Heboh Tes Keperawanan dan Perilaku Seks Remaja

my body
Wacana tes keperawanan terhadap siswi remaja di Indonesia terus bermunculan. Pada tahun 2007, mencuat kasus video mesum pelajar yang diperankan LF, mantan siswi SMAN 1 Sindang dan Jah, mantan siswa SMAN 1 Indramayu. Bupati Indramayu Irianto MS Syafiuddin kemudian menyampaikan bahwa dalam waktu dekat akan melakukan tes keperawanan. Irianto mengungkapkan, tes keperawanan tersebut dilakukan untuk mengetahui tingkat keperawanan di tingkat pelajar. Meski kemudian tes keperawanan tidak terlaksana, namun wacana terus bergulir.

Pada 30 Oktober 2012 Dinas Pendidikan Kabupaten Seluma dan Bengkulu Utara mewacanakan tes keperawanan dan kehamilan untuk masuk sekolah tingkat SMA yang langsung mendapat kecaman dan penolakan dari Jaringan Peduli Perempuan Bengkulu (JPPB)yang merupakan gabungan 12 LSM di Bengkulu. Wacana tes keperawanan itu sendiri berawal dari kasus pemecatan seorang siswi yang hamil di sebuah sekolah. “Kalau ini dilaksanakan, maka negara telah berkuasa dan mengkontrol tubuh warga negara yang perempuan. Secara psikologis, tes keperawanan tanpa persetujuan anak dan tanpa didampingi orang tua anak bisa menjadi peristiwa traumatis bagi mereka,” kata juru bicara JPPB.

Di tahun 2012, dua kasus berkaitan dengan tes keperawanan muncul yaitu pada 24 September 2012, di SMK Hasanudin, Eretan, Indramayu dan awal Mei 2012 di SMP Negeri 10 Kota Madiun. Dari dua kasus tersebut, seorang siswi perempuan dipaksa keluar dari sekolahnya karena dianggap tidak perawan dan seorang lainnya malu bersekolah. Tidak ada upaya yang serius dari pihak sekolah maupun lembaga lainnya untuk memberi hak jawab yang adil pada siswi tersebut, maupun upaya untuk pemenuhan hak-haknya sebagai siswa maupun sebagai manusia. Siswi perempuan tersebut dipaksa untuk melakukan tes keperawanan, diminta membuat surat pernyataan bahwa mereka masih perawan dan orangtua mereka dipanggil oleh pihak sekolah karena dianggap tidak mampu memberi pendidikan moral yang baik pada anak-anaknya. Akibatnya, siswi tersebut merasa bersalah, malu, dan trauma.

Terakhir pada Agustus 2013, Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Prabumulih, Sumatera Selatan, HM Rasyid. Dalam konfirmasinya terhadap pemberitaan di media, dia menjelaskan bahwa tes keperawanan merupakan usul dari orangtua siswi untuk menanggapi tuduhan dari tim tindak pidana perdagangan orang bahwa anaknya sudah tidak perawan. “Saya tanggapi itu dan dukung dilakukan tes keperawanan supaya tak terjadi fitnah,” ujar Rasyid kepada Tempo.

Namun media telah berhasil menggelembungkan kasus ini menjadi begitu besar untuk mendapatkan sensasi, mengejar rating, dan ujung-ujungnya demi keuntungan bisnis. Media telah memberi gambaran yang keliru mengenai seksualitas perempuan tanpa upaya mengkritisinya. Mitos keperawanan dikedepankan dan dilanggengkan untuk menciptakan kehebohan di masyarakat.

Media massa cetak dan online bisa menjadi lawan dan kawan bagi gerakan perempuan. Meskipun memiliki jaringan yang luas, jurnalis bukan orang yang paham mengenai berbagai isu. Mereka memiliki target untuk menulis dan mengemas berita sehingga meraih sebanyak mungkin pembaca dan pengiklan. Di sini pentingnya aktivis perempuan ikut dalam jaringan media komunitas online agar bisa memberi respon cepat dan memberi sudut pandang berbeda terhadap pemberitaan media arus utama.

Selain pemberitaan media yang bias gender, tenaga pendidik dan orangtua juga berperan memunculkan api isu yang dikipasi oleh media menjadi asap yang mengganggu. Dalam kasus terakhir di Kota Prabumulih, siswi yang tertangkap razia tindak pidana perdagangan orang, dituduh tidak perawan. Dalam konteks Indonesia, tuduhan tersebut sama dengan memberi stigma bahwa orang tersebut tidak bermoral. Orangtua merasa harga diri mereka tercoreng dan tanpa berpikir panjang mengusulkan tes keperawanan.

Sebagian tenaga pendidik dan orangtua menilai tes keperawanan sebagai jawaban paling mudah untuk mengatasi kebebasan perilaku seks siswa dan peningkatan korban perdagangan orang. Namun, seperti yang diungkapkan Dr. Andri Wanananda MS, pakar seksologi dari Universitas Tarumanegara, keperawanan perempuan seringkali dibesar-besarkan di luar proporsi sementara hal yang sama tidak dilakukan untuk keperjakaan laki-laki. Keperawanan perempuan dianggap jauh lebih mudah diketahui meskipun penyebabnya bervariasi.

Menurut dr. Wanananda, “Utuhnya selaput dara (hymen) harus diperiksa oleh dokter spesialis kebidanan atau bidan-ahli di klinik kebidanan melalui prosedur pemeriksaan intra-vaginal (pemeriksaan dalam).” Bagi banyak perempuan, pemeriksaan tersebut menimbulkan rasa tidak nyaman secara fisik dan psikis. Karena selain rasa sakit akibat masuknya alat-alat kedokteran ke dalam kelamin, tekanan sosial juga sangat besar. Hasil dari tes keperawanan justru rentan digunakan untuk melakukan diskriminasi dan kekerasan psikis terhadap perempuan. Bagaimana mereka bisa menjadi generasi yang berkualitas jika dididik dengan penuh represi dan diskriminasi?

Tenaga pendidik, kesehatan dan orangtua perlu memahami bahwa setiap perempuan, termasuk anak perempuan mereka, memiliki hak atas kepemilikan tubuh yang utuh, termasuk kapan dia akan menikah, kapan punya anak, berapa jumlah anak dan sebagainya. Siswi hamil juga memiliki hak bersekolah yang dilindungi oleh negara. Setiap orang, baik laki-laki dan perempuan, wajib menjaga kesehatan tubuhnya dan menghargai tubuh orang lain. Dalam upaya menjalankan kewajiban dan memenuhi hak atas tubuh, laki-laki dan perempuan perlu mengetahui informasi berkaitan dengan tubuh dan seksualitas mereka. Pemenuhan hak terhadap pendidikan seksual yang berkualitas memang tidak semudah dan tidak secepat melakukan tes keperawanan. Namun dampak jangka panjangnya sangat luas, termasuk memberi rasa percaya diri dan pemahaman terhadap aspek biologis tubuh.

Ketidakpahaman mengenai seksualitas akan berujung pada terus bergulirnya wacana tes keperawanan di Indonesia. Entah tahun depan, dua tahun lagi akan muncul wacana serupa di kota atau tempat lain yang disambut gempita oleh media sebagai sensasi belaka. Kejadian yang terus berulang seperti ini tidak bisa dibiarkan karena akan memberi ruang publikasi untuk menghancurkan martabat perempuan sebagai manusia. Ada baiknya aktivis pembela hak perempuan juga melakukan cek dan ricek terhadap berita yang muncul sehingga dapat memberi tanggapan yang juga proporsional.

27 Agustus 2013

Niken Lestari dan Maria Mustika (FAMM Indonesia)

Sumber:

http://tempo.co.id/hg/nusa/jawamadura/2007/08/16/brk,20070816-105735,id.html

http://www.tempo.co/read/news/2013/08/21/079505933/Ini-Tarik-Ulur-Tes-Keperawanan-Sejak-2007/1/2

http://edukasi.kompasiana.com/2012/10/27/memprihatinkan-dikeluarkan-sekolah-secara-sepihak-sampai-harus-tes-keperawanan-504010.html

http://surabaya.tribunnews.com/2012/06/01/sekolah-paksa-siswi-tes-keperawanan

http://health.detik.com/read/2012/09/19/135548/2025930/775/ada-nggak-ya-ciri-ciri-fisik-gadis-perawan-yang-bisa-terlihat?h771108bcj

http://www.tempo.co/read/news/2013/08/21/079506079/Soal-Tes-Keperawanan-Ini-Jawaban-HM-Rasyid

Leave a Reply to Anonymous Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *