Kongres Pertama Pergerakan Perempuan Mandiri

feminist_symbol_card
FAMM-I diundang oleh GEMAPALU (Gerakan Masyarakat Peduli Perempuan) Lumajang untuk menjadi saksi kongres mereka yang pertama pada tanggal 26-28 November 2011 bertempat di Dusun Krajan II, Desa Pasrujambe. Kongres ini merupakan bagian dari upaya menguatkan visi, merumuskan bentuk dan platform dampingan mereka yang tergabung dalam Pergerakan Perempuan Mandiri (PPARI) yang ada di Desa Pasrujambe. Salah satu aktivis di GEMAPALU, Anna Amalia, adalah alumnus semiloka MBI yang dilakukan FAMM-I.

Berdasarkan cerita mereka, Pergerakan Perempuan Mandiri lahir dan tumbuh dari situasi perempuan pedesaan yang terdiskriminasi dua kali yaitu sebagai perempuan yang tinggal di pedesaan. Awalnya merupakan forum komunikasi kader penggerak di tahun 2004 kemudian muncul gagasan untuk membentuk sebuah organisasi perempuan tingkat desa yang bercirikan kemandirian.
Sebagai organisasi induk, PPARI memayungi 6 kelompok perempuan yang tersebar di 6 dusun di Desa Pasrujambe, Kecamatan Pasrujambe, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Jumlah perempuan yang terlibat saat ini mencapai 300 orang yang proses konsolidasinya difasilitasi oleh PPARI setiap bulan.

Ada banyak program yang mereka lakukan, di antaranya pendidikan dan pelatihan bagi anggota, tabungan Rp 500 per hari, pelatihan membuat obat herbal, dll untuk meningkatkan kapasitas perempuan di Desa Pasrujambe. Perkembangan yang cepat, mendorong PPARI untuk melakukan diskusi mencari bentuk yang paling sesuai dengan kebutuhan perempuan di Desa Pasrujambe.

FAMM-I hanya mengikuti jalannya kongres sampai tanggal 27 November 2011. Berhubung kongres merupakan suatu hal yang baru bagi kelompok PPARI maka Mbak Ruth Indiah Rahayu atau akrab dipanggil Mbak Yuyut dari Perhimpunan Rakyat Pekerja hadir untuk memfasilitasi proses tersebut. Mbak Yuyut memberikan informasi mengenai konteks dari kondisi ekonomi, politik, sosial di tingkat nasional dan global. Dia memberi dorongan bahwa pembentukan kelompok di tingkat wilayah RT, dusun, sampai ke desa merupakan terobosan dalam gerakan sosial yang selama ini didominasi oleh gerakan berbasis sektoral.Ruth Indiah

MBI 2008
Namun, perubahan bukan sesuatu yang mudah bagi perempuan-perempuan pedesaan ini. Begitu juga dengan konsep Serikat dan kongres yang masih asing dalam pengalaman organisasi mereka. Sebagian berpikir bahwa perubahan tersebut akan dilakukan secara instan sehingga menolak. Padahal prosesnya bertahap. Setelah dijelaskan berkali-kali maka mereka dapat menerima. Itu pun sebagian dari mereka tampak belum yakin benar dan memerlukan waktu untuk dapat mengalami sendiri.

Selama mengikuti proses diskusi yang panjang, saya sangat mengagumi semangat dan kemauan mereka. Awalnya sebagian mereka disatukan oleh isu sengketa tanah yang menjadi bagian terpenting dalam kehidupan mereka sebagai petani. Proses itu membuka mata mereka terhadap masalah bersama yang dihadapi sehingga mulai melakukan pengorganisasian yang lebih mendalam. Proses ini perlu diikuti lebih lanjut dan sangat menarik untuk dapat ditulis dan direfleksikan oleh alumni FAMM yang langsung terjun melakukan pendampingan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *