Dukungan kepada Eva Bande

Eva-3Kepada Penguasa,

Kami tahu pada tanggal 15 Mei 2014, kalian datang ke Banguntapan, Bantul untuk menangkap saudari seperjuangan kami Eva Susanti Hanafi Bande, namun kami mengenalnya sebagai Eva dan dia adalah saudari kami. Kalian menangkapnya karena PN Luwuk telah menvonis saudari kami. Kalian menganggapnya bertanggungjawab atas kerusakan di PT. Kurnia Luwuk Sejati (KLS) pada saat aksi 26 Mei 2011 di mana petani-petani yang marah karena tanahnya dijarah pengusaha mengungkapkan kekecewaannya dengan merusak beberapa properti milik Murad Husain pengusaha pemilik PT. KLS. Pernahkah kalian tahu bahwa petani-petani ini marah karena kebun kakao mereka tiba-tiba ditutup, jalan menuju sawah mereka ditutup. Petani-petani ini tiba-tiba diputus aksesnya terhadap sumber kehidupannya. Apakah menurut kalian petani ini tidak berhak atas kehidupan yang layak sama dengan pengusaha yang mengkangkangi hasil kerja mereka?

Sejak 2006 telah 13.000 hektar tanah diubah PT.KLS menjadi perkebunan sawit. Tahukah anda semua bahwa perkebunan sawit tersebut dibangun dengan dana pemerintah, dengan uang rakyat! Dana tersebut diperuntukkan untuk menanam Sengon dan Akasia sebesar 11 miliar yang berarti seharusnya lahan HTI tidak diperuntukkan penanaman sawit namun untuk mempertahankan lahan rakyat. Sekarang tanah konservasi seluas 500 hektar pun sudah menjadi kebun sawit, Margasatwa Bangkiriang sudah musnah dan kalian semua tidak merasa ada yang salah dengan ini?

Wahai penguasa kalian tidak merasa ada yang salah dengan situasi tersebut? Kalian merasa kemarahan petani desa Piondo yang kehilangan sumber kehidupannya, petani yang kehilangan tanahnya sebagai tindakan anarkis? Kawan kami Eva adalah bagian dari petani-petani ini dan dia, sebagaimana kami semua tidak bisa diam. Bagaimana mungkin dia bisa diam? Karena jika tanah petani-petani ini dirampas maka kalian sudah merampas nyawa mereka. Oleh karena itu, kawan kami tidak diam. Meski dia sudah mengatakan pada petani untuk tidak merusak, kehancuran yang sudah kalian ciptakan terlalu besar, kawan kami Eva, tidak mampu membendung amarah dan kekecewaan saudara seperjuangannya dan sekarang anda kriminalkan kawan kami karenanya?

Kawan kami diperlakukan seperti penjahat, sementara Murad Husain, pemilik PT. KLS, tidak diadili sampai saat ini? Menurut kalian, wahai penguasa yang terhormat, merusak tanah konservasi, merampas tanah rakyat, menghancurkan kehidupan petani adalah tindakan yang kebal hukum? Apakah keadilan sekarang sudah kalah dengan korporasi? Apakah Indonesia sudah dibeli pengusaha sehingga mereka bisa berbuat semaunya dan tak akan mendapatkan hukuman, sementara rakyat yang bergerak menjadi pesakitan?
7.000 hektar. Sudah 7.000 hektar tanah telah dirampas dari tangan petani. Dan kawan kami, saudari kami Eva Bande menuntut tanah itu dikembalikan. Apakah itu salah?

Kawan kami dikriminalkan sebagai pelaku perusakan sebuah perusahaan, namun PT. KLS, Murad Husain yang telah ditetapkan sebagai tersangka sejak 2010, masih kalian biarkan bebas. Sikap Kejari Luwuk yang terus menolak pelimpahan berkas dari penyidik, menyiratkan upaya perlindungan terhadap Murad Husain dari sistem peradilan negara dengan menggantung kasus tersebut. Apakah ini keadilan yang sedang kalian tawaran pada rakyat? Karena ketika keadilan tidak mampu memberikan rasa adil pada kawan-kawan kami, kami akan terus bergerak. Karena kami tidak mau ditundukkan oleh rasa takut dan keadilan yang sempit. Kalian Menangkap Eva Bande karena kalian menganggap dia melakukan kejahatan di depan penguasa umum, sementara ada Murad Husain yang tidak kalian adili hingga sekarang merupakan kejahatan terhadap bangsa.

Kami tidak bisa diam, wahai penguasa, karena kami tahu bahwa kriminalisasi pada aktivis Front Rakyat Advokasi Sawit (FRAS), Eva Bande, terus membuktikan bahwa menjadi aktivis Pembela HAM di Indonesia selalu mendapat ancaman dan bentuk penindasan dari negara dalam bentuk penggunaan pasal-pasal karet yang bertujuan membungkam gerakan masih terjadi. Seolah hukum sengaja dibuat untuk membungkam kami dan menjadikan tidak adanya perlindungan hukum bagi aktivis pembela HAM seperti kami.

Kami masih ingin percaya bahwa negara ini, NKRI ini milik kita semua, milik semua orang dan bukan segelintir korporasi yang bisa dengan seenak hatinya merampas dari rakyat. Kami menunggu. Kami menunggu pengadilan, melalui Kejaksaan Agung Republik Indonesia, dan Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tengah, menerima berkas serta memberi vonis yang sepadan pada pemilik PT.KLS dan kemudian meninjau kembali vonis pada Eva Bande. Kami menunggu keadilan untuk rakyat.

Maria Mustika
Koordinator Ruang Aman
Forum Aktivis Perempuan Muda Indonesia (FAMM-I)
famm.indonesia@gmail.com