KURIKULUM 2013 DAN HAK ANAK

OLEH : HERLIA SANTI
(Anggota FAMM Indonesia)
Dimuat di Tribun Pekanbaru. Senin, 18 Agustus 2014

Tidak seperti biasanya, sore itu sepulang sekolah wajahnya kelihatan kesal. Dengan marah dia berkata, ” Adek tidak akan sekolah besok.” Segera kuhampiri dan dengan sabar aku menanyakan mengapa dia berkata begitu.

Setelah susah payah membujuk, akhirnya dia berkata, harus menghapal tugas sekolah dan akan dipresentasikan di depan kelas besok. Semua siswa harus bisa, jika tidak maka akan dihukum. Katanya lagi, ini merupakan metoda pengajaran yang baru sesuai dengan kurikulum yang baru pula.

Bertepatan dengan perayaan Hari Kemerdekaan, dimulai pulalah tahun ajaran baru. Memang sebelumnya di bulan Ramadhan, tahun ajaran baru sudah dimulai, tetapi belum penuh. Dimulainya tahun ajaran baru berarti dimulai pulalah penggunaan kurikulum yang baru, Kurikulum 2013.

Ini seperti kado ulang tahun baik untuk bangsa ini. Sebuah keberanian dan terobosan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memberlakukan kurikulum ini. Sekolah sebelumnya dipandang hanya berfungsi memberikan pengetahuan saja atau bertujuan mencapai aspek kognitif, maka ada optimisme baru di kurikulum ini.

Sekolah nantinya tidak sekedar memberikan pengetahuan saja, tetapi juga akan membentuk watak dan sikap (aspek afektif) dan melatih keterampilan (aspek psikomotorik). Bukankah ini sebenarnya fungsi sekolah sebagaimana diungkap Benyamin Bloom, seorang pakar psikolog pendidikan.

Sekolah, tuturnya, sebagai lembaga pendidikan pada dasarnya berfungsi menggarap tiga wilayah kepribadian manusia yang disebutnya taksonomi pendidikan . Yaitu membentuk watak dan sikap (affective domain), mengembangkan pengetahuan (cognitive domain) serta melatihkan keterampilan (psychomotoric atau conative domain). Kurikulum 2013 diharapkan memenuhi ketiga fungsi itu.

Hal berbeda dari kurikulum ini adalah metode pengajaran dilakukan pendidik. Jika dulu metode sering digunakan cenderung satu arah, mengajari dengan berpusat pada guru dan cenderung dilakukan di dalam kelas. Tetapi kurikulum 2013 menyaratkan, bahwa proses pembelajaran yang dikehendaki adalah pembelajaran mengedepankan pengalaman personal melalui observasi (menyimak, melihat, membaca, mendengar), asosiasi, bertanya, menyimpulkan, dan mengkomunikasikan. Disebutkan pula, proses pembelajaran dikehendaki adalah proses pembelajaran berpusat pada peserta didik (student centered active learning) dengan sifat pembelajaran yang kontekstual. Secara lebih sederhana model ini menuntut partisipasi siswa lebih banyak sehingga suasana belajar akan menjadi dua arah.

Namun demikian, siapkah para pendidik kita dengan metode ini? Apakah pendidik mempunyai kemampuan dan keterampilan yang cukup? Apakah pada semua tingkatan metode ini baik dilakukan untuk meningkatkan partisipasi anak?

Partisipasi anak adalah salah satu hak dasar anak harus dipenuhi. Istilah partisipasi bisa berarti ‘terlibat dalam kegiatan’ yang membutuhkan aturan dan tanggung jawab. Pada level nasional, UU No.23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak juga memberikan hak untuk berpartisipasi tersebut. Anak, menurut Pasal 6 UU PA mempunyai hak untuk beribadah, berpikir dan berekspresi sesuai dengan tingkat kecerdasan dan usianya.

Begitu juga dengan Pasal 10 menyebutkan anak berhak menyatakan dan didengar pendapatnya. Konvensi Hak Anak juga mensyaratkan hal sama. Negara menjamin pandangan anak dan anak memperoleh hak untuk menyatakan pandangannya itu secara bebas dan harus dihargai sesuai dengan usia dan kematangan anak (Pasal 12 Ayat 1 KHA).

Kata kuncinya adalah usia dan tingkat kematangan anak. Metode yang partisipatif sebaiknya juga memperhatikan usia dan tingkat kematangan itu. Sehingga tidak digunakan secara seragam kepada semua tingkatan usia anak. Perlu pra kondisi terlebih dahulu sehingga anak tidak gagap dan takut dengan perubahan metode itu dan itu seharusnya tidak dibumbui dengan ancaman, sehingga Adek mau mengeluarkan pendapatnya di depan kelas tanpa ada perasaan takut dan terancam.**

Sumber foto: http://assets.kompasiana.com/statics/files/14083377291724570177.jpg?t=o&v=700

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *