Menyikapi Kasus Kekerasan Seksual terhadap Perempuan dan Anak

Pers Release
Kasus Kekerasan Seksual terhadap Perempuan dan Anak Mei 2014

Pada akhir tahun 2013, KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) mengumumkan peningkatan kekerasan seksual terhadap anak. Kekerasan seksual pada anak sepanjang 2013 mencapai lebih dari 700 kasus terdata di KPAI. Dari data yang terungkap pelaku kekerasan seksual terhadap anak memiliki pelaku yang sangat beragam, mulai dari orangtua korban, sanak saudara, tetangga, pacar, pedagang keliling hingga orang asing yang kebetulan berkenalan maupun dikenali korban melalui perkenalan di media sosial atau bahkan SMS yang salah masuk.

Di pertengahan tahun 2014, publik Indonesia dikejutkan dengan berbagai kasus kekerasan seksual anak. Yang pertama, adalah pemerkosaan pada anak murid TK di JIS (Jakarta International School) yang dilakukan di dalam sekolah dengan pelaku petugas kebersihan sekolah. Yang kedua adalah terungkapnya pelaku kekerasan seksual pada anak dengan modus operadi menggunakan situs jaringan media sosial untuk menjaring dan mendapatkan gambar-gambar wilayah pribadi anak untuk kemudian diperjualbelikan pada jaringan pedofilia internasional yang telah dikenalnya. Pelaku telah ditangkap di Surabaya, seorang suami yang bekerja di dunia pendidikan. Di kepulauan Riau, seorang gadis muda mengalami pemerkosaan beruntun dari pacar, ayah tiri hingga ayah kandungnya. Seorang laki-laki bernama Temon telah melakukan kekerasan seksual terhadap puluhan bahkan ratusan korban anak-anak.

Gambaran di atas mempertegas, kekerasan seksual pada anak terus meningkat. Potensi ancaman ini semakin tinggi jika tidak disertai dengan kemampuan penanganan situasi psiko-sosial korban yang memadai di level kelurahan, kepastian hukum yang mampu memberikan rasa aman pada korban, maupun pencegahan dan penanganan yang memadai kepada anak muda.

Korban kekerasan seksual yang tidak tertangani dengan baik akan mengalami depresi jangka panjang yang dapat mengganggu kemampuan bersosialisasi korban, mengalami gangguan tidur, mengalami rendah diri ekstrim yang bisa berujung pada eksploitasi seksual dan tindak kriminal.
Pendidikan seksual yang sesuai dengan usia adalah penting untuk dilakukan. Pendidikan seksual yang dimaksud tidak sekedar mengancam untuk anak-anak muda, namun benar-benar menjelaskan dampak dan tanggungjawab yang harus ditanggung oleh individu. Selain itu pendidikan seksual untuk anak-anak menjadi sangat penting, agar melatih anak peka sentuhan yang bermakna seksual. Pendidikan seksual yang sesuai untuk anak menjadi krusial untuk segera dilaksanakan.

Selain itu pelaku kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak perlu mendapatkan hukuman yang berlapis. Karena hukum di Indonesia belum mengenali kekerasan seksual sebagai kejahatan berat, maka hukuman dengan pasal berlapis untuk pelaku kekerasn seksual, terutama pelaku kekerasan seksual penting untuk memberi efek jera pada pelaku, memberi rasa aman pada korban dan mempraktekkan hukum yang memanusiakan semua pihak.

Pendidikan menggunakan media sosial yang aman juga telah menjadi hal penting. Tidak dipungkiri saat ini media sosial dan jaringan internet mempermudah kemampuan seseorang menambah kawan, jaringan serta kegiatan dengan berbagai orang dalam dunia maya tersebut.

Pengetahuan tentang keamanan di dunia maya menjadi agenda bersama agar orang tua, guru dan anak-anak menjadi pengguna media yang cerdas. Oleh karena itu, FAMM Indonesia menyerukan kepada pemerintah dan institusi pendidikan:
1. Memastikan penegakan hukum yang memihak korban dan memberi efek jera pada pelaku.
2. Memberi akses kepada orang tua dan anak ke lembaga konseling atau bantuan psikis khusus
untuk anak dengan trauma di tingkat sekolah atau komunitas.
3. Memasukkan pendidikan seksualitas terpadu yang termaktub dalam kurikulum sekolah.
4. Memberi pendidikan internet sehat untuk perempuan dan anak.

Malang, 12 Mei 2014