Bukan Jejak Petualang

Oleh : Hasmida Karim

Beberapa bulan yang lalu, aku bepergian ke wilayah Kab. Buton Utara yang lebih dikenal dengan sebutan Ereke, dalam rangka penelitian indeks penilaian masayarakat sipil. Kabupaten Buton utara merupakan kabupaten baru di wilayah propinsi Sulawesi Tenggara yang dimekarkan pada tanggal 2 Januari 2007 dari Kabupaten Muna (Kab. Induk). Secara administratif wilayah ini terbagi atas 6 kecamatan definitif yang terdiri dari 49 desa, 8 kelurahan dan 2 unit pemukiman transmigrasi (UPT). Jumlah penduduknya yaitu berjumlah 48.184 jiwa, yang terdiri dari 24.000 laki-laki dan 24.184 perempuan. Sebagai kabupaten yang baru tentunya pembangunan infrastruktur dan fasilitas umum lainnya masih sangat terbatas.

Sebab muasalnya aku harus ke kabupaten ini adalah kerena aku terlibat dalam sebuah penelitian indeks masyarakat sipil dimana wilayah Kab. ini menjadi tugas dan tanggung jawabku sebagai seorang peneliti.

Bertugas dan berkunjung ke daerah ini merupakan pengalaman pertama bagiku. Tidak pernah terlintas dalam benakku akan berdomisili selama 1 bulan 2 minggu di daerah yang terkenal dengan hasil hutan dan lautnya ini. Ditambah lagi tidak adanya sanak keluarga, teman dan kenalan lainnya yang berdomisili di wilayah ini membuat blank otak ku akan wilayah ini. Bermodalkan nekad dan tanggung jawab aku berangkat ke Ereke melalui Kendari. Sebenarnya ada beberapa jalur yang dapat ditempuh jika akan menuju ke Ereke, bisa melalui Kota Bau-Bau, Raha dan Kota Kendari. Dari kendari kapal yang kutumpangi berangkat sekitar Pukul 10.00 am dan akan sampai di Wd. Buri pukul 16.00 pm. Jika melalui kendari kita memang tidak akan langsung sampai di ibukota Kabupaten (Ereke/Lipu) namun akan tiba di Wd.Buri (salah satu desa terujung di sebelah utara), itupun turun dari kapalnya tidak langsung ke pelabuhan namun melalui jonson/kating-ting (kapal kecil yang muatannya sekitar 15 org) ditengah lautan yang akan membawa kita ke pelabuhan. Setelah itu, naik ojek atau angkot menuju ke Ereke dengan jarak tempuh sekitar 1 jam karena kondisi jalanan yang berbatu karang dan belum semuanya terjamah aspal. Beruntungnya aku, selama dalam perjalanan perdana ini aku mempunyai kenalan yang kebetulan adalah penduduk asli di sana. Maka melalui kawan baru ku inilah rute perjalanan perdana ku ini menjadi lebih mudah, dan bahkan dia pula yang menunjukkan hotel (lebih layak disebut penginapan lah kalo menurutku) dan mengantarku ke tempat target penelitian serta ke tempat-tempat wisata yang ada di Ereke, termasuk kampong bajo.

Kampung Bajo merupakan suatu perkampungan yang di huni oleh masyarakat suku Bajo yang lokasinya berada di tengah atau pinggir lautan. Kampung Bajo merupakan wilayah favoritku ketika penelitian ini berlangsung. Kampung ini memiliki panorama yang indah dan makanan yang enak bagiku. Setiap kali berada di kampong ini rasa penat, capek dan stress pun langsung hilang. Walaupun berada di tengah lautan, aku tidak takut berlari-larian diatas papan jalan kampong ini, sebab papan jalannya dibuat sangat kuat sehingga kendaraan bermotor pun bisa melaluinya. Bercengkrama dengan masyarakat suku Bajo dan menikmati sunset serta cumi bakar di kampong ini akan selalu tersimpan dalam memori otakku.

Selama sebulan itu aku juga bolak balik ke Kendari atau Bau-Bau untuk mengirimkan laporan pekerjaanku dengan frekuensi 2 kali sebulan, mengingat akses jaringan dan sarana pengiriman yang sangat terbatas di Ereke. Rute Bau-Bau ke Ereke dapat ditempuh dengan 3 jam perjalanan darat menggunakan mobil khusus dan 1 jam perjalanan menyebrangi lautan menggunakan kapal Jonson. Perjalanan darat akan melintasi hutan lindung Lambusango di Kab. Buton yang mana kondisi jalanannya sangat parah terlebih jika musim hujan tiba. Kendaraan pun bisa saja tidak melintas akibat lumpur dan kondisi jalan yang becek. Alhasil penumpang bisa saja akan menginap di perjalanan.

Lain halnya dengan Rute Raha – Ereke (Rincian rutenya : Raha – Laino – Maligano – Ronta – Lipu/Ereke). Satu kali aku pernah terjebak untuk harus melalui rute ini. Hal ini di sebabkan karena jadwal keberangkatan kapal Kendari – Ereke yang tidak ada, jadwal penyajian materi penelitian ku pada Lokakarya Indeks Penilaian Kondisi Masyarakat Sipil yang tak bisa di undurkan dan rute Bau-Bau membutuhkan waktu sehari karena mesti menginap. Mau tak mau aku harus melalui rute ini dan tak ada bayangan sama sekali, mengingat selama melakukan tugas di Ereke rute perjalananku hanya melalui Kendari dan Bau-Bau. Sebelum berangkat aku sempat mendapatkan penjelasan singkat dari kawan ku di Bau-bau akan rute ini. Maka jadilah aku berangkat sendirian tanggal 1 July itu (menurut nelayan awal bulan july adalah musim ombak) pukul 07.00 am dari Kendari menuju Raha dengan menggunakan kapal cepat. Pukul 11.00 am aku tiba pelabuhan Raha dan langsung menuju pelabuhan Laino untuk menyebrang ke Maligano menggunakan kapal kecil (maks. 20 orang) dan perjalanan di tempuh sekitar 1 jam dari yang biasanya hanya 35 menit. Hal ini disebabkan kapal kami harus menghindari dan terkadang beradu dengan ombak. Untuk sampai ke Ronta maka harus menggunakan ojek dari Maligano dengan jarak tempuh sekitar 60 kilo meter, sebab tak ada kendaraan lain yang bisa digunakan untuk jalur ini karena jalur ini melintasi jalanan setapak dengan bebatuan gunung nya dan juga melintasi hutan lindung. Terkadang dalam perjalanan di jalur ini penumpang ojek yang menuju Ronta sering di pertukarkan dengan penumpang ojek dari arah yang berlawanan yakni menuju Maligano dengan alasan jarak kembali yang akan di tempuh tukang ojek sangat jauh dan biasanya sudah tak ada penumpang yang akan menuju jalur yang sama sementara biaya perjalanannya sama saja. Maka jadilah aku di tukarkan di tengah gunung dengan penumpang lain yang akan menuju ke arah yang berlawanan. Sontak hal ini membuat ku kaget dan keheranan serta panik, namun tukang ojek ku dan seorang penumpang ojek lainnya mengatakan bahwa ini sudah hal yang biasa terjadi dan tidak usah khawatir. “Oh My God, hal yang biasaaa…tapi tidak dengan ku” pikir ku.

Sesampainya di Ronta badan terasa pegal-pegal dan letih akibat perjalanan dengan motor dan kondisi jalan yang tak layak di sebut jalur penghubung antar kabupaten menurutku. Di Ronta aku harus menunggu sekitar 30 menit untuk mencari body batang/sampan yang akan menyeberang dan menunggu naiknya air sungai, sebab jalur ini akan melintasi sungai, hutan bakau dan laut Lipu. Jadilah pukul 15.30 pm aku naik sampan ini dengan 2 orang penumpang lainnya (bapak-bapak) dan dua kakak beradik (13 tahun dan 10 tahun) pemilik sampan yang akan mengantarkan kami ke Ereke. Sepanjang perjalanan menyusuri aliran sungai kami bertemu dengan beberapa ekor Buaya dan bahkan ada seekor yang sempat beberapa menit berenang beriringan dengan sampan kami. “Ya ALLAH, aku tidak dalam Jejak Petualang kan saat ini??” (bertanya dalam benakku !!!). Hal ini membuat ku tegang dan kaku beberapa detik begitu pula dengan kedua Bapak itu, hanya sang pengemudi dan adiknya yang tampak tenang dan bahkan tersenyum simpul melihat kami. Saat melintasi hutan bakau dengan aliran airnya yang tenang dan rimbunnya daun pohon bakau membuat ku sedikit lega dan menikmati kembali perjalanan ini. Pukul 17.45 pm aku sampai di pelabuhan Ereke dan lansung menuju hotel untuk beristirahat setelah seharian penuh dalam perjalanan.

Keesokannya (2 Juli 2009) dengan tubuh yang setengah pulih dari pegel-pegel, aku membawakan materi hasil penelitian kepada peserta lokakarya dan sedikit bercerita tentang pertemuan pertama ku dengan Buaya kepada peserta yang tidak lain penduduk asli kabupaten itu dan rekan-rekan panitia penyelenggara. Mereka pun ada yang berdecak kagum (mungkin karena aku perempuan yang berhasil menaklukkan rute itu kali ya? Hehehe) dan ada yang tersenyum-senyum. Di sore hari aku dan panitia mendapat undangan makan malam di kampong Bajo. Segera saja aku dan dua rekan panitia meluncur kesana untuk menikmati sunset dan melepas kangen dengan beberapa masyarakat di Kampung itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *