Pengalaman di IGF 2013

Aku senang sekali bisa terlibat dalam Internet Governance Forum (IGF) 2013, meskipun sempat khawatir tentang pembicaranya, kemampuan bahasa Inggrisku yang lama tidak dipakai, dan apa yang bisa aku bagi di forum itu. Aku tidak PD dengan kemampuan bicara bahasa Inggrisku, tapi bisa memahami diskusi dengan baik.

Satu hal yang menyenangkan adalah bertemu dengan teman-teman Bali, Farid, Yana dan Nisa. Baru Biarpun sebangsa dan senegara tapi aku baru pertama bertemu mereka. Bu Desi dan Ketut banyak bercerita mengenai kehidupan mereka; perceraian, anak-anak, dan pasangan mereka. Ada satu malam dimana kami berkumpul di kamar dan secara spontan berbagi tentang kehidupan seksual. Ternyata ada kesamaan, dimana ada satu titik dalam kehidupan anak perempuan yang dilecehkan atau mengalami kekerasan. Pengalaman itu memengaruhi kehidupan seksual kami.

Berada di organisasi atau LSM, terutama di isu HIV dan seksualitas, memberi kami akses terhadap informasi yang benar dan ruang belajar satu sama lain. Pengalaman masa kecil atau remaja itu tidak berlama-lama menjadi trauma karena menyadari kami tidak sendiri, ada informasi yang tidak kami ketahui. Kenapa tidak sampai ke kami? Karena ada tabu, hambatan nilai, stigma dari keluarga, sekolah, bahkan di pelayanan kesehatan.

Aku mens kelas 5 SD dan baru tahu tentang proses terjadinya kehamilan kelas 2 SMA oleh guru BP. Jadi ada periode 6 tahun dimana aku bisa saja menjadi korban bujuk rayu atau pemerkosaan yang berujung pada kehamilan dan IMS karena ketidaktahuanku. Dan aku yakin 99 persen, teman-temanku juga tidak tahu.

Itu salah satu kenapa aku tertarik dengan isu informasi dan komunikasi. Ada banyak informasi yang menjadi hakku sebagai remaja yang tidak dikomunikasikan. Aku juga tidak bisa mengandalkan orang tua. Ibuku bercerita kalau waktu dia kawin, dia tidak tahu bahwa setelah berhubungan seks tanpa kontrasepsi, perempuan bisa hamil. So you can imagine.

Sekarang informasi tentang seks berlimpah di internet atau media lain. Namun, itu juga bukan jaminan seseorang mendapatkan informasi yang benar dan tidak bias gender. Melalui forum ini aku melihat masih ada usaha untuk menutupi atau menghambat informasi. Bahkan informasi yang sarat dengan kekerasan terhadap perempuan dan kelompok minoritas semakin banyak. Ketika kasus KTP atau video seks remaja muncul, seringkali yang disoroti dan dibuat sensasi adalah seksualitas perempuan sebagai korban yang ditampilkan sebagai “bad woman with bad moral”. Kekerasan yang dilakukan pelaku menjadi tidak penting. Jadi perempuan juga perlu menuliskan cerita mereka dan sulit bagi mereka bicara dan dipublikasi jika media tidak memberi ruang bahkan menganggap cerita tersebut melanggar susila atau mencemarkan nama baik.

Melalui IGF, wawasanku tentang isu HAM dan perempuan di negara lain menjadi lebih baik. Aku mengikuti banyak sesi dimana banyak penggiat tapi minim orang pemerintahan, terutama pemerintahan kita. Jadi pemerintah mendengarkan suara kita gak?

Aku dkk juga ketemu manajemen Telkom yang bertugas menyiapkan keamanan infrastruktur jaringan untuk APEC dan IGF. Dia bangga dengan keberhasilan Telkom padahal masih banyak wilayah Indonesia yang belum terjangkau internet dan sinyal komunikasi.