempuan saat ini.

Ruang Aman FAMM-I juga merupakan wadah untuk menemukan keyakinan diri setelah sempat meragu. Meragu dalam gerakan, meragukan kemampuan diri meragukan cita-cita bersama yang telah di bangun. Kita banyak mendapat tekanan dari lingkungan, dari keluarga, dari pasangan, bahkan dari diri kita sendiri dalam memutuskan apa yang kita inginkan, apa yang kita cita-citakan dan apakah kita memang layak berada di dalam sebuah gerakan? Meski kadang lingkungan meragukan kemampuan kita dalam membawa komunitas meningkatkan kesejahteraannya, meski keluarga tidak selalu yakin bahwa bertahan dalam dunia gerakan adalah pilihan terbaik, meski pasangan meragukan semangat juang kita, meski kadang kita merasa meghadapi situasi yang mustahil untuk ditangani, pertemuan kembali dalam gerakan merupakan proses menemukan kembali jalan menuju matahari bersama kita.

Ruang aman juga menjadi proses di mana kita semua semakin menyadari bahwa sebagai perempuan kita semua memiliki benang yang sama, kita semua pernah terluka dan trauma oleh penolakan keluarga, sikap antipati masyarakat, ditindas karena dirinya perempuan, dilukai karena menolak untuk pasrah dan direndahkan karena pilihan sikapnya. Bersamaan dengan kitu kita pun sadar bahwa ada benang merah semangat pantang menyerah, bertahan dalam gerakan perempuan, kemauan melawan penindasan dan diskriminasi, kekuatan yang dibangun dengan persaudarian, mengembangkan kemampuan analisa serta kepekaan pada kebutuhan perempuan dan tujuan matahari bersama yang ingin di capai akan terus menjadi api yang memberikan semangat pantang mundur dalam diri kita.

Kekuatan perempuan terletak pada semangat yang tidak mudah patah dan selalu kembali berjuang meski sempat meragu. Itulah yang kami temukan dalam personal stories, bahwa kami akan tetap kembali dan berjuang bersama. Dalam ruang yang hanya berisi perempuan, kita bercerita tentang luka dan harapan, kekalahan dan kemenangan, penemuan kembali diri sendiri yang sempat jatuh tercecer dalam perjalanan membangun gerakan ini, semakin lama, dapat dipahami bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Pada akhirnya diri kita semua selalu membutuhan teman yang menerima dan membantu kita menguatkan diri serta terus melangkah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *