“Kami Ambil Kembali Ibu Pertiwi!”

Narahubung:
Niken Lestari
HP. 0818.845.250
E-mail. famm.indonesia@gmail.com

PERNYATAAN PERS
“Kami Ambil Kembali Ibu Pertiwi!”
Organized by JASS Southeast Asia and FAMM Indonesia

JASS (Just Associates) dan Forum Aktivis Perempuan Muda (FAMM Indonesia) telah berhasil ibu pertiwiberpartisipasi dalam serangkaian kegiatan berdampingan dengan hajatan besar United Nations World Conference on Indigenous Peoples (WCIP), suatu kegiatan tingkat internasional yang  dilakukan di Markas PBB, New York, AS pada tanggal 22-23 September 2014. JASS memfasilitasi  beberapa kegiatan dan pertemuan dengan masyarakat dan perempuan adat serta beberapa pengambil kebijakan.

JASS Asia Tenggara (jaringan regional JASS) dan FAMM Indonesia mengirimkan 3 aktivis perempuan sebagai delegasi dari Indonesia. Mereka telah membawa hasil pembelajaran dan pengalaman dari lokakarya JASS mengenai Perempuan Adat yang diadakan bulan Juli 2014 di Jawa Barat, Indonesia. Berikut ini adalah nama-nama aktivis perempuan multigenerasi FAMM Indonesia yang bekerja memobilisasi dan mengorganisasi perempuan adat akar rumput.

Olvy Octavianita Tumbelaka dari Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Kaltim, Kalimantan Timur.
Marlien Elvira Marantika dari HUMANUM, Maluku.
Dina Lumbantobing dari Perkumpulan Sada Ahmo (PESADA), Sumatera Utara.

Di antara beberapa kegiatan yang diikuti, delegasi kami mengambil bagian dalam forum JASS bertema “Our Voices Matter: Indigenous Women Forging a Just and Sustainable Future” bersama dengan perempuan adat dan pedesaan dari Asia Tenggara, Meksiko dan Amerika Tengah. Peserta  membahas strategi untuk membangun kekuatan kolektif perempuan di dalam masyarakat dan organisasi mereka dalam menghadapi industri ekstraktif yang mengancam wilayah dan sumber daya alam mereka, setelah itu menjawab pertanyaan yang diajukan wartawan internasional, pemimpin LSM dan pejabat pemerintah.

“Sejarah panjang penundukkan oleh kolonialisme telah memiskinkan masyarakat adat. Tidak diakuinya hak asasi manusia kami menyebabkan krisis identitas dan marjinalisasi. Sayangnya,  kami melihat pola yang sama terjadi terhadap perempuan adat di berbagai belahan dunia.”  _ Marlien Elvira Marantika

Pola ini terulang dalam bentuk subordinasi perempuan muda adat yang membatasi akses mereka memperoleh peluang untuk mengembangkan kapasitas mereka. Kurangnya keterampilan dan kapasitas ini kemudian digunakan sebagai pembenaran untuk tidak melibatkan mereka dalam proses pengambilan keputusan meskipun faktanya mereka menanggung banyak beban dan masalah yang saat ini dihadapi di negara kita.

Tim kami juga mengambil bagian dalam Lokakarya Pertukaran Pengalaman yang penuh semangat dengan 10 peserta dan 5 fasilitator dari Asia Tenggara dan Meso Amerika. Kami menemukan  masalah dan dilema serupa juga dihadapi aktivis perempuan di negara lain di mana perempuan mengalami diskriminasi dari dalam dan dari luar masyarakat adat mereka. Dengan demikian, perempuan adat mengalami berbagai bentuk penindasan berlapis yang saling beririsan satu sama lain (interseksional).

“Kami sebagai manusia tidak makan emas, batubara dan tidak minum minyak kelapa sawit yang diproduksi dari berbagai eksploitasi yang dilakukan. Jadi untuk siapa semua ini?” ujar Olvy, seorang perempuan dari suku Benuaq, Kalimantan Timur di dalam lokakarya tersebut.

Di Indonesia, hampir 90% adalah masyarakat adat. Namun dalam kelompok-kelompok adat ini ada isu etnis minoritas di mana mereka dianggap terbelakang atau kurang beradab sehingga ditekan untuk mengikuti pola masyarakat modern melalui relokasi pemukiman, penggunaan bahasa nasional, dll. Selain itu, dinamika kehidupan dan kekuatan perempuan adat, khususnya perempuan muda, belum dibahas secara khusus di isu masyarakat adat arus utama.

Olvy menggarisbawahi upaya yang dilakukan komunitasnya. “Kami melawan kebodohan diri sendiri. Kami ambil alih tanah kami melalui kampanye dan pemetaan wilayah yang kami miliki. Kami membuat penelitian sendiri dan melakukan dengar pendapat dengan mengundang semua pihak yang terlibat dalam penghancuran komunitas kami.”

Tim JASS Asia Tenggara dan FAMM Indonesia bergabung dengan delegasi lain dari seluruh dunia dalam kegiatan Perempuan Memimpin Solusi bagi Perubahan Iklim dan Pawai People’s Climate di mana kami berhasil menarik perhatian internasional seputar dampak dari pemanasan global dan eksploitasi sumber daya alam besar-besaran terhadap perempuan adat. Kami mengamati terjadinya peningkatan bencana alam yang tidak biasa dan kenaikan permukaan air laut akibat perubahan iklim yang menghancurkan budaya dan mata pencaharian perempuan adat. Sementara perempuan seringkali sebagai pihak yang bertanggung jawab untuk menyediakan makanan dalam kondisi yang lebih sulit, membangun kembali masyarakat pasca bencana dan memimpin masyarakatnya menghadapi perampasan tanah oleh perusahaan-perusahaan pertambangan, perkebunan kelapa sawit dan lain-lain.

“Berdasarkan pengalaman kami, pengorganisasian komunitas dan peningkatan kapasitas yang didukung oleh JASS-SEA dan FAMM Indonesia berhasil memperkuat pengetahuan dan kapasitas pemimpin perempuan muda potensial untuk kembali menginspirasi masyarakat mereka untuk mengorganisasi diri sendiri dan membangun kekuatan bersama,” ujar Elvira Marantika.

Pengetahuan dan informasi yang diperoleh dalam kegiatan ini membantu kami untuk mengorganisasi dan menganalisis kekuasaan dalam masyarakat adat. Kerja kami menunjukkan pentingnya pengorganisasian masyarakat sebagai strategi utama untuk membawa perubahan nyata  mendukung perempuan pribumi dalam membangun kapasitas mereka agar dapat memutuskan prioritas pembangunan mereka sendiri yang akan mempengaruhi kehidupan, keyakinan, kesejahteraan spiritual dan lembaga, serta untuk menerapkan kontrol atas pembangunan ekonomi, sosial dan budaya mereka sendiri. Oleh karena itu, JASS Asia Tenggara dan FAMM Indonesia akan BERGERAK BERSAMA UNTUK MEMBUAT PERUBAHAN!

Kami mendukung Wakil Sekretaris Jenderal PBB Jan Eliasson yang pada konferensi ini  menyerukan penggunaan sumber daya bumi secara lebih adil dan berkelanjutan sebagai cara untuk mengakui dan melindungi hak-hak masyarakat adat. Tidak ada pilihan yang lebih baik bagi perempuan adat dan masyarakat selain kembali ke komunitas mereka dan mengorganisasi diri, dan selalu bangga terhadap akar sejarah kita.

Tim kami telah kembali pulang dengan selamat disertai dengan keyakinan baru dan inspirasi untuk menghadapi tantangan berlapis yang dihadapi perempuan adat. Kami ingin berbagi pengalaman berharga ini dengan masyarakat untuk membangun dukungan yang lebih luas untuk isu yang kami usung. Oleh karena itu, FAMM Indonesia dan JASS Asia Tenggara bekerjasama dengan beberapa organisasi lokal akan mengadakan konferensi pers dan/atau menyebarkan press release di 3 tempat sebagai berikut.

Samarinda, 13 Oktober 2015 bekerjasama dengan AMAN Kaltim. Narahubung: Olvy Octavianita (0812.3550.0553)
Ambon, 13 Oktober 2014 bekerjasama dengan Yayasan HUMANUM. Narahubung: Vivi Marantika (0813.4346.2233)
Medan, 13 Oktober 2014 bekerjasama dengan Perkumpulan Sada Ahmo. Narahubung: Dina Lumbantobing (0821.64.6666.15)

Malang, 13 Oktober 2014
Niken Lestari, FAMM Indonesia
Chan Kunthea, JASS Southeast Asia

Forum Aktivis PereMpuan Muda Indonesia (FAMM-I) adalah organisasi perempuan yang fokus pada peningkatan kapasitas aktivis perempuan muda di Indonesia untuk keberlangsungan gerakan perempuan akar rumput.

JASS (Just Associates) adalah organisasi perempuan internasional yang fokus pada upaya penguatan aksi, publikasi, dan pengorganisasian kolektif perempuan untuk mewujudkan dunia yang adil dan berkelanjutan untuk semua.

Taut rujukan
http://wcip2014.org/
http://www.famm.or.id
http://justassociates.org

Foto di https://www.flickr.com/photos/125662107@N02/sets/72157647907466392

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *