Peningkatan Kesadaran Politik Perempuan Nias

2009 - Nias, I have to vote my husband

Pada tanggal 6 dan 7 April 2009 lalu, 2 lokakarya diselenggarakan oleh PESADA (Berliana Purba & Dina Lumbantobing) bersama JASS SEA (Niken Lestari). Keduanya dilakukan di Teluk Dalam, ibu kota Nias Selatan pada 6 April dan dihadiri oleh 69 perempuan dan 6 laki-laki. Sementara di Gunung Sitoli, ibukota Nias Induk, dilaksanakan pada 7 April dan dihadiri oleh 50 perempuan dan 2 laki-laki. Kedua lokakarya ini dimaksudkan untuk memberi informasi kepada perempuan pedesaan maupun di 2 kota kabupaten mengenai isu gender dalam politik dan pentingnya keterwakilan perempuan di dalam DPR serta mengenai kepemimpinan umumnya.

Kegiatan ini berkaitan dengan pelaksanaan PEMILU Legislatif Indonesia 9 April 2009. Peserta yang hadir bervariasi, mulai dari perwakilan kelompok Credit Union Perempuan dampingan PESADA, perwakilan perempuan dari lembaga agama (Kristend an Islam), hingga ke mahasiswi dan wakil Bhayangkari (organisasi Isteri Polisi).

Acara dimulai dengan perkenalan singkat dan membangun suasana melalui lagu “Perempuan Merdeka” yang dinyanyikan dengan penuh semangat. Selanjutnya, presentasi dimulai dengan bahasan mengenai budaya Nias yang disampaikan oleh seorang Dosen Perempuan di Teluk Dalam yaitu Ibu Sitasi Zagoto MS, yang menekankan kesulitan posisi perempuan Nias dalam adat dan akses ke pendidikan serta kesehatan. Menurut Ibu Zagoto, kebodohan dan kemiskinan ibarat dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan; maka hanya dengan pendidikan setiap orang mampu mencari solusi untuk keluar dari masalah kemiskinan, khususnya untuk masalah perempuan.

Dina Lumbantobing melanjutkan presentasi mengenai Perempuan dan hak-hak politik, yang sekaligus menyoroti minimnya perempuan di jabatan publik khususnya parlemen di Nias. SUMUT tercatat sebagai salah satu dari 9 Propinsi di Indonesia yang tidak memiliki wakil perempuan sebagai anggota DPD. Data juga menunjukkan bahwa sejak PEMILU pertama (1955) sampai 2004, komposisi perempuan di DPR RI hanya berkisar antara 5,9% (1955) sampai yang tertinggi 12,4% (1992).

Diskusi di Teluk Dalam berlangsung hangat dan cukup aktif. Mereka menyatakan kekhawatiran mereka atas kualitas PEMILU 2009. Pengalaman dalam PEMILU 2004 yang lalu serta berbagai gejala yang mereka lihat dan dengar di lapangan menunjukkan akan adanya ‘Serangan Fajar’, kecurangan Berita Acara, baik berupa jumlah suara yang dilaporkan maupun penandatanganan Berita Acara yang telah dipersiapkan terlebih dahulu (sebelum Pemilihan); juga banyaknya kemungkinan pemilih yang bisa memilih di lebih dari 1 TPS. Bahkan ada kecurigaan Petugas TPS tidak diperkenankan melaporkan penyimpangan.

Sebagian peserta sangat tidak yakin dengan PEMILU dan tidak yakin perempuan bisa merebut kursi di DPRD. Inilah beberapa kutipan reaksi dari para peserta:

Adat sangat kuat mengikat kami. Laki-laki sangat penting di masyarakat Nias. Bahkan ada kata khusus yang terkenal yaitu Amaga obala yang berarti Bapak adalah Tuhan.

Seorang caleg perempuan yang mempunyai saudara laki-laki yang juga maju sebagai CALEG, dinasehati keluarga besarnya sbb.: “Kau orang Nias dan dalam aturan adat, kita mendahulukan laki-laki. Kami meminta kau untuk mundur sebagai caleg dan mendukung saudara laki-laki.” Reaksi caleg perempuan adalah, tidak bersedia mundur. Sang caleg perempuan berkata: “Aku senang ada acara ini, jadi merasa lebih kuat karena meskipun parpol berbeda,dan keluarga besar menegurku, aku percaya dukungan sesama perempuan ada”.

“Sebenarnya kami pesimis dengan PEMILU ini, agak putus asa. Buat apa pemilu? Kami tahu persis hasil akhirnya karena kami sudah mendapat instruksi apa yang harus dipilih dan kami dengar BAP sudah dibuat sebelumnya. Untuk apa pemilu ini? Mau dibawa kemana pemilu ini? KPU Nisel sedang disidang karena melakukan “penggelapan suara” secara sistematis.

Di Gunung Sitoli, sedikit berbeda, peserta lebih sedikit karena takut dituduh menghadiri kampanye terselubung. Berliana Purba dan Rosilina Gulo (Staff Lapang PESADA Nias) mempresentasikan pendidikan pemilih (voter education) yang dilakukan sejak PILKADA di Kabupaten Dairi maupun di pulau Nias sendiri. Peserta di kota ini tidak seberani Teluk Dalam, Mereka sangat khawatir ketika salah satu personil PESADA membuka kenyataan bahwa Bupati Nias sangat pro the ruling party (Partai Demokrat) dan bahwa ada kesan sangat kuat untuk mengatur agar parpol tersebut menang. Hal ini ditampik oleh beberapa peserta dan hampir melakukan walk out! Secara khusus, beberapa hal menarik di Gunung Sitoli adalah debat yang panas antara mahasiswi dan calon DPRD, maupun keraguan perempuan dalam menentukan pilihan sebagai berikut, bahkan saran mengenai kepemimpinan di PESADA Nias, sbb.:

Seorang Guru SLTA yang sangat aktif tapi terlihat kurang nyaman dengan diskusi mengenai caleg perempuan, akhirnya berkata: “Sebenarnya saya mendukung caleg perempuan, mereka punya kekuatan. Tapi berhubung suamiku caleg, apapun yang dikatakan orang, aku harus pilih suamiku.” Mendengar ini, semua berteriak: huuuuuuuu…. (tanda tidak setuju).
Seorang mahasiswi muda berkata: “Kita bisa dukung caleg-caleg perempuan. Tapi saya mau tanya, apakah rumah tangga kalian beres? Bagaimana kalian mengurus DPR dan rumah tangga pada saat yang bersamaan? Ingat, pekerjaan rumah tangga adalah kodrat perempuan. Belum lagi banyaknya perempuan muda yang masuk keluar café di pinggiran pantai Nias, ini akibat kurangnya perhatian di keluarga. “. (pertanyaan ini direspons oleh seorang CALEG Perempuan dampingan PESADA yang menyesalkan betapa parahnya cara pandang seorang mahasiswi, sambil menjelaskan posisi perempuan yang dapat menegosiasi peran-peran di rumah tangga. Peran tersebut bisa dilakukan bersama, dan pertanyaan yang sama seharusnya juga tidak hanya ditanyakan kepada perempuan).

Seorang peserta diskusi berkomentar:

“Terlalu lambat kalian melakukan acara ini. Kami sudah terlalu banyak dikuasai adat dan dipengaruhi oleh parpol. Jadi susah kami bergerak. Lain kali, buatlah acara2 sejenis ini dan libatkan kami perempuan sebanyak-banyaknya”

Dalam diskusi kelompok di dua tempat itu, terangkat berbagai masalah seputar PEMILU dan harapan terhadap CALEG perempuan berdasarkan beberapa pertanyaan di bawah ini sbb.

a. Apa saja yang menjadi masalah kepemimpinan dan CALEG Perempuan di Nias?

  • Tidak tahu visi misi CALEG
  • Tidak mengenal caleg perempuan
  • Keterbatasan waktu
  • Pendidikan sangat terbatas
  • Masalah dana
  • Kurangnya kepercayaan dari masyarakat terhadap perempuan

b. Apa saja masalah dalam pemilu?

  • Kurang peka terhadap kebutuhan buta huruf
  • Money politic
  • Belum ada surat undangan C4
  • Pemilih yang sakit (anggota KPPS datang ke rumah)
  • rencana ‘serangan fajar’ (pemberian sogok kepada pemilih pagi2 sebelum ke TPS)
  • Terjadinya seorang pemilih memilih lebih dari satu kali di TPS lain
  • Kecurangan dalam membuat berita acara

c. Apa harapan kita kepada CALEG perempuan?

  • jangan mementingkan diri dan perhatikan kaum lemah dan tertindas
  • seandainya duduk kursi PRD perhatikan kaum Perempuan/angkat kaum Perempuan
  • Jangan lupa visi misinya
  • Tunjukan diri agar bisa menjadi pemimpin
  • Memimpin dengan rendah hati
  • Jangan omong kosong
  • jujur dan bisa mengangkat harkat perempuan didepan publik

d. Apa komiten kita dalam pemilihan CALEG Perempuan?

  • Mendoakan caleg Perempuan
  • Akan mensosialisasikan dan mengajak orang lain (remaja, tetangga, nenek-nenek, teman sekerja) untuk memilih perempuan
  • Apapun partainya pilih dan menangkan caleg Perempuan
  • Pertemuan ditutup dengan evaluasi umum yang secara umum menyatakan pentingnya acara seperti ini dan agar ada tindak lanjut, sehingga mata perempuan terbuka mengenai politik.

Pada akhir lokakarya, PESADA Nias berhasil masuk dalam berita RRI melalui wawancara mengenai kedua workshop, dengan secara hati-hati tidak menyinggung langsung tuduhan peserta akan kualitas PEMILU. Statement yang sedang disiapkan PESADA Nias tidak bisa dikeluarkan karena dianggap sebagai kampanye oleh pihak RRI Nias. Bahkan edaran untuk monitoring PEMILU sangat sulit untuk disiarkan dan membutuhkan lobby khusus. Edaran PESADA dan Jaringan Aktivis perempuan SUMUT yang merupakan himbauan untuk memonitor PEMILU juga tidak dapat direlease.

Meskipun demikian, para peserta berjanji untuk sedapat mungkin melakukan hal-hal di bawah ini (hasil diskusi umum):

  • CALEG perempuan harus dipilih dan dimenangkan, apapun parpolnya
  • Mengajak memilih perempuan memilih perempuan (remaja, tetangga, nenek-nenek, teman seiman, teman sekerja) – Daftar caleg perempuan Nias telah dimuat di Suara Perempuan versi bahasa Nias.

Catatan Fasilitator.
Issue perempuan dalam politik relatif sangat baru di Nias, bahkan issue perempuan dan gender secara umum. Sebagaimana suku-suku lain di Sumatera Utara, patriarkhi dalam suku Nias sangat kuat. Khususnya karena mereka berada di pulau yang terpisah dari pulau Sumatera. Hal ini ditambah dengan situasi pemerintah yang diduga korup, sementara Nias Selatan merupakan kabupaten termiskin di SUMUT.

Ada beberapa kasus politik yang tidak bisa diungkap, antara lain kematian wartawan yang membuka kasus korupsi, kekebalan Bupati yang tidak pernah bisa diseret ke Pengadilan, serta banyaknya kecenderungan penguasaan sistim administrasi pemilih oleh partai penguasa (Demokrat). Semua hal ini terungkap dengan penuh perdebatan di lokakarya.
Pesimisme di Nias Selatan kemudian terbukti. Nias Selatan menjadi salah satu dari 3 wilayah yang harus mengulang PEMILU karena berbagai kecurangan PEMILU, dan bahkan sampai saat ini jumlah akhir dari DPRD terpilih belum pasti karena masalah penghitungan. Kemungkinan besar para anggota KPU NISEL juga harus diganti dan hal ini sedang menjadi berita hangat di media. Sampai saat ini tidak jelas berapa perempuan terpilih di Nias Induk dan Selatan, dari 245 caleg perempuan yang terdaftar di PEMILU.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *