FAMM menolak kekerasan terhadap perempuan atas nama agama

Salam solidaritas,

Pada akhir Bulan Juli, warga Indonesia dikejutkan oleh sebuah pesan di Youtube. Pesan selama 8 menit dengan judul “Ayo Bergabung” yang mengajak rakyat Indonesia untuk mendukung negara baru ini dengan menjadi pejuang jihad di dalam ISIS (Islamic State of Iraq and Syiria). Di dalam pesan video tersebut, dengan jelas disimpulkan bahwa ISIS bukan hanya segerombolan jihadis tetapi sudah mengaku sebagai sebuah negara baru. Negara Islam.

Menanggapi situasi tersebut pada hari Senin, 8 Agustus 2014, Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan tidak mengakui keberadaan ISIS di Indonesia dan melarang penyebarluasan ajaran tersebut yang dianggap melanggar UUD 1945 dan Bhinneka Tunggal Ika. Tak lama berselang, Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin turut menegaskan tidak adanya toleransi terhadap ajaran-ajaran yang mengancam NKRI. Setelah adanya desakan dari Presiden, Menkominfo akhirnya melakukan pemblokiran situs ISIS Indonesia di Youtube.

FAMM Indonesia mencatat beberapa tindakan ISIS yang merupakan bentuk kekerasan terhadap perempuan dengan menggunakan agama sebagai pembenaran. Beberapa di antaranya yaitu:

  • pembunuhan anak-anak dan perempuan,
  • penculikan perempuan, terutama dari kelompok etnis minoritas, untuk dijadikan sebagai budak seks,
  • memaksakan pemakaian niqab/jilbab seluruh badan bagi perempuan,
  • mengancam warga minoritas untuk beralih agama menjadi muslim,
  • menghancurkan rumah ibadah dari berbagai agama,
  • memberlakukan hukuman semena-mena bagi pihak yang menolak mengikuti perintah/paham mereka.

Kami, FAMM-I (Forum Aktivis PereMpuan Muda Indonesia) yang merupakan gabungan aktivis perempuan muda akar rumput dari seluruh Indonesia turut menolak keberadaan ISIS di Indonesia dan mendukung pemberian sanksi bagi mereka yang bergabung dengan ISIS. FAMM-I meminta kepada pemerintah Indonesia untuk menyikapi ISIS dengan tegas.

Sebagai perempuan warga negara Republik Indonesia, kami memerlukan rasa aman untuk melakukan aktivitas sebagaimana yang telah dijamin dalam UUD 1945 dan Pancasila. Kami meminta kepada Pemerintahan Indonesia untuk menjamin kebebasan berekspresi, beragama, berdaulat dan keamanan, terutama bagi warga perempuan di tengah semakin meluasnya pengaruh fundamentalisme yang dibawa oleh ISIS atau kelompok lainnya.

Niken Lestari

Koordinator FAMM Indonesia

Sumber foto: www.rajapena.org

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *