Perubahan Perilaku untuk Menghentikan Kekerasan terhadap Perempuan

Oleh : Herlia Santi (Aktivis perempuan dari Rupari)

she

Aku merasa miris ketika menemuinya. Mukanya masih biru dan lebam, kedua matanya tertutup karena bengkak, tangannya juga membiru lebam. Dengan menggunakan jari-jarinya ia mencoba membuka kelopak matanya yang bengkak ketika aku datang mengunjunginya pertama kali. Dengan susah ia menjawab salamku karena bibirnya juga biru dan terluka. Perempuan itu, NN, 28 tahun, baru dua hari yang lalu mengalami kekerasan oleh suami yang menikahinya secara siri. Dalam keadaan ini tidak banyak yang bisa dilakukannya, karena dia tidak diterima secara legal sebagai istri dari pelaku, sehingga UU PKDRT tidak dapat digunakan untuk memberatkan pelaku. Tidak adil memang.

Kekerasan terhadap perempuan baik di lingkungan domestik, kerja, sekolah bahkan di tempat-tempat umum semakin sering terjadi, terutama di Riau. Sepanjang tahun 2011 saja misalnya, Komnas Perempuan mencatat perkara kekerasan terhadap perempuan di Indonesia mencapai angka 119.107 kasus. Jumlah ini meningkat dari 2010, sekitar 105.103 kasus. Dan 95% dari kasus-kasus tersebut terjadi di lingkup domestik (rumah tangga).

Meski semakin banyak peraturan yang seolah melindungi perempuan, belum lagi lembag layanan baik dari kepolisian maupun LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) yang dibentuk secara khusus melindungi perempuan, tidak menurunkan angka kekerasan terhadap perempuan. Bahkan semakin meningkat. Dalam konsep patriarkhi yang masih sempit dan meresap dalam konsep budaya kita, perempuan masih dianggap sebagai objek, dan tidak setara dengan laki-laki. Konsep ini dibangun sejak usia dini, memisahkan laki-laki sebagai sosok bebas di wilayah publik dan pemimpin rumah tangga, sementara perempuan hanya mengurusi rumah tangganya yang tidak sepenuhnya berada dalam kuasanya. Perempuan diletakkan dalam wilayah domestik hanya sebagai pelengkap. Dalam kondisi semacam ini, apakah perempuan dan laki-laki dapat dikatakan setara. Kondisi ini tidak dapat dibiarkan semacam ini. Kita harus berubah.

Apa perubahan yang dimaksud? Perubahan pada perilaku. Perilaku laki-laki maupun perempuan. Perubahan perilaku bukanlah sebuah hal yang mudah dan sekali jadi. Dibutuhkan sebuah proses panjang untuk merubah perilaku yang telah melekat dan merubahnya menjadi konsep baru yang menetap. Setidaknya ada lima tahapan dalam perubahan prilaku itu :

  • Sadar (Awareness) : seseorang sadar akan adanya informasi baru. Misalnya dampak dari tindak kekerasan kepada manusia.
  • Tertarik (Interest) : selanjutnya seseorang itu mulai tertarik untuk mengetahui lebih lanjut mengenai dampak kekerasan pada manusia sehingga orang tersebut mencari informasi lebih lanjut pada orang lain yang dianggap tahu, membaca atau mendengarkan dari sumber yang dianggap tahu.
  • Evaluasi (Evaluasion) : pada tahap ini seseorang mulai menilai, apakah akan memulai tidak melakukan kekerasan terhadap orang lain, dengan mempertimbangkan berbagai sudut misalnya, penderitaan yang dirasakan oleh perempuan, penyelesaian masalah yang tidak tepat, menolak diperlakukan tidak manusiawi atau ancaman hukuman yang tinggi bagi pelaku kekerasan.
  • Mencoba (Try) : orang tersebut mulai tidak melakukan kekerasan dan korban menolak mengalami kekerasan. Dengan mempertimbangkan untung ruginya, orang tersebut akan terus mencoba atau menghentikannya. Misalnya, apabila orang tersebut setelah tidak melakukan kekerasan merasa hatinya akan nyaman dan merasa tidak bersalah, masalah dapat diselesaikan dengan baik, orang lain juga akan merasa senang, maka ia akan melanjutkan untuk tidak melakukan kekerasan. Berupaya menyelesaikan permasalah dengan dialog yang setara dan berupaya menemukan jalan keluar bersama daripada mencari siapa yang salah.
  • Adopsi (Adoption) : pada tahap ini, orang yakin dan telah menerima bahwa informasi baru berupa tidak melakukan maupu menjadi korban kekerasan memberi keuntungan bagi dirinya dan orang lain sehingga itu akan menjadi kebutuhan dan menjadi perilaku yang baru. (*)

Artikel pernah dipublikasikan di Tribun Pekanbaru edisi Senin, 20 Mei 2013.

Sumber foto featured: koleksi ODOV FAMM Indonesia dan http://www.sheradiofm.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *