Bencana Kabut Asap di Riau, Pekanbaru dan sekitarnya

PERNYATAAN SIKAP
FORUM AKTIVIS PEREMPUAN MUDA INDONESIA
ATAS SITUASI BENCANA KABUT ASAP DI WILAYAH RIAU, PEKANBARU DAN SEKITARNYA
Sudah belasan tahun ini kota-kota di Provinsi Riau terkena dampak dari pembakaran hutan sebagai upaya membuka lahan. Dan tahun ini adalah kasus kabut asap terburuk sepanjang sejarah. Sudah lebih dari dua bulan kota-kota di Riau diselimuti asap, jarak pandang terus menurun dan bau asap begitu terasa sampai ke dalam rumah. Ini tentu saja membahayakan semua mahkluk hidup di dalam wilayah kabut asap tersebut. Kebakaran itu terjadi di kawasan Konsesi Perusahaan dan di lahan masyarakat. Sebab utama adalah banyaknya titik api di kawasan hutan terutama di daerah gambut, tidak adanya hujan dan usaha yang dilakukan para pihak juga tidak ada yang mampu memadamkan titik api tersebut. Akibatnya setiap kali bernafas, warga di Riau terus menghirup asap yang membahayakan ini.

Situasi tersebut juga menyebabkan berbagai aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat terhambat, seperti waktu kerja yang dibatasi, layanan kantor pemerintah yang terbatas atau bahkan diliburkan, sekolah-sekolah membatasi jam mengajar atau bahkan meliburkan sekolah, serta perjalanan melalui darat dan udara yang tidak aman karena jarak pandang yang terbatas. Dalam situasi ini tampak banyak aspek hak asasi manusia yang dimiliki warga tidak terpenuhi, seperti hak hidup layak, hak atas pekerjaan yang layak, hak atas kesehatan, hak atas pendidikan dan lainnya.

Menghirup udara yang mengandung asap beracun juga akan berdampak pada sepuluh tahun yang akan datang di mana masyarakat akan memiliki resiko tinggi mengalami kanker paru-paru.  Saat ini saja sejumlah rumah sakit di wilayah Riau mendapatkan peningkatan pasien yang mengalami permasalahan dengan ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Atas) yang didominasi perempuan dan anak-anak.

Pemerintah perlu segera melakukan upaya untuk mereduksi dampak dari kabut asap ini bagi kesehatan warga, tidak sebatas pada membagikan masker dan membatasi waktu warga berada di luar rumah.

FAMM Indonesia belum melihat ada sikap serius untuk menyelesaikan permasalahan ini untuk  jangka panjang. Salah satu permasalahan yang belum diselesaikan, yaitu menindak perusahaan-perusahaan yang telah melakukan pembakaran hutan dan membahayakan sejumlah besar warga di wilayah Riau, Pekanbaru dan sekitarnya. Selain itu, sudah sewajarnya pemerintah lokal menyatakan wilayah yang terdampak kabut asap sebagai wilayah bencana serta bekerjasama dengan pemerintah pusat untuk mencari penyelesaian yang lebih komprehensif dan memadai agar tidak kembali terulang di masa akan datang.

Menghadapi situasi bencana ini kami dari Forum Aktivis Perempuan Muda Indonesia (FAMM-I) menyatakan bahwa:
  • Pemerintah Provinsi Riau belum menunjukkan keberpihakan maupun kepedulian terhadap hak asasi perempuan dan anak,
  • Perlunya satuan kerja untuk mengamankan situasi di wilayah terkena dampak kabut asap dan memberikan bantuan kepada warga agar hak-hak mereka tetap terpenuhi,
  • Sudah sewajarnya situasi tersebut disebut bencana nasional serta ditangani menggunakan dana APBD dan APBN, agar penyelesaian masalah tidak sekedar lokalistik dan penanganan bersifat jangka panjang,
  • Pemerintah Provinsi Riau perlu mempublikasikan daftar nama perusahaan-perusahaan yang melakukan pembakaran hutan, menindak mereka sesuai hukum dan menuntut pertanggungjawaban mereka untuk memenuhi rasa keadilan warga,
  • Pemerintah Provinsi Riau dan pemerintah pusat perlu lebih kuat mengimplementasikan kebijakan larangan pembukaan hutan melalui pembakaran serta melakukan penegakan hukum yang tegas yang memberikan efek jera.
14 Maret 2014
FAMM Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *